Kamis, 21 Januari 2021

KRITIK BUKAN BERARTI BENCI

SUDAH DARI DULU SAYA KRITISI

Bagi yang pernah membaca tulisan-tulisan saya dari mulai saya menulis di blog ini, pasti tahu dengan pasti saya memang cenderung menjadi oposisi dari pemerintahan negeri ini baik itu Era Pak SBY maupun Era Pak Jokowi sekarang ini. Jangan menyalahpahami orang yang menjadikan dirinya sebagai oposisi, tukang kritik dan seolah bermusuhan dan tidak manut atau menurut kepada pemerintah. Tidak dan sama sekali bukan itu. Saya mengkritisi pemerintah sebagai rasa peduli dan betapa cintanya saya kepada negeri ini. Kalau pemerintahan dijalankan dengan baik maka saya akan mengatakan baik dan tentu saja mencari sesuatu yang bisa jadi urun rembug kepada pemerintah guna lebih meningkatkan prestasi yang sudah ada. Akan tetapi saya melihat enam tahun terakhir sepertinya mengalami penurunan. Hutang yang sungguh mengkhawatirkan sudah mencapai enam ribu triliun rupiah.Banyak di antara kita yang tidak peduli dengan politik dan urusan negara. Seolah sudah ada yang mengurusnya dengan baik. Saya himbau bagi yang masih merasa apatis, apriori dan cuek mbebek kepada urusan negara, sekedar infromasi bila kita semua warga negara Indonesia (asli ataupun pribumi) tidak open dan tidak peduli dengan urusan negara, ketahuilah maka negara akan diurusi oleh mereka yang akan membuat kehidupan anda menjadi sempit dan boro-boro ingat kepada kalian. Enam tahun terakhir ini saya merasakan hal tersebut, maka jangan pernah anda menempatkan diri untuk tidak mau tahu tentang urusan negara. Kalau negara sudah berjalan dengan baik, silahkan anda bisa berhenti konsentrasi kepada urusan negara, tapi kalau sekarang anda berhenti maka jangan kalian menyesal bila anak cucu kalian berada di dalam kesulitan yang tidak masuk akal. Harga yang melambung tinggi, gaji kita yang tidak pernah naik, kebutuhan yang meningkat, pemiskinan dilakukan dengan sistematis, kebebasan berserikat, berkumpul dan berbicara sudah dibatasi, UU ITE yang bisa menjadikan anda dihukum di dunia nyata, COVID19 yang tidak kunjung ada kejelasannya, BPJS yang mencemaskan, dan berbagai ketidakadilan yang menjadikan rakyat kecil semakin menderita saja. Mengatakan hal yang sebenarnya terjadi ini bukan berarti saya memusuhi pemerintah, akan tetapi kami yang merasakan, kami yang mengalami, dan kami yang tidak punya kekuatan untuk merubah keadaan. Jadi dengan bersuara seperti ini semoga bisa menajdikan masukan dan bahan pertimbangan kepada mereka-mereka yang menjadi wakil rakyat dan yang mengemban amanah kekuasaan. Kita juga harus cerdas dalam mengungkapkan kekritisan kita - jerat UU ITE sangat menakutkan saya - terutama di jaman ini, jujur saja sangat berbeda dengan jaman Pak SBY, kebebasan yang dulu ada perlahan tapi pasti dipersempit ruang geraknya, asosiasi UU ITE menjadi "ujaran kebencian' pencemaran nama baik" itu sangat membuat ketar-ketir blogger seperti saya. Saya sudah mengkritisi pemerintahan era Pak SBY dulu waktu akan menaikkan BBM dan langkanya bahan untuk tahu dan tempe yaitu kedele dan beberapa kekurangan yang beliau jalankan. Dan saya tidak pernah mencela pribadi para pejabat dan wakil rakyat. Karena yang perlu dikritisi bukanlah pribadi akan tetapi kerja dan kebijakan yang beliau-beliau ambil. Kalau menyengsarakan rakyat, menyulitkan kita dan menguntungkan orang asing, apa boleh buat pasti saya ingatkan, semampu saya. Kritik bukan membenci akan tetapi rasa cinta saya kepada negeri ini. 

PEJABAT PUBLIK TIDAKLAH BAPER

Kalau anda sudah ingin dan bertekad dan Allah SWT kabulkan menjadi pejabat publik, anda tidak boleh baper dan sensi nan emosian. Karena begitu berhadapan dengan publik sudah dipastikan tidak ada orang yang bisa membahagiakan dan menyenangkan semua orang. Tidak mungkin. Akan tetapi bila ada yang berbeda dan yang terlihat sinis ada yang seolah benci dan anda merasa salah terus, itulah resiko dari menjadi pejabat publik. Kalau tidak mau dengan nuansa yang mengikuti sepertinya membuat emosi jiwa, ya jangan pernah menjadi pejabat publik. Lalu apakah harus cuek dengan kritik? Bukan, kalau ada kritik ya alangkah bijaknya kalau tidak dilaporkan kepada pihak yang berwajib. Dan saya salah satu orang yang tidak setuju dengan UU ITE menjadi alat untuk menjerat perbedaan pendapat ataupun salah arti ataupun keplesetnya seseorang sehingga seolah "menghina" pribadi tertentu lalu dikenakan dan "didownload" menjadi hukum perdata bahkan sepertinya bisa menjadi hukum pidana. Ada apa dengan UU ITE? Bukankah perbedaan pendapat dan kesalahan beropini yang kadang disebut menyebar hoaks, sedemikian rupa bisa MASUK menjadi TRANSAKSI ELEKTRONIK? Tujuan UU ITE awalnya untuk mendeteksi kriminal yang menggunakan fasilitas elektronik/on-line? Bukan untuk ornag yang berbeda pendapat dan seolah menyebar hoaks? Tapi yang terjadi sekarang anda semua sudah pasti mengetahui dengan pasti kondisi faktualnya bukan? Kalau pejabat publik tidak mau dikritisi, tidak mau diingatkan dan maunya dihargai dan dihormati, sebaiknya anda yang berperilaku demikian sebaiknya mengundurkan diri dan ganti dengan orang yang legowo dengan kritik dari orang yang mereka pimpin atau wakili. Kalau mengatakan rakyat enak bisanya hanya mengkritisi beri dong pejabat publik solusi. Logis? Tidak lah, kami rakyat itu memilih, membayar pajak, menggaji pejabat publik dengan hal itu, mengapa HAK kami mengkritisi tidak diperkenankan? Malah dianggap nyinyir tanpa ada solusi. Begini, yang dibayar negara siapa? Yang membayar pejabat publik siapa? Yang dibayar adalah pejabat publik untuk membuat SOLUSI, bukan rakyat yang sudah membayar dan menggajinya. Untuk apa dibayar kalau tidak mau dan tidak mampu menghasilkan solusi, Rakyat nyinyir memang menjadi HAK nya, karena dia yang membayar para pejabat dan wakil rakyat. Kalau pejabat publik tidak menerima kritik dan tidak bisa menghasilkan solusi seharusnya malu dan mundur saja, biar ada orang lain yang bisa menjabat dengan baik dan benar. UU Penghinaan kepada lambang negara ( Presiden) juga saya tidak setuju dipakai kembali. Kata para ahli UU ITE dan UU itu termasuk UU KARET. Yang terlihat menghina dan yang terlihat menyebar hoaks apakah mereka benar-benar menghina dan menyebar hoaks? Yang saya sayangkan adalah adanya pelapor yang seolah ingin rakyat kecil ditangkap dan dibredel semuanya, terutama yang vokal dan jaman sekarang menamakan dirinya sebagai oposisi (yang tidak sependapat dengan pemerintahan saat ini). Saya tidak akan membahas politik terlalu dalam karena, urusan politik sudah ada yang membahasnya baik di webinar, zoom dan diskusi on-line maupun off-line dan hasilnya masih bisa kita saksikan di youtube.

KESIMPULAN

Orang yang sayang adalah yang mau mengingatkan, bukan yang masa bodoh dan membiarkan bangsa dan negara ini terjerumus, terpecah dan terkotak-kotak. Utang negara yang mengkhawatirkan saya, ketidakadilan hukum yang begitu kentara, TKA berdatangan di musim COVID19, kerumunan yang tidak mematuhi porkes Covid19, harga yang merangkak naik, iuran BPJS yang sudah nunggak, kuota untuk daring anak-anak sekolah yang harus kita beli sendiri, dan bencana alam yang silih berganti, dan bencana kemanusiaan berupa korupsi dana yang seharusnya diberikan kepada rakyat kecil yang sekarang ini sangat membutuhkan. Kritis bukan berarti menjadi musuh negara, kritis bukan berarti membenci pribadi pejabat, kritis bukan berarti memaksakan kehendak dan pendapat. Kritis adalah salah satu reaksi rasa cinta dan kepedulian rakyat kepada kondisi negara dan perjalanan negara ini. Masing-masing harus saling menyayangi, jangan selalu mengedepankan lapor dan ditindak oleh yang berwajib, bukankah budaya dari leluhur kita adalah kekeluargaan? Kalau sudah terbukti kriminal dan "subversif" istilah jaman dulu, barulah itu masalah yang serius, wajar dan bahkan malah menjadi wajib untuk dilaporkan. Kalau kita memang tidak sempurna, terus ada orang yang mengatakan dan mengingatkan kesalahan kita apakah tega kita menjeratnya dengan lapor kepada pihak yang berwajib? Kedewasaan seseorang sangat menentukan tindakan berikutnya, terkait kritik dan "terlihat seperti menghinanya". Penjara itu untuk para kriminal bukan untuk orang yang berbeda pendapat. 


Senin, 28 Desember 2020

PERJALANAN PANJANG BANGSA INDONESIA

 SEJARAH YANG PERNAH KALIAN LUPAKAN

Indonesia merdeka tahun 1945 dan banyak yang mengatakan bahwa bangsa Indonesia dijajah Belanda (VOC) selama tiga ratus lima puluh tahun atau tiga setengah abad. Adakah ini tidak terdengar janggal oleh anda? Fakta dan data sejarah memang Belanda dengan VOC nya bercokol di Hindia Belanda kurang lebih selama tiga ratus lima puluh tahun. Akan tetapi adakah Indonesia sudah ada waktu itu? Belum ada dan Indonesia baru disebutkan secara serentak pada waktu Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Nah kalau memang kita hitung mulai ada Indonesia sejak saat itu berarti kita hanya dicengkeram Belanda selama kurang lebih empat belas tahun saja. Pun demikian dalam mencoba menjajah Nusantara - pra Indonesia - apakah benar-benar Belanda melalui VOC menguasai kendali secara mutlak? Ternyata tidak, perlawanan tidak pernah surut dari jaman Portugis datang tahun 1511 hingga Jepang mengkanvaskan VOC pada tahun 1942. Negeri ini adalah negeri pejuang, jadi tidak pernah terjajah secara total, dan bukti nyata di lapangan adalah bahwa tidak ada satupun daerah yang betul-betul menjadi "Belanda", termasuk di Depok pun tidak seperti kebanyakan jajahan Belanda seperti Suriname - yang berbahasa Belanda - jadi kita tidak boleh merasa minder dengan sebutan negeri jajahan VOC atau Jajahan Belanda, pada kenyataanya BUKAN negeri jajahan akan tetapi negeri JIHAD melawan penjajah termasuk Inggris, Perancis, Portugis, Sepanyol dan Belanda. Kita tidak pernah menjadi seperti mereka dalam kebudayaan ataupun dalam kesehariannya, bangsa ini tetap saja menjadi Bangsa Indonesia yang terdiri dari banyak suku dan masih saja terlihat ciri asli dari suku-suku di Indonesia. Kalau mau mengatakan nama Indonesia dicengkeram Belanda hanya kurang lebih empat belas tahun, itu pun belum mendklarasikan diri sebagai Negara Republik Indonesia. Artinya Belanda hengkang dari bumi pertiwi tahun 1942 dan kita merdeka tahun 1945. Indonesia pernahkah dijajah? Oh ternyata tidak. Ini perlu dicatat dalam pemikiran dan mindset semua bangsa ini. Sejarah yang membuat diri bangsa ini menjadi minder karena disebut terus pernah dijajah Belanda Kompeni selama 350 tahun, yang ternyata dengan hitungan yang sangat sederhana dan semua orang pastilah paham bahwa NKRI tidak pernah dijajah Belanda, kalau diserang oleh Sekutu dan NICA memag pernah, itulah mengapa Belanda sampai saat ini tidak pernah mengakui kemerdekaan NKRI yang bertanggal 17 Agustus 1945. Mengapa demikian? Menurut pakar sejarah bila Belanda mengakui kemerdekaan NKRI tanggal 17 Agustus 1945 maka Belanda akan menjadi Penjahat Perang dengan melakukan Agresi dua kali kepada negara yang "berdaulat" NKRI ini pada tahun 1948. Penjahat perang bukan sesuatu yang terhormat bagi pergaulan di dunia ini. Dan kita dicekoki dengan hal-hal yang membuat kita minder, negeri bekas jajahan Belanda. Tidak benar NKRI bukan jajahan Belanda, mereka menjajah Hindia Belanda (India Timur), bukan NKRI yang merdeka tahun 1945. Lalu yang dicoba dijajah adalah kerajaan dan kesultanan yang telah merdeka berabad-abad di Nusantara ini, apakah mereka para kerajaan dan kesultanan dijajah VOC? Sebagian ya dan kebanyakan tidak. Keterangan yang bisa saya jelaskan mengenai bangsa yang diajajah oleh bangsa lain tidak terdapat pada bangsa Indonesia ini apalagi NKRI. Kita bisa melihat Australia dengan pribumi Aborigin, Selandia Baru dengan pribumi Maori, dan Amerika dengan suku pribumi Indian. Nah contoh negara yang terjajah dengan nyata bisa dilihat dari ketiga tempat tersebut. Budaya boomerang sudah tidak dijumpai dengan bebas dan bahkan Orang Aborigin tidak diperlakukan seperti sang penjajah, kabar yang terdengar mereka seperti ditempatkan disuatu cagar budaya. Dan kesempatan untuk memperoleh hak dan kesempatan menjadi hal yang mustahil untuk sebagian besar orang Aborigin. Lihat juga orang Amerika dan Orang Selandia Baru, bukankah tidak seperti orang Jawa, Sunda, Batak, Maluku, Papua, Minang dan lain sebagainya? Apa yang membedakan kita dengan bangsa yang benar-benar terjajah? Jati diri bangsa ini masih melekat hingga saat ini. Saya orang Jawa masih berbudaya, berbicara dan bahkan makan masakan orang Jawa, demikian yang Sunda, Minang dan semua suku bangsa di negeri ini. Tidak pernah ada yang terjajah dengan total. Yang terjadi memang NKRI kita pernah diserang oleh Sekutu dan Belanda. Sekutu dengan peristiwa 10 Nopember 1945 dan Belanda dengan dua agresinya tahun 1948. Kalau saya mengatakan mereka adalah penjahat perang. Itulah mengapa bangsa ini dibenci oleh bangsa penjajah. Mengapa? Karena darah bangsa ini adalah darah petarung yang sungguh ajaib, orang-orang kulit putih berusaha menguasai dan menjajah bangsa ini namun tidak pernah berhasil, Bukti sudah saya sebutkan di atas perbedaan bangsa yang terjajah dan bangsa yang bertempur untuk mempertahankan dirinya. Saya mengatakan cikal bakal NKRI telah berjihad dari tahun 1511 hingga tahun 1942. Jadi anda harus menegakkan kepada dan jangan minder dengan kegagahan nenek moyang kita yang ternyata mempunyai kecerdasan di atas rata-rata dan nyali yang sedemikian besar. Kalau kita melihat Nusantara ini, termasuk Jawa di dalamnya maka bisa saya mengatakan bahwa bangsa ini sudah sangat maju peradabannya ditandai dengan kita mempunyai HURUF (alphabet) sendiri. Ketika bangsa ini sudah mempunyai huruf sendiri maka negara Eropa belum mempunyai huruf dan angka sehingga kedatangan bangsa Romawi. Sementara itu negeri Nusantara telah mempunyai huruf dan tentu saja bahasa sendiri. Saya menulis panjang lebar begini sebenarnya hanya untuk mengingatkan diri kita semua bahwa kita bukan bangsa pecundang, akan tetapi bangsa unggul yang terlalu baik sehingga niat licik dan jahat kaum imperialis kita tidak mencurigainya. Bangsa yang cinta damai ini ditipu dan berusaha dipaksa menjadi budak jajahan mereka, dan ternyata mereka tidak pernah berhasil.

TULISAN DAN SEJARAH YANG DISELEWENGKAN

Apakah bangsa penjajah diam dengan "kekalahan hakiki" meerka? Tidak, mereka tidak bisa tinggal diam dengan alot dan digdayanya bangsa ini dalam memberontak dan mempertahankan tanah tumpahdarahnya. Yang dilakukan oleh mereka adalah taktik adu-domba dan politik belah bambu dengan memanfaatkan para pengkhianat yang oleh orang jawa disebut sebagai londo ireng (belanda hitam, KNIL, marsose), dan dari bangsa Cina yang di sebut Po An Tui. Mereka bahkan lebih keji dan kejam daripada pasukan Belanda sendiri. Dengan politik yang busuk dan tidak berperikemanusiaan pun Belanda tetap tidak pernah berhasil menundukkan bangsa ini. Sehingga mereka banyak mengarng buku yang jelas-jelas mendiskreditkan sejarah kegemilangan bangsa ini. Salah satu yang terkenal adalah bahwa bangsa ini dijajah selama 350 tahun. Yang benar adalah Belanda bersuaha selama lebih dari tigaratus tahun untuk menjajah bangsa ini, yang berhasil dikuasai hanya para antek dan pengkhianat saja. Bangsa ini secara umum adalah Berjuang dalam bahasa Islam disebut Berjihad selama lebih dari tigaratus lima puluh tahun. Kemudian Belanda memanfaatkan para misionaris dan zendingnya untuk berperang urat syaraf hingga bangsa inipun ada yang beralih agama menjadi Kristen Protestan, Katholik dan keluar dari Islam atapun Himdu-Budha. Dan jumlahnya hanyalah sedikit dibandingkan dengan mereka yang masih original mengikuti agama aslinya yakni Hindu-Budha dan kemudian Islam. Penyelewengan sejarah ini memang disengaja untuk membuat nyali penerus para pejuang ini menjadi ciut. Sehingga seolah-olah kita dipencundangi mereka, padahal kenyataannya bangsa ini baik-baik saja, malah bisa saya katakan lebih "tertindas" oleh bangsanya sendiri kalau yang saya rasakan saat ini. Banyak babad, sejarah, serat, legenda bahkan data-data yang berhubungan dengan kegemilangan dan kejayaan atau minimal kegigihan bangsa ini, yang diputarbalikkan. Yang paling tenar adalah perang Diponegoro (1825-1830) yang mereka katakan Diponegoro kalah dengan sistem benteng. Padahal hanya terdesak saja dan belum kalah akan tetapi karena kelicikan Belanda lah yang mengajak perundingan sehingga ketika ditangkap Beliau tidak melawan, karena memang tidak ada ceritanya Pangeran Diponegoro membunuh lawan rundingnya. Belanda bangkrut kurang lehih 25 juta gulden atau sekitar sepuluh tahun pendapatan Belanda waktu itu. Sultan Hasanudin di Sulawesi dikalahkan dengan cara yang sama, Tuanku Imam Bonjol pun di-adudomba dengan kaum adat. Dan sejarah yang kelam mereka tidak diceritakan, yang mereka ceritakan adalah kemenangan mereka, padahal kita tahu mereka menangpun dengan cara yang curang. Yang terbesar dari penyelewengan sejarah adalah yang dilakukan oleh Christian Snouck Hurgronje, karena menjadi kaum muslimin palsu bernama Abdul Ghofar dan memperdayai bangsa ini, hingga akhirnya Belanda berhasil mengalahkan Aceh pada awal abad 19. Kalaulah Aceh yang disebut sebagai Indonesia maka bisa dikatakan bahwa Belanda "menjajah" bangsa ini hanya sekitar 40 atau 50 tahun saja, bukan 350 tahun. Dan Aceh pun tidak pernah terjajah secara mutlak, karena suku dan adat, agama rakyat Aceh masih lestari hingga detik ini. Peperangan pemikiran mereka Belanda lakukan hingga detik ini. Bahkan Belanda sampai detik ini belum mengakui kemerdekaan NKRI, 17 Agustus 1945 itu. Yang mengherankan adanya Dubes di kedua negara. Apakah Belanda mengakui NKRI yang merdeka melalui KMB (Konferensi Meja Bundar)? Entahlah, karena KMB terjadi setelah Belanda melakukan dua Agresi. Masuk akal kemerdekaan yang mereka "berikan" pastilah dengan tidak ikhlas setelah adanya KMB tersebut. Bisa anda googling syarat-syarat dan ketentuan KMB yang ada hubungan dengan "pemberian kemerdekaan" NKRI tersebut. Lagi-lagi ini adalah penyelewengan sejarah yang dilakukan kaum imperialis. Sudah saatnya bangsa ini melihat sejarah yang benar, ayo kita gali, ayo kita sadari bahwa NKRI ini adalah bangsa yang merdeka dari sebelum NKRI maupun setelahnya. Jadi karangan-karangan yang bertujuan menjatuhkan mental bangsa ini harus segera diluruskan. Banyak pakar sejarah yang lahir dari bangsa ini, semoga mereka segera memberi pencerahan tentang apa yang sejatinya terjadi dibalik isu "dijajah selama tiga setengah abad" tersebut. 

SOLUSI

Membicarakan ini bukan berarti kita memusuhi mereka - kaum imperialis secara personal - akan tetapi memusuhi apapun yang dilakukan dalam rangka memaksakan kehendak dan merampas hak sebagai bangsa merdeka. Dan ada dua ras penjajah di dunia ini yakni ras kulit putih dan ras kulit kuning. Dan keduanya sudah berusaha menjajah bangsa ini. Hal yang mengganggu saya adalah bahwa penjajahan secara fisik memang kita tidak lagi, akan tetapi penjajahan secara pemikiran, ekonomi dan kebudayaan, rasa-rasanya mereka tidak akan pernah melepaskan kita. Penjajah kita dari Asia adalah Jepang dan dari Eropa : Belanda, Perancis, Inggris, Portugis dan Sepanyol. Produk-produk mereka bukankah tidak asing bagi kita? Kendaraan, kosmetik, elektronik dan sistem pendidikan, sistem pemikiran dan masih banyak kebudayaan mereka yang kita telan dengan tanpa perhitungan. Kita belum sepenuhnya merdeka bukan? Kekinian bangsa ini sekali lagi sedang dicoba dianeksasi secara ekonomi dan jerat hutang oleh Cina. Untuk lebih jelasnya anda bisa melihat, googling, merasakan sendiri - karena berada dalam jaman kita sekarang ini - bahwa kita dibuat tidak bisa lepas dari mereka. Mereka mungkin tidak invasi secara militer akan tetapi secara ekonomi pastilah mereka rencanakan dengan jerat hutang dan pembangunan infrastruktur. Di tambah lagi Cina diaspora ternyata menjadi sesuatu yang mengganggu di negeri ini. Solusi untuk merdeka adalah jangan beli produk mereka secara berangsur, setelah ekonomi rakyat pribumi kuat maka jangan beli produk mereka secara total. Bukankah banyak dari mereka yang mempunyai gerai-mart-pabrik yang mempekerjakan pribumi? Itulah ketika mereka sudah bangkrut dan gulung tikar KITA BELI. Dan karyawan tetap tidak usah dipindahkan biasa saja, kepemilikan saja yang berpindah dan Cina diaspora kepada Konglomerat Pribumi. Ini bukan pemikiran radikal akan tetapi ini pemikiran rasional, bagi yang sudah tidak betah lagi dengan kondisi pribumi yang selalu terpinggirkan dan selalu menjadi obyek pasar dan obyek suara dalam pemilu. Berpikir sedikit saja, belilah apapun dari warung saudara kita - terlihat lebih mahal akan tetapi uang belanja kita bisa menguatkan mereka - keuntungannya kita kadang bisa kasbon dan utang. Pasar tradisional harga bisa kita tawar, Kalau kondisi warung dan pasar tradisional belum bagus adalah tugas dari pemerintah setempat untuk memperbaikinya. Dan bila sebagian besar dari kita menyadari kekuatan kita yang sesungguhnya maka kita akan merdeka sekali lagi. Kalau anda pernah melihat - atau coba cari di internet - konglomerat di negara mana saja pastilah mayoritas adalah Pribuminya, mengapa di negara kita bukan? Apakah pertanyaan ini memecah belah NKRI? Apakah tidak pernah mengusik akal sehat anda? Apakah sebuah kejahatan membeli dari warung saudaranya? Apakah sebuah perusak persatuan bila pribumi ingin menjadi konglomerat di tanah nenek moyangnya sendiri seperti bangsa dan negara lain? Tidak perlu emosi dan tidak perlu adanya kekerasan untuk kita merdeka sekali lagi, bebaskan dulu cara pandang anda mengenai diri anda yang masuk dalam bangsa Indonesia ini. Berbicara SARA di tengah keragaman bangsa ini menjadi sebuah keniscayaan. Yang tidak diperbolehkan adalah menghina SARA, memecah belah SARA dan berbuat tidak adil atas nama SARA. Toleransi bangsa ini sudah khatam. Jadi jangan minder wahai saudaraku, kalian adalah calon konglomerat di NKRI ini, kalau kalian mau berpikir dan mau bersatu. Semoga tulisan singkat ini bisa menjadi bahan pemikiran bersama. 

Minggu, 20 Desember 2020

AKHIR TAHUN 2020

 TETAP SEMANGAT MENUJU TAHUN 2021

Tahun kemarin adalah tahun kembar dan tahun yang akan datang adalah tahun kakak beradik. Kakaknya tahun 20 dan adiknya tahun 21/ Tetapi tahun besok mempunyai kesamaan dengan abad yakni abad 21/ Sehingga tahun-tahun yang alhamdulillah kita lalui ini memang mengandung makna-makna yang unik. Kalau kita mau berpikir sebenarnya yang bertambah tua itu waktu apa kita? Yang bertambah dekat dengan ajal waktu apa kita? Yang bertambah degradasi dan mengalamai degenerasi waktu apa kita? Ini pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Cukup direnungkan dan dipikirkan ulang, selanjutnya bisa digunakan untuk menjalani hari-hari tersisa dari rangkaian detik-detik yang sudah dan akan kita lewati. Kita adalah manusia yang terbentuk dari gugusan detik-detik dan akan berhenti menjadi manusia di dunia ini pun karena detik-detik. Yang saya tahu ajal tidak akan kurang dan lebih tiap detiknya, eksak!. Keunikan manusia (dan bangsa jin) dibandingkan dengan makhluk lain adalah bahwa kita semua menyadari akan ajal kita masing-masing bukan TEPAT nya kapan akan tetapi tentang PASTI datangnya. Karena makhluk lain hewan, tumbuhan tidak pernah memikirkan hal tersebut. Karena memang piranti yang diberikan Allah SWT tidak diberikan kepada mereka.Piranti puncak dari manusia (dan bangsa jin) adalah akal dan hati, yang nantinya akan menjadi wadah dan hardware untuk menjalankan apa yang disebut sebagai "beban/taklif" kepada manusia setelah memasuki masa akil balig, sering disebut sebagai mukallaf. Prinsip dasar antara manusia dan bangsa jin sama, untuk beribadah kepada Allah SWT hanya saja pada jaman kita sekarang ini, manusialah yang Allah SWT takdirkan untuk menjadi khalifah NYA di bumi ini, karena sebagian riwayat telah menuturkan bahwa masa kekhalifahan bangsa jin sudah berakhir jauh sebelum Bapak Manusia Nabi Adam AS diutus ke bumi. Salah satu legasi dari kekhalifahan bangsa jin adalah iblis, yang akhirnya malah menjadi biang kerok dan hambatan manusia beriman untuk memakmurkan bumi ini dengan jalan yang diridhoi dan sesuai petunjuk NYA. Intinya manusialah sekarang yang menjadi penguasa bumi, bukan untuk ditelantarkan, bukan untuk dirusak, bukan untuk dieksploitasi secara berlebihan dan bukan untuk dibiarkan tanpa bermanfaat. Dan sejak beberapa dekade ini terasa sekali banyak manusia yang lupa dan tidak menyadari bahwa dirinya sudah bertindak seperti buka seorang kholifah, memperlakukan bumi dengan tidak adil. Akibatnya berbalik kepada kita sendiri, iklim yang tidak bersahabat - tadinya bersahabat - pemanasan global - naik hampir 1,5 derajat selsius setiap tahunnya  - dan angka itu kata para ilmuwan bisa saja meningkat drastis, sumpek dan gerahnya ekosistem bumi karena ketidaksadaran manusia dalam mengelola dan memakmurkan bumi ini. Maka saya mengajak untuk menanam pohon, minimal dalam pot di rumah. Jangan sampai kita punah karena terlalu mengandalkan orang lain. 

MENUJU TAHUN 2021

Tinggal menghitung hari, sekitar sepuluh hari lagi dari saya posting tulisan ini. Semoga kita semua bisa lebih memahami makna dari umur, usia dan sisa umur kita masing-masing. Karena ajal bukan sistem antri berurutan artinya yang nomornya kecil ajalnya duluan dan yang nomornya besar belakangan, bukan seperti itu. Akan tetapi ajal adalah sesuatu yang unik dan hanya ada satu untuk tiap individu manusia. Dan tiap-tiap yang bernyawa dan mempunyai nafas pasti akan mati. Ini mutlak, tidak ada yang abadi di bumi ini. Hubungannya dengan angka dan umur, sebetulnya hanya sekedar pengingat. Karena angka bisa dibuat dan bahkan bisa dipalsukan sedangkan umur yang sebenarnya tetaplah berjalan, sebagaimana ajalpun tetap sama tidak kurang tidak lebih. Selamat tahun baru 2021 semoga dengan berkurangnya jatah kita di bumi ini menjadikan kehidupan kita lebih baik atau kita lebih mau berdamai dengan kenyataan bahwa tanggungjawab kita semakin berat, dan kemampuan kita perlahan namun pasti akan bertambah kemudian berkurang diiringi sang waktu. Semoga tahun depan COVID19 - sudah berumur hampir dua tahun - segera bisa diatasi dengan tuntas.

Senin, 26 Maret 2018

TERGELITIK INDONESIA YANG "BUBAR 2030"

INDONESIA ADALAH KEAJAIBAN YANG DIBERIKAN TUHAN DI BUMI INI
Jangan malu menjadi orang Indonesia, jangan mau dipecah belah, dan jangan mau dikuasai secara mental dan moral oleh bangsa lain yang bertujuan untuk memiliki negeri surga ini. Untaian jamrud khatulistiwa ini, seharusnya dan secepatnya harus dijadikan "milik rakyat Indonesia sendiri", dan untuk mewujudkannya adalah tugas dari negara untuk mengaturnya. Bukan undang-undang yang ada campurtangan dari negeri dan kepentingan bangsa lain. Tetapi murni aspirasi dan amanat penderitaan rakyat Indonesia. Murni, luhur, adiluhung dan mencerminkan pribadi bangsa ini yang berperadaban sangat maju jauh-jauh sebelum ditemukannya revolusi Industri di Eropa sana. Dengan berbagai keunggulan dari semua suku bangsa yang ada di Indonesia ini, tidak ada yang berusaha untuk mengunggulkan dirinya demi saudaranya yang lain. Meletakan ego dan harga diri (memang semua rakyat Indonesia adalah sangat berharga) - demi persatuan dan kesatuan bangsa ini, Indonesia di tahun 70-80 an saja, orang masih  dunia belum begitu menyadari akan kekuatan dan potensi serta "isi dapur" negara dan bangsa ini, mereka hanya melihat secuil dari bagian bangsa yang sangat besar ini yakni Bali atau Pulau Bali - pulau dewata di Indonesia, terkenal karena keindahan dan budaya nya - merekapun terkagum-kagum dan semakin hari semakin banyak "bagian-bagian istimewa" dari negara Indonesia ini. Bali semakin tenar di dunia, di ujung timur sana ada Raja Ampat kawasan laut eksotis yang sangat indah, termasuk budaya saudara kita yang disana pun sangat bagus. Melihat Indonesia yang begitu ajaib mereka bahkan ada yang dengan senang hati menjadi WNI dan tidak mau pulang ke negara asal mereka. Banyak sekali hal itu terjadi. Adalah seperti sebuah hipnotis keindahan negara Indonesia ini, membuat bangsa-bangsa imperialis ngiler ingin menguasai atau berkuasa lebih lama di nusantara ini - sebelum menjadi Indonesia kita tenar dengan sebutan nusantara - bangsa belanda, portugis, sepanyol dan Inggris, serta percobaan oleh bangsa Mongol (kubilaikhan - jaman raja kertanegara), ini karena mereka sebenarnya sangat tahu dan sangat yakin bahwa inilah syurga dunia, keajaiban dunia yang Tuhan Yang Maha Esa ciptakan di bumi. Negara maritim terbaik di bumi, negara dengan iklim terbaik di bumi, negara dengan suhu yang paling stabil di bumi - tanpa teknologi kita bisa hidup di Indonesia, berbeda dengan yang beriklim ekstrim, gurun pasir dan padang es misalnya - dan anda bisa buktikan masih ada saudara kita yang masih nomaden di pedalaman sumatera dan kalimantan, tanpa listrik, tanpa phone cell mereka masih bisa bertahan hingga hari ini dari berabad-abad yang lalu. Rangkuman keindahan dan keajaiban ini ditambah lagi mereka mau bersatu dalam wadah NKRI. Menjadikan bangsa ini adalah bangsa yang berhasil "merebut kemerdekaan",  menampakkan jatidiri dan mempunyai "konsensus/persetujuan umum" untuk bersatu dengan tidak menghilangkan ciri dan identitas kesukuan mereka. Ini adalah keajaiban lainnya.


MUNGKINKAH MUSUH BANGSA INI ADA YANG TIDAK RELA ?
Apakah bangsa Indonesia tidak punya musuh ? Indonesia adalah bangsa yang cinta damai, anti permusuhan tetapi lebih mencintai kemerdekaan. Jadi kalau ada bangsa seperti jaman Belanda, Jepang, atau sebelum itu, maka rakyat Indonesia - rakat nusantara - tidak akan tinggal diam melenyapkan kelalilman dan penindasan yang ada di atas bumi pertiwi ini. Dan itu sudah dibuktikan dari jaman Raja Kerta Negara yang dilakukan oleh Raden Wijaya. Mengusir bangsa Mongol dari bumi pertiwi, dan para pahlawan pengusir Portugis, Belanda, Sepanyol dari bumi nusantara ini. Bukti sudah jutaan rakyat Indonesia - atau rakyat nusantara - menjadi pahwalawan yang gugur, itu bukti valid bahwasanya putra-putri nusantara memang sangat mencintai tanah tumpah darahnya. Kita sudah menjadi bangsa yang merdeka, berusaha untuk cinta damai dengan berbagai organisasi dunia yang menjamin ke arah tersebut tahun dahulu kita menjadi negara non-blok, menjadi anggota PBB dengan mengirim pasukan perdamaian ke penjuru dunia. Akan tetapi musuh dari bangsa ini memang tidak akan mungkin rela melihat bangsa ini menjadi hebat, menjadi kuat dan menjadi role model bagi homogenitas dalam berbangsa, yang mereka tidak rela adalah bila bangsa Indonesia menjadi kuat dan menjadi pandai dan maju. Dengan berbagai macam cara yang sangat halus namun membuat bangsa ini tidak berdaya, terpedaya dan terpesona, padahal bangsa ini sudah masuk kendali musuh-musuh kita. Sekali lagi dengan tidak terasa. Pernahkah anda melihat dan merasakan adanya sesuatu yang membuat diri dan bangsa ini "perasaan" tidak ada bagus-bagusnya ? Kita lebih cinta produksi barang dan jasa dari luar negeri, kita lebih memandang bangsa lain lebih maju dan lain sebagainya. Mengapa hal itu terjadi ? Karena kita memang sudah tidak lagi menjadi bangsa Indonesia sejati yang berdikari dalam kedaulatan negara, ekonomi dan kebudayaan.Dan itu sudah terjadi sekarang ini. Mindset atau pola pikir bangsa ini menjadi bangsa yang tidak kuat dalam menghadapi proses, maunya instan - korupsi dan nepotisme, plagiarisme (latah) adalah salah satu buktinya - menganut paham kapitalis yang kental, terbawa arus individualis dan materialis, dan itu nyata. Saya kadang bertanya masih adakah sisa-sisa jati diri dari bangsa ini ? Jawabannya adalah merupakan renungan bagi kita semua, mau mempertahankan jati diri bangsa ini atau malah mau menjadi bangsa yang latah dan pengekor seperti yang terjadi seperti sekarang ini. Mereka menjajah kita bukan dengan fisik, tetapi dengan bentuk lain yang lebih mengerikan dari penjajahan fisik, yaitu penjajahan mental dan mindset. Pernahkah anda merasakan bahwa kita sudah lupa dengan diri sendiri ? Mana bangsa yang mendiami nusantara ribuan tahun yang adi luhung, ulet dan giat dalam membangun peradaban, yang ramah dan bersatu padu. Semua itu mulai lentur dan bahkan luntur. Perbuatan siapakah ini atau kebetulan ? Sejarah mencatat bahwa watak imperialis tidak akan hilang dan dimodifikasi sedemikian rupa agar tetap lestari dan eksis, dulu penjajahan fisik, sekarang penjajahan mental, moral, kebudayaan, ekonomi dan bahkan politik-bernegara. Sebab penjajahan fisik adalah bentuk penjajahan jaman lampau yang lebih mudah untuk dimerdekakan. Sampai kapan kita begini ? Sampai musuh-musuh bangsa ini rela melepaskan cengkeramannya ? Sungguh itu sebuah impian yang muskil dan mustahil.

PENDIDIKAN YANG MEMBUAT BANGSA INI MUNDUR
Tertinggal di belakang itu kalau bangsa lain membangun sementara bangsa kita stagnan-jumud-ajeg, itu namanya tertinggal. Akan tetapi saya resah dengan bangsa ini yang bahkan berjalan mundur dalam dunia pendidikan terutama. Dari tingkat PAUD s.d PERGURUAN TINGGI. Saya hanya melihat dari segi sebagai orang tua yang mengalami bagaimana perbedaan pendidikan kita dari saya kecil hingga anak saya sudah menjelang kuliah. Cukup lama, dari jaman orde baru hingga jaman sekarang. Saya melihat dan merasakan betapa anak-anak saya tertekan dengan pelajaran yang diberikan oleh sistem pendidikan kita (kurikulum), anak-anak SD dijejali berbagai macam mata pelajaran yang menurut saya diluar batas kemampuan dan di luar nalar dari anak-anak seusia mereka. Tidak masuk akal, tidak masuk nalar dan dituntut oleh sistem pendidikan agar nilai akademik dan non-akademik menjadi bagus atau kalau bisa sempurna. Ada apa dengan kurikulum kita ? Siapakah yang merancangnya ? Apakah tidak ada ahli mental dan perkembangan anak di dalam tim penyusun kurikulum pendidikan kita ? Kalau anda menyadari bahwa pelajaran yang penting bagi kehidupan seolah dibuat untuk menjadi momok yang menakutkan bagi anak didik kita, termasuk mahasiswa saya tidak terlalu tahu, karena mahasiswa sudah dewasa mau diberi materi dan tingkat kesukaran yang ekstrim sekalipun seharusnya mereka memang sudah kompatibel dan kredibel daya nalar dan daya pikirnya. Yang saya sayangkan adalah tingkat pendidikan dasar dan menengah kita yang "menjemukan" dalam - saya katakan - menjejali otak anak kita dengan pelajaran yang sangat heterogen dengan tingkat kesulitan yang tidak masuk akal. Makanya saya menanyakan apakah tidak ada ahli (psikolog) anak yang merancang dan menyusun kurikulum pendidikan dasar dan menengah kita ? Kalau kaitanya dengan postingan saya ini, saya melihat ada tiga mata pelajaran (saya sebut dari SD s/d SMA/SMK saja) yang sangat krusial yang sengaja dibuat sedemikian HOROR bagi anak didik kita, yang tidak dibikin horor malah ditiadakan. Saya melihat semua pelajaran adalah penting, akan tetapi tiga pelajaran pondasi inilah yang memundurkan bangsa ini di kemudian hari kalau kurikulum tidak diperbaiki dengan ekstrim. Pelajaran dasar semua ilmu pengetahuan yaitu MATEMATIKA (dulu aljabar), terkesan sangat horor dan berapa banyak anak yang gemar matematika? Padahal kalau materi yang diberikan adalah asupan yang pas bagi anak didik kita, matematika adalah pelajaran yang menyenangkan, seperti tebak-tebakan, mencari solusi, permainan dan lain sebagainya, sebagai sesuatu yang asyik, bukan yang SULIT apalagi HOROR. Anda bisa melihat sekarang bahwa anak SD sekarang diberikan asupan pelajaran untuk SMA di jaman saya. Atau sesekali anda yang masih punya anak SD cek dan coba kerjakan PR mereka anda akan melihat bahwa itu bukan "asupan yang seharusnya buat mereka, terlalu berat, rumit dan diluar nalar", oke lah bagi anak yang jenius - di atas rata-rata - mungkin bukan sebuah persoalan, akan tetapi mereka itu adalah minoritas bukan ? Rata-rata anak adalah yang biasa-biasa saja. Sepuluh, duapuluh tahun ke depan apakah akan ada ilmuwan bila matematika yang menjadi dasar dari semua ilmu sains itu tidak dicintai, tidak disukai dan tidak diminati oleh sebagian besar bangsa ini karena merupakan pelajaran yang bukan saja tidak mengasyikkan bahkan horor ? Metematika sengaja "mereka" buat menjadi horor agar bangsa ini "mundur" dari peradaban. Kalau anda melihat nenek moyang kita begitu tinggi ilmu matematika mereka, semua candi yang tinggi megah kalau mereka tidak jenius di matematika tidak mungkin membangun peradaban yang sangat tinggi tersebut. Pelajaran ke dua yang tidak kalah horor dan rumit-runyam adalah FISIKA (baik dasar maupun terapan), apakah ada campur tangan "mereka" lagi dalam membuat gambaran pelajaran fisika ini ? Kalau dari sebab akibat dan tujuan "mereka" saya yakin bahwa ada andil dari pihak-pihak yang ingin agar bangsa ini di masa depan menjadi "penikmat teknologi" - terjajah secara teknologi - karena induk dari teknologi dan sains adalah MATEMATIKA DAN FISIKA. Dua pelajaran yang paling "menakutkan" dan " tidak digemari" oleh anak-anak bangsa sekarang ini - kalau mau jujur - anda seharusnya bersyukur  bila anak anda masih senang dan cinta dengan pelajaran yang GAHAR tersebut. Saya jadi curiga dan menjadi prihatin tentang keadaan ini. PONDASI dan MODAL DASAR untuk kemajuan sebuah peradaban dipaksa dijauhkan dari anak-anak nusantara, padahal mereka adalah generasi bangsa yang akan memegang estafet kepemimpinan bangsa ini di masa depan. Sudah saatnya bagi pemerintah untuk meninjau kembali kurikulum yang menjadikan "pintu gerbang" menjadi pembawa kemajuan peradaban - cerdik pandai dan para penemu alat sain dan teknologi - yang "dijauhkan dan dibuat corak mengerikan" ini dibuang, berikan anak didik sesuai PORSI, DAYA NALAR DAN TINGKAT KESULITAN yang pas buat mereka. MATEMATIKA DAN FISIKA bagi anak-anak dan remaja haruslah RINGAN, MENYENANGKAN DAN TIDAK DIPERSULIT/RUMIT. Satu lagi mata pelajaran penting yang "terlihat dan serasa" diabaikan atau bahkan dilupakan, mata pelajaran BUDI PEKERTI (AHLAK) sesuai dengan agama dan kepercayaan anak didik. Sehingga pelajaran ini adalah pelajaran yang aplikatif dan seharusnya langsung, memberi pendidikan budi pekerti dan ahlak haruslah diberi contoh, ada suri tauladan dari sang pendidik. Dan terkesan sudah mulai luntur, guru tidak lagi dihargai, guru tidak lagi dipandang seperti kepada orang tua sendiri, adakah yang salah ? Ya benar, karena pelajaran budipekerti adalah pelajaran hidup di masyarakat, pelajaran hidup yang sesungguhnya. Ini akan membentuk jati diri, membentuk mental dan membentuk kepribadian dari anak didik. Kalau "terkesan di hilangkan seperti sekarang ini" maka tidak heran terjadi tawuran dari tingkat SD bahkan lebih naif lagi mahasiswa pun tawuran. Ada apa ini ? Miris sekali rasanya bila melihat hal-hal yang sangat mendasar ini terjadi,  bahkan menjadi "lumrah". Ya Allah, berikan kekuatan kepada para pemimpin bangsa ini, untuk segera memperbaiki iklim buruk dunia pendidikan kita. Terutama tiga mata pelajaran POKOK dan PONDASI. Yang menjadikan anak didik dan mahasiswa menjadi MANUSIA INDONESIA, bukan hanya sekedar menjadi orang pintar. MATEMATIKA, FISIKA DAN PENDIDIKAN BUDI PEKERTI, adalah sarana yang pokok, vital dan wajib. Jangan jauhkan ketiganya dari anak didik kita. Caranya ? Menjadikan ketiganya bukan lagi horor, bukan lagi yang rumit dan runyam. Yang jadi pertanyaan bukan pemerintah dan pemegang kebijakan tidak mampu, mau apakah tidak, barangkali itu yang lebih mendekati.

Nah kembali, apakah ini menyebabkan Indonesia akan bubar 2030 ? Saya bukan ahli politik, dan bukan simpatisan politik, sehingga saya melihatnya tentang pernyataan dari salah seorang tokoh politik Indonesia membuat saya sebagai warga negara Indonesia tergelitik, dan berpikir. Apakah itu mungkin ? Jawabannya adalah mungkin, negara sebesar USSR (uni soviet) tahun 90 pun bubar bukan ? Dan bahkan negara itu termasuk super power, yang super power saja bisa bubar, apakah yang tidak super power tidak bisa bubar ? Tentulah ada kemungkinan yang sama. Tetapi saya pribadi sangat tidak menginginkan negeri ini bubar, terpecah seperi Uni Soviet. Harapan saya anda pun demikian, karena dari harapan dan kemauan kita semua maka NKRI tetap akan utuh. Saya rasa tokoh politik tersebut bukan "memastikan" akan tetapi memberikan sebuah analisa yang tentu dengan ilmu dan data yang tidak main-main. Dan semoga bagi para pemimpin yang sedang diberi amanah saat ini bukan dipandang sebagai sebuah "ujaran pesimisme" akan tetapi dijadikan sebuah "ujaran peringatan dini" sehingga memperbaiki kinerja di segala lini yang tidak tertangani dengan sempurna. Para pengamat politik memberi masukan, para ahli ekonomi memberi solusi, tinggal ego dan kepentingan dari para pemegang kekuasaan sajalah yang diharapkan bisa "mengalah" untuk memperbaiki keadaan yang ditengarai atau diprediksi akan menjadi bencana di masa depan. Karena bila terjadi bubar nya Indonesia adalah bencana besar, dan semoga tidak akan terjadi.



RENUNGAN
Menuliskan sesuatu kebenaran yang emosional seperti ini - saya tergelitik karena saya tidak rela NKRI bubar, isnya allah tidak akan terjadi - sebenarnya harapan saya agar bisa direnungkan oleh para pengemban amanah negeri ini. Tulisan seorang buruh yang merasakan keprihatinan kepada mondar mandirnya berita yang berupa hoax, tentang ketidak pastian masa depan anak didik kita, tentang bahaya yang mengancam negeri, tentang pemisahan bangsa ini dengan jatidirinya, tentang penjajahan yang sangat halus ini, tentang penggembosan intelektual bangsa ini - dilakukan dari pendidikan dasar - kemanakah lagi bangsa ini kalau pendidikan dasarnya dibuat sedemikan rupa menjadi orang yang buta teknologi dan sains (matematika dan fisika dijauhkan, dipersulit, diperumit), menjadi orang yang menjadi "terjajah secara teknologi dan sain", menjadi bangsa yang mundur. Merenungkan hal tersebut membuat hati saya semakin trenyuh. Dan harapan selalu ada, jangan putus asa, pertahankan Indonesia. Bagi para pemegang amanah bangsa ini, saya mohon, perbaiki kurikulum pendidikan bangsa ini, hemat saya, tidak apa-apa anak didik kita tidak menjadi manusia segala tahu, yang penting mereka bisa menjadi manusia yang bisa hidup dengan layak - karena ilmu pengetahuan dan ahlak yang baik -, sederhanakan kurikulum pendidikan anak didik kita terutama pendidikan dasar dan menengah. Jadikan sekolah sebagai tujuan yang menyenangkan bagi anak akan nusantara ini. Bukan menjadi tempat yang mendebarkan dan tidak kerasan di dalamnya. Salah satu musuh terbesar bangsa ini adalah kebodohan dan kemiskinan. Pendidikan yang berhasil setidaknya bisa mengusir musuh dalam diri sendiri tersebut. Terima kasih. 

Kamis, 06 Juli 2017

MENGAPA HARUS MENJADI ORANG INDONESIA

MENJADI ORANG INDONESIA
Saat ini menjadi orang Indonesia adalah sangat tidak menyenangkan bagi rakyat Indonesia sendiri. Terpinggir

Rabu, 12 November 2014

NEGARA MARITIM SUDAH DARI JAMAN DULU

NEGERI BAHARI
Nusantara adalah negara kepulauan dan tentu saja laut (bahari/marine) adalah bagian yang lebih luas dari daratan hampir 2/3 dari seluruh luas negeri ini.

Peta Indonesia

Bisa anda bayangkan betapa luasnya laut nusantara ini, dan panjang pantai termasuk yang terpanjang ke 4 di dunia. Jadi memang dari jaman dulu negeri ini memang sudah menjadi  negeri maritim dan terbesar di asia tenggara. Mungkin juga di Asia. Nusantara lama pun merupakan negara maritim terkenal dengan para laksamananya bahkan ada laksamana putri yakni Malahayati. Itu bukti nyata bahwa negeri ini memang nenek moyangnya adalah para pelaut (tentu saja bukan keturunan popeye lho..). Dan era pun berganti, entah dari mana tiba-tiba negeri maritim ini sudah menjadi negeri yang memusatkan kekuatannya di darat. Mungkin kalau melihat sejarah ketika Kesultanan Demak (berada di pesisir utara pulau jawa) dan di pindah oleh Joko Tingkir (sultan hadiwijaya) pindah ke darat (tengah pulau yakni Pajang), nah barangkali para penguasa Indonesia meniru Joko Tingkir yang memindahkan kekuatan politiknya dari Laut (maritim) menjadi kekuatan Darat. Nah, pada jaman Joko Tingkir bisa dimaklumi luas negerinya belumlah seluas sekarang, dan masuk akal kalau memusatkan kekuatannya di Pajang yang memang di darat. Tetapi yang terjadi bangsa Indonesia malah mengikuti Joko Tingkir yang memusatkan kekuatannya di darat, padahal kalau ibukotanya sendiri sudah jelas dekat sekali dengan laut, Jakarta. Hanya politiknya saja yang berorientasi ke darat.
Kesimpulan negeri ini memang sudah menjadi bangsa bahari dari jaman dulu kala, nusantara lama bahkan lebih lama dari hal itu.

BERGANTUNG KEPADA ORANG LAIN
Kalau ada isu-isu bahwa negeri ini "meminta bantuan" kepada negara asing untuk "turut serta" mengawasi wilayah perairan nusantara ini. Ini merupakan kemunduran ratusan tahun bahkan merupakan kemunduran bangsa ini secara "memprihatinkan". Yang menjadi persoalan sebenarnya adalah bahwa mereka yang berpartisipasi "mengamankan" wilayah perairan negeri ini, tidak ada yang ikhlas tanpa pamrih. Ini bentuk dari deal-deal politik yang jelas sangat merugikan bangsa ini secara keseluruhan. Mereka berdalih membantu mengawasi dan mengamankan dari "illegal fishing", bukan masalah mau atau tidak mau dibantu, bahkan malu atau tidak malu dibantu. Tetapi seperti yang saya katakan tadi bahwa mereka pasti "ada pamrihnya". Tidak serta merta dengan "free" membantu bangsa ini. Sebenarnya para pemegang jabatan dan pemerintahan sudah mengetahui hal ini, tetapi apakah mereka tidak mengambil hikmah dari beberapa negara lain yang melakukan hal yang sama dengan bangsa ini, mereka meminta "neo imperialis" datang ke bumi mereka, setelah datang mereka langsung menancapkan kuku kekuasaannya dengan sangat halus di negeri-negeri tersebut. Apakah saya tidak bisa mengatakan bahwa negeri ini sedang digiring ke arah sana ? Menjadi negeri yang digadai untuk kepentingan sesaat yang tidak menguntungkan semua rakyat ini ?. Sudah saatnya kita membuat "swasembada dalam urusan patroli-patroli laut" yang memang sangat amat luas ini. Jangan belum-belum sudah "menyerah" dan malah menyerahkan tugas ini kepada bangsa lain yang notabene sangat membahayakan marwah dan izzah dari bangsa Indonesia ini. Dan ada udang dibalik batu itulah yang sangat "perlu diperhatikan dan dipertimbangkan" dengan bijaksana dan seksama. Pak presiden dengan  langkahnya sudah tepat, orientasinya menuju ke arah MARITIM artinya kembali ke trek yang sudah benar. Kita tunggu saja krida dan istiqomahnya bapak persiden yang kita cintai ini. Berikan doa dan dukungan kepada presiden yang sudah kita pilih ini.


nenek moyangku seorang pelaut
gemar mengarung luas samudera
menerjang ombak tiada takut
menempuh badai sudah biasa.....

SOLUSI
Menyandarkan kepada kekuatan sendiri khususnya untuk wilayah perairan yang sangat luas ini. Perkuat dan perbaiki alat dan SDM dari TNI-AL khususnya, berikut dengan kapal-kapal patroli yang jumlah dan kualitasnya harus disesuaikan dengan optimal. Artinya SDM dan Alat harus proporsional dengan luas wilayah dan keunikan nusantara ini. Kebijakan dari pemerintah adalah salah satu solusi yang terpenting. Bila menyandarkan tugas mulia ini kepada bangsa lain..... saya tidak yakin bangsa ini akan bisa menemui kembali kejayaannya seperti jayanya nusantara lama, ingat bangsa ini adalah bangsa yang pernah besar, dan jaya dimasa lampau, bukankah sebagian besar dari kita termasuk keturunan dan generasi penerus dari mereka ?
Semoga harga diri bangsa ini tetap terjaga, berdikari, dan semakin menyadari bahwa bangsa ini memang 
terlahir sebagai bangsa bahari.


Kamis, 23 Oktober 2014

REALITAS PENDAPATAN KELUARGA DAN KEBIJAKAN PEMERINTAH

BBM HARUS NAIK
Sering saya sebagai rakyat kecil sulit untuk mengartikan bahasa "politik" tersebut, BBM HARUS NAIK, dan katanya bila tidak naik - ada yang bilang tadinya BBM disubsidi pemerintah - akan membahyakan kelangsungan negara ini. Tertangkap oleh saya bahwa "hanya punya satu jurus" untuk mengakali "bahaya" yang mungkin timbul dari "beban" subsidi kepada rakyatnya sendiri, yaitu menaikkan BBM. Bahasa politik memang susah dimengerti akan tetapi akibat dari bahasa yang saya sulit mengerti inilah semua kebutuhan yang ada menjadi mahal.  Belum naik BBM saja saya sudah mengencangkan ikat pinggang, kalau anda lihat saya sudah mentok tuh sabuknya - sampai bolongan sabuk terkecil hingga pinggang saya "nawon kemit", karena saking mengencangkan ikat pinggangnya. Yang saya pertanyakan apakah di sana (pemerintah pejabat wakil rakyat dan pegawai negeri lainnya) juga ada upaya untuk mengencangkan ikat pinggang seperti saya. Kalau jurus yang dipakai hanya satu, apakah saya tidak boleh mempertanyakan "kredibilitas" dari pemerintahan yang ada ? Dari dulu BBM menjadi senjata ampuh untuk pencitraan kaum elit politik yang bekerja dengan tidak ikhlas. Sudah selayaknya rakyat mendapatkan subsidi - kalau anda browsing di google apakah ada negara yang tidak memberikan subsidi kepada rakyatnya ? - dan sudah menjadi hak dari rakyat yang selalu membayar pajak (ppn, penghasilan, pembelian produk, Pbb, dll), akan subsidi yang memang seharusnya diberikan kepada kami dari pemerintah. BBM harus naik ? Itu momok bagi kami rakyat kecil dengan penghasilan yang pas-pasan kalau tidak mau dibilang kurang. Karena BBM adalah akar dari semuanya, transportasi, listrik, pabrik, mesin-mesin pertanian, kapal  nelayan, yang semuanya memakai BBM dan semuanya itu juga merupakan penopang berjalannya sembako, paling terasa adalah kebutuhan pokok semakin mahal dan tak terbeli (yang berkualitas layak), kalau kemampuan ekonomi kami memang sudah mapan, subsidi dicabutpun tidak menjadikan masalah, kalau ekonomi kami sudah mapan BBM naik pun bukan merupakan kendala. Akan tetapi kami saja yang bekerja tetap begitu merasakan dampak dari kenaikan BBM ini, apalagi saudara kita yang kebetulan belum punya pekerjaan tetap, kerja serabutan dan bahkan yang masih tunakarya. Keluhan yang tidak berguna ini memang hanya sekedar masukan kepada pemerintah yang berwenang dan seharusnya berempati kepada rakyat. Kalau sekedar BLT menurut saya itu tidak membantu secara permanen, hanya instan dan dampaknya sangat tidak baik. Berikan pancing dan kolam yang ada ikannya, bukan berikan ikannya saja. Itu istilah kami tentang BLT, diberi ikan saja tanpa tahu bagaimana cara menangkapnya, dimana menangkapnya dan bagaimana menjadikannya lebih langgeng, bukan sementara seperti BLT. Adakah ada jurus lain selain menaikkan harga BBM ini ? Perlu ditunggu keputusan pemerintah kita yang baru ini, bila hanya mempunyai jurus yang itu-itu saja, berarti tidak ada perubahan dari dulu hingga kini.

KELUHAN YANG TIDAK ADA MANFAATNYA
Ada yang mengadakan demo tentang kenaikan BBM ini, tetapi apa manfaatnya, karena di demo berapa kalipun tetap BBM ujung-ujungnya naik. Mengeluhpun tidak ada manfaatnya karena subsidi tetap akan dicabut. Terasa bagi kami pukulan-pukulan telak kepada kantong dan dapur kami, belum lagi TDL listrik naik, belum lagi anak-anak sekolah dengan berbagai iuran yang sangat membebani, tapi semua itu hanya saya tuliskan tanpa meminta anda atau pemerintah untuk empati kepada kami. Kami sudah terbiasa dengan hal ini, dengan penderitaan yang tidak semestinya terjadi bila para pemimpin kami adalah orang-orang yang terpilih, cakap, bermoral, dan mau menunaikan amanah yang dibebankan kepada mereka. Tapi ini sepertinya hanya keluhan yang hilang ditelan dunia maya. Mengeluh tidak ada gunanya tidak merubah keadaan, apalagi merubah kebijakan pemerintah yang sudah diputuskan.

REALITAS PENDAPATAN KELUARGA DAN KENAIKAN BBM
Ini menjadikan sebuah ironi bagi saya pribadi, perusahaan tempat saya bekerja dengan adanya kenaikan BBM ini maka ongkos operasional perusahaan menjadi membengkak, secara logika mereka tidak mungkin menaikkan gaji saya dalam waktu dekat-dekat ini, BBM naik gaji tetap, apakah saya boleh mengartikan bahwa gaji saya turun, atau minus? Inilah kenyataan yang sebenarnya dari orang-orang seperti saya tentang kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM, dan kami tidak bisa menolak, hanya menyampaikan informasi dan aspirasi, inilah dampak yang terjadi dengan pendapatan saya sehubungan dengan pengurangan atau pencabutan subsidi BBM (yang mengaikbatkan kenaikan harga BBM), dan kami sudah mengikat ikat pinggang lebih kencang lagi, semoga tidak terjadi pada anak cucu saya kelak, cukup orang  tua seperti saya saja yang mengalami ini. Pemerintah seharusnya memberi subsidi kepada masyarakat - sudah menjadi kewajiban pemerintah dan menjadi hak rakyat - bukan malah memutar-mutar subsidi untuk kepentingan yang kami sendiri tidak paham apa akibatnya kalau tidak menaikkan BBM (subsidi tetap diberikan kepada rakyat). Tidak ada solusi dari rakyat kecil, solusi datangnya dari pemerintah dengan kebijaksanaan yang menimbang-nimbang hati nurani dan perasaan rakyat kecil (amanah penderitaan rakyat). Apakah ini akan terjadi dengan baik, atau tetap dalam koridor seperti biasanya, tetap saja kami sebagai rakyat kecil dalam posisi yang tidak pernah menguntungkan. Sudah obyek, ditambahi lagi dengan obyek penderita.Saya lupa bahwa saya masih warga negara republik Indonesia yang hak-haknya tidak bisa terambil karena keterbatasan saya sendiri, dan perlu anda tahu saya tidak akan komplain kepada siapapun, akan taat hukum, dan tidak berbuat yang aneh-aneh, saya manut saja dengan pemerintah apapun kebijakan yang dilakukan oleh mereka. Semoga menjadikan bangsa Indonesia tambah makmur merata dan sejahtera lahir batin. Harapan selalu ada.

Selasa, 23 September 2014

HARAPAN AKAN SEGERA JAYA NEGERI INI

MERDEKA SUDAH LAMA TAPI APAKAH KITA MEMANG SUDAH MERDEKA
Saya - bukan kita - memang merasakan bahwa negeri ini merdeka sudah lama, hampir satu abad, (lebih tua dari umur saya sekarang) , kalau dibuat sebuah generasi barangkali sudah dua atau tiga generasi berlalu, Tetapi buah dari kemerdekaan ini yang Presiden Soekarno sebutkan merupakan "jembatan emas" menuju cita-cita bangsa (adil makmur dan sejahtera yang merata). Namun memang dalam perjalanan negeri ini banyak sekali rintangan dan hambatan yang disebabkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab terhadap negeri ini, hanya memikirkan diri sendiri dan golongan (dalam hal ini barangkali partai), dengan tindakan yang kurang terpuji - korupsi dan kolusi - dan yang sangat membuat saya khawatir adalah menjadi "pelayan bangsa asing" yang membuat mereka seperti "benalu", yang tidak mungkin menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang maju. Mana ada tumbuhan yang terkena benalu akan tumbuh subur ?, dan benalu memang sangat mirip dengan pohon inang. Berbeda dengan benalu yang sesungguhnya bahwa benalu yang dilakukan oleh "pelayan asing" adalah bukan untuk tumbuh dirinya sendiri melainkan untuk melanggengkan jalan dari "tuannya". Ini sudah lama terjadi, yang lagi-lagi Bapak Proklamator merasa khawatir akan terjadinya neo kolonialisme dan neo liberalisme. Sayang, kekhawatiran beliau sudah terjadi, dan apa yang dilakukan pemerintah memang sampai saat ini belum memuaskan, dan kita tahu mereka kerja, dan berusaha membuang benalu-benalu ini, koruptor (dengan KPK nya), tetapi memang lagi-lagi belum memuaskan hasil kerja mereka. Ini menjadikan kita memang setiap tanggal 17 agustus memperingati kemerdekaan negeri ini, sejatinya memang hanya sekedar seremonial saja - lha kenyataannya yang merdeka belum banyak kok - dan yang merasakan kesejahteraan di negeri ini hanya sedikit orang. Jauh dari kata merata. Padahal bangsa ini begitu besar sumber daya alamnya, yang jelas-jelas akan mampu membiayai semua orang Indonesia bila diatur dan dikelola dengan baik. Jembatan emas, itu apakah memang sudah dilupakan ataukah memang hanya berpindah dari kolonialis yang satu ke kolonialis yang lain. Apakah anda merasa sudah merdeka ? Apakah itu hanya perasaan anda saja ? 

KORUPTOR MEMANG MUSUH UTAMA, DAN BENALU ADALAH MUSUH DALAM SELIMUT
Kalau menangkap koruptor memang sudah ada lembaganya KPK, bagaimana dengan menangkap para "pelayan asing" yang ingin menjadikan bangsa ini menjadi miskin...? Ini yang menjadi PR buat pemerintahan mendatang. Musuh utama memang koruptor dan kita sudah tahu cara memeranginya, bagaimana dengan musuh dalam selimut ini, yang bahaya dan "sepak terjanganya" tidak lebih kecil dari para koruptor. Sayang mereka adalah sangat licin dan halus dalam "berfusi" dengan pemerintah, jabatan yang sering diberikan kepada mereka kok yang biasanya yang strategis - sekitar ekonomi dan keuangan -  yang membuat kebijakan sering tidak memihak rakyat, tapi malah memberikan jalan yang lebar dan mulus bagi tuan-tuan mereka. Membuat bangsa ini menjadi dari bangsa ketimuran, menjadi  bangsa yang liberal. Dan tambah jauh untuk merasakan kemerdekaan yang hakiki. Jembatan emas yang tidak dimanfaatkan dengan baik, malah ditelikung oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan menjadi "kolonialis" bagi bangsa sendiri, dengan mengkhianati bangsa sendiri demi ego dan tuan-tuan yang mereka layani.

SOLUSI
Rakyat kecil seperti saya memberikan solusi hanya berdoa dan menggukan hak pilih yang baik dalam pemilu, agar bisa menjadikan pemimpin yang amanah dan bisa membuang duri-duri dalam daging negara ini. Harapan ini memang tulus, bukan memvonis, bukan menghujat. Adalah PR dari pemerintah mendatang yang bisa menjadikan bangsa Indonesia "BENAR-BENAR MERDEKA" bukan seperti yang terjadi seperti saat ini. Semoga menjadi pemikiran bersama. 

NB:
Boleh anda lihat di wikipedia link ini. Tentang Mafia barkeley dan oknum-oknum yang serupa.

Selasa, 09 September 2014

UNDANG-UNDANG ITE, UNTUK MEMBUAT BLOGGER LEBIH BAIK

MENURUT SAYA INI MENAKUTKAN
Kalau ngomong harus hati-hati, kalau posting harus hati-hati, salah-salah bisa dilaporkan polisi, saya tidak paham akan UUD ITE yang telah lama di undangkan - kalau enggak salah tahun 2009 yang lalu - tapi yang jelas dengan kejadian yang lalu di yogyakarta (FS ) dan di bandung (KS) dan bila saya terawang jauh lebih lama lagi ada satu nama (P), itu semua yang telah terkena akibat dari "kurang lebih" kurang hati-hatinya mereka dalam dunia maya yang katanya luas dan tanpa batas ini. "Tanpa batas ?" Sekarang tidak lagi, kita harus "extra waspada" dengan adanya UUD ITE ini. Kalau saya sebagai seorang blogger tentu saja menjadi takut, kikuk menjurus was-was, bagaimana tidak was-was beropini bisa dilaporkan ke polisi. Ranah maya menjadi ranah nyata bahkan di ranah hukum. Dan ketika dunia maya bisa diarahkan ke ranah hukum, ini bagi saya menjadi sangat menakutkan.

SASARANNYA SEHARUSNYA PARA KRIMINAL BUKAN ORANG YANG SEDANG GALAU
Hukum adalah buta (lihat lambangnya adalah timbangan dengan seorang wanita yang ditutup kedua matanya, artinya tidak memandang bulu, siapapun sama dimuka hukum), dan demikian pula dengan undang-undang. Kita sebenarnya mengetahui  kategori yang "kriminal murni" di dunia maya dengan orang yang "sementara" galau - bisa marah geram (seperti kasus FS di yogya) atau iseng , sengaja memancing untuk ditangkap (seperti kasus KS di bandung), di dunia maya,......tapi kejadianya memang sudah berlalu, ya sudahlah. Semua produk harus kita hormati, undang-undang dibuat tentu saja untuk menertibkan. Akan lain jadinya kalau tidak ada undang-undang, semua semrawut dan semuanya kacau. 
Tapi dalam hati kecil saya masih saja bertanya-tanya bagaimana nasib kita para blogger kalau tidak sengaja "menyinggung" orang lain dengan opini dari posting-posting yang kita buat - misalnya postingan tentang suatu daerah, instansi atau pribadi - kemudian ada pihak yang salah paham dan kemudian tersinggung, dan melaporkan ranah hukum, bagaiman nasib kami ? Apakah nasib kami akan sama dengan para kriminal ? padahal kami para blogger sama sekali jauh dari pikiran yang demikian, apakah UU ITE ini bisa disandingkan dengan Kode Etik Jurnalistik ? Para blogger layaknya wartawan (jurnalis) yang kadang membuat posting bukan hanya berdasarkan opini, tetapi berdasarkan laporan/survey seperti yang dilakukan para wartawan untuk membuat blognya ramai dikunjungi. Sayangnya blogger tidak sama dengan wartawan, dan inilah salah satu ketakutan para blogger. Saya tidak tahu dinegara lain apakah "seketat" di negeri ini. Orang memaki-maki di dunia maya kemudian yang dimaki merasa tersinggung (mengambil istilah hukum "pencemaran nama baik"), dan yang terjadi anda semua telah mengetahuinya. Si pemaki bisa dimejahijaukan. Tapi tetap saja saya merasa aneh, orang yang suka beropini semacam saya - mungkin semua blogger - yang jelas jauh dari perbuatan kriminal kok ya bisa diperkarakan yang menjurus kepada ranah hukum. Sekali lagi ini sangat menakutkan bagi saya.
Kalau sudah berbuat kriminal murni - membobol akun online, meretas dan mencuri via akun kartu kredit, mata-mata, mencuri ATM, menipu belanja online dan lain sebagainya - barulah mereka yang "layak" ditangkap  karena ada hubungannya dengan cyber crime. Kalau mencemarkan nama baik itu bukankah ada di KUHP ? jadi UU ITE apakah sama dengan KUHP ?, dari kejadian yang lalu  mungkin saja menjadikan "demokrasi online" menjadi sedikit terganjal, apa mungkin nasib para blogger akan sama dengan wartawan surat kabar di jaman orde baru ? Semoga saja tidak terjadi demikian. 

SOLUSI
Solusi saya hanya usul, apakah UU ITE ini memang sudah tidak bisa direvisi lagi ? Dari semua yang terjadi (kasus yang tereskspos) ternyata yang tertangkap adalah mereka yang "marah, komplain dan galau" kemudian menyampaikan unek-uneknya kepada teman-temannya di dunia maya - bikin status, kicauan atau posting, bahkan sending email - dan itu sudah terjadi. Solusi lain adalah kepada kita sendiri para blogger untuk lebih santun, waspada dan jangan menyebut nama ( " anonim" ) saja ketika memposting sesuatu, kecuali itu sudah menjadi rahasia umum (terpublikasi). Terakhir semoga hak para blogger bisa lebih kokoh dilindungi oleh UU ITE ini. Meskipun demikian saya masih tetap merasa was-was.
Terima kasih



Jumat, 15 Agustus 2014

MERDEKA DIRGAHAYU INDONESIA KE 69

KEMERDEKAAN
Arti kata merdeka memang sangat mudah diucapkan, dan bila anda berada di negara yang terjajah barulah akan merasa bagaiamana kata "merdeka" dan "kemerdekaan" menjadi kata yang sangat berharga bahkan sakral. Kemerdekaan adalah jembatan emas menuju cita-cita sebuah bangsa, bagaimana mungkin akan terwujud cita-cita sebuah bangsa bila dalam keadaan terjajah. Dan abad ke 21 ini  masih saja ada negara yang terjajah secara fisik. Anda bisa mengeceknya di internet apakah memang benar-benar masih ada bangsa yang terjajah dan belum merdeka hingga saat ini ? Palestina, Afganistan, Chechnya, Xinjiang, Kashmir, Moro, Pattani dan banyak negara di Afrika yang jelas-jelas belum merdeka secara utuh. Minoritas yang disebut oleh induk negaranya sebagai "separatis" karena sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan induk negaranya, yang mayoritas dan represif. Jadi mereka memang belum benar-benar merdeka.

PENJAJAHAN
Imperialisme adalah paham yang jelas-jelas sangat merugikan manusia - khususnya yang terjajah - dan merugikan kebudayaan manusia pada umumnya, karena terjadi hukum rimba dalam dunia dalam fase imperialisme ini. Dan Indonesia sudah sangat merasakan akibat dan sepak terjang kata-kata itu. Dan mengapa tidak ada momen yang sangat spesial untuk bangsa ini menyadari bahwa kata itu ternyata masih ada, masih lekat dan masih terus menjadi laten yang memaksa berdiri dan jadi benalu bagi bangsa ini. Meskipun demikian dalam bentuk yang tidak sama dengan era yang telah lampau.  Saya menyebutnya sebagai penjajahan fisik, dan sekarang bukan dalam penjajahan tersebut, akan tetapi penjajahan secara non fisik. Psikis, Mental, Moral, Spiritual, dan perang urat syaraf. Banyak dari kita yang tidak menyadari akan hal tersebut. Karena perang ini terlalu halus untuk dirasakan oleh kita semuanya. Dan yang "merasakan" kehadirannya pun tampaknya tidak bisa berbuat banyak. Yang mempunyai kekuasaan pun tidak mampu berbuat banyak, apalagi orang awam yang semacam saya tentu lebih-lebih tidak mempunyai daya untuk "membangunkan orang lain" dari penjajahan yang sangat halus ini. Maka yang terjadi adalah bahwa orang yang menyadari akan adanya penjajahan halus ini akan disebut sebagai orang yang aneh, tidak modis, puritan, extrimis, bahkan teroris. Bukan rahasia lagi bahwa bangsa ini adalah sudah dalam keadaan terjajah dari dulu hingga kini. Orang yang menyadari keadaan ini salah satunya adalah Ir. Sukarno dengan lebih dan kurangnya sebagai bagian dari bangsa ini dan bersamaan dengan itu dia adalah tokoh besar bangsa dan
dunia, apa yang "penjajah" lakukan terhadap beliau ? Masih sama "devide et impera", pecah belah dan kuasailah. Jaman dulu, yang dikuasai adalah fisiknya dan jaman sekarang bukan hanya secara fisik tetapi secara halus dan tidak kasat mata Sejarah sebenarnya menunjukkan kepada kita bahwa  Ir Sukarno "disingkirkan" tahun 65-66 oleh tangan-tangan imperialis atau yang saya sebut sebagai boneka "imperialis halus", yaitu  Suharto,dia naik menjadi presiden ke 2 dengan berbagai  persetujuan dengan pihak asing ("imperialis laten") dan hingga hari ini peninggalan imperialis ini masih saja terbawa-bawa,  bahkan sudah mendarah daging dan semakin kian parah saja. Ini persoalan yang tidak mudah, menjadikan bangsa yang lama sekali terjajah untuk mengartikan kata "merdeka" dengan segala  konsekuensinya.Kita semua mengetahui ini bukan perkara mudah. Sudah 69 tahun kita merdeka, tetapi "merdeka" yang seperti apa yang selama ini kita artikan, yang kita rasakan dan yang kita "kira" sebagai merdeka? Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan dengan segala bentuk (manifestasinya) karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan (Pembukaan UUD 194), ini nyata barangkali kita merdeka hanya sebentar sekitar 7 atau  hanya 10 tahun saja. Penjajahan ditentang oleh semua orang,  terlebih kaum muslimin yang merupakan mayoritas di bangsa ini.

CIRI-CIRI ORANG MERDEKA
Merdeka bukanlah budak. Merdeka adalah kebebasan (freedom), dan mereka yang merdeka tentu memiliki berbagai macam ciri dan  perbedaan dari orang yang masih "terjajah". Sebenarnya saya bisa berpendapat bahwa merdeka adalah secara rohani dan jasmani. Bangsa ini hanya merdeka secara jasmani, belum secara rohani, belum secara mental. Bahkan kita sudah menghasilkan generasi pasca krisis moneter, ini bukan generasi emas, tetapi generasi transisi, sampai dengan sekarang. Generasi transisi inilah yang memenuhi 20-40 tahun bangsa ini, saya tidak yakin dengan stamina mereka menghadapi "imperialis halus" ini. Karena ciri dari orang merdeka adalah jauh sekali dari mereka. Lihat saja, tawuran yang terjadi, lihat saja upload video tak senonoh yang terjadi, lihatlah betapa keuletan mereka adalah sangat lemah. Saya mengatakan ini adalah karena bukan salah mereka, tetapi salah dari pemegang pemerintahan yang membiarkan bangsa ini terjerembab ke dalam jurang krisis yang menganga dalam, bahkan sangat dalam. Ciri orang yang merdeka lahir dan batin adalah berani, bangga dengan bangsanya, dan  nasionalisme bahkan patriotismenya begitu tinggi. Menjadi pribadi bangsa Indonesia yang murni. Bukan bangsa jadi-jadian semacam  sekarang ini. Ciri orang merdeka salah satunya adalah berdikari - berdiri di atas kekuatan kaki sendiri - bukan ditopang dengan berbagai macam kekuatan semu yang penuh pamrih (tendesius). Dan pamrihnya itu kita semua sudah paham. Kalau kita berkaca kepada diri sendiri, apakah kita sudah termasuk manusia yang merdeka ? Pertanyaan yang hanya anda sendiri yang bisa menjawabnya. Masalah anda berdaya atau tidak berdaya bukanlah menjadi soal. Karena bidang yang anda pegang dan geluti ternyata berbeda-beda. Tapi dalam berbangsa ini sudahkah anda menjadikan diri sendiri sebagai pribadi yang merdeka ? Yang bisa menular kepada seluruh penduduk Indonesia ini ? Sehingga secara menyeluruh bangsa ini akan menjadi bangsa yang
"betul-betul merdeka". 

.......DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA.....
17 Agustus 2014....

Kamis, 21 November 2013

BANGGA MENJADI BANGSA INDONESIA

BANGGA MENJADI BANGSA INDONESIA
Bagaimana tidak kita sebagai bangsa adalah salah satu dari bangsa yang gagah berani menentang penjajahan, bahkan sejarah membuktikan seperti sebuah mitos, peristiwa-persitiwa yang terjadi demikian "menggetarkan" dan membuat nyali penjajah menciut, dan dengan pertolongan Allah Swt bangsa ini merdeka, dengan menggunakan "kekuatannya" sendiri. Perlu diingat tidak ada bangsa di asia tenggara ini yang merdeka dengan unik seperti bangsa ini, bangsa yang gagah, bangsa yang penuh patriotisme, bangsa yang menyebah Allah Swt Rabb Al Alaamiin, bangsa yang secara trah adalah bangsa yang mulia, tidak sudi diberi kemerdekaan, tetapi dengan "merebut" dan "memperjuangkan" kemerdekaannya. Bangga menjadi bangsa ini tidaklah sesuatu yang "populer" belakangan ini, apa gerangan yang menjadi penyebabnya ? Telah jelas saya mendengar bahwa "pecinta" bangsa ini yang disebut patriot, nasionalis, negarawan, pemuda harapan bangsa, pemuda indonesia,.....mereka telah "malu untuk mengakui bahwa saya orang Indonesia".

Katakan kepada diri sendiri, apa salahnya menjadi bangsa Indonesia ? Jangan ragu, percaya diri saja, tunjukkan pada dunia bahwa kita bisa seperti mereka, bahkan sumber daya alam kita, iklim kita, semua yang ada di bumi nusantara ini adalah seperti sebuah jannah (surga), jadi apa yang dirisaukan sehingga daya pikir kita, sudut pandang pikir kita menjadi minder (inferior), tiada yang salah menjadi bangsa ini, tidak ada yang pernah merendahkan bangsa ini kecuali jiwa-jiwa dari bangsa ini yang menyurut harga dirinya, kepercayaan dirinya, jiwa patriotismenya, jiwa jihad fiisabilillah nya, dan yang terpenting saat ini kita masih hidup dan masih diberi kesempatan untuk berubah, jangan menunggu orang lain yang berubah, mulailah dari diri sendiri, terus keluarga kita, terus teman kita, terus sampai terjadi konsesus besar bahwa bangsa ini mau berubah menjadi bangsa yang seharusnya, bukan menjadi bangsa yang "tidak selayaknya" semacam sekarang.

CARI PEMIMPIN YANG TUNDUK PADA ILLAHI, BERHATI, BERNYALI, BERBUDI DAN BERINTELEKTUAL TINGGI
Kita terperanjat ketika phonecell pemimpin bangsa kita disadap oleh tetangga jahil bangsa kita, tidak perlu menyebutnya karena berita telah menyebar dan bahkan menimbulkan "gosip" baru untuk melupakan sejenak kasus-kasus yang lebih runyam sebenarnya di dalam negeri sendiri. Baiklah, kita tidak bisa menganggap remeh kejadian "memalukan" ini, kalau bisa dibilang kita sudah "dikacangin" oleh bangsa lain, kalau hanya sekali barangkali tidak menjadi apa, tetapi ini berkali-kali, lalu harus disebut apa ? Kelalaian hanya sekali, iseng-iseng menyadap hanya sekali, kebobolan hanya sekali, tetapi kalau berkali-kali ini menjadi sebuah "bahan" yang sangat serius. Perbuatan "melanggar" norma dengan dilakukan berkali-kali dan tidak pernah "menyesalinya" ini bukan tindakan iseng (prank) lagi, ini jelas-jelas SERIUS. Jangan menyalahkan pihak lain, artinya PELINDUNG DUNIA MAYA bangsa ini haruslah lapang dada dan mengakui "kelemahan" mereka, mengakui "kejadulan" software, hardware bahkan brainware nya, jangan sungkan untuk mundur bila memang tidak bisa bekerja dengan baik, atau dengan kata lain anda layak untuk mundur dari jabatan pelindung dunia maya bangsa ini, kalau tidak mundur pelu bukti apa lagi agar anda tidak dicap gagal ? Tidak ada kesempatan kedua untuk urusan keamanan negara bukan ? Atau pertanyaan saya yang paling sering menggelitik adalah apakah phoncell beliau-beliau tidak diberi semacam "security"? Ini baru menyangkut dunia maya, tetapi karena yang disusupi/diretas/diinfiltrasi/disadap adalah RI 1 (presiden) baik secara pribadi  maupun sebagai pejabat negara, RI 2 apakah kita memang "lahir di jaman jepang" ? sehingga mereka bisa "mengobrak-abrik" "security" dari orang-orang terpenting di negeri ini ?

Memang kalau mau mencari pemimpin itu sulit. Syarat menjadi pemimpin pun ketat, jumlah orang yang bisa dengan baik memimpin jelas sangat sedikit. Kriteria yang paling enak adalah bastotan jismi wal 'ilmi, kuat jasad (tampilan/fisik) dan ilmu. Kekuatan fisik bisa dijelaskan sebagai cerdas, punya nyali, takwa, wibawa, gagah, kharismatik, simpatik, stamina yang sangat prima, kaya, keturunan orang baik-baik, berhati mulia, berbudi pekerti luhur, dan sederet persyaratan fisik lainnya, bisa dilihat. Sedangkan kuat secara ilmu yakni ilmu memimpin, ilmu tata negara, bahasa, diplomasi, visi yang brilian, ilmu politik yang mumpuni, dan masih banyak lagi. Mengapa menjadi pemimpin memerlukan begitu banyak persyaratan ? wajar karena menjadi pemimpin akan mau tidak mau dijadikan teladan oleh orang yang dipimpinnya. Lain halnya menjadi rakyat, tidak perlu syarat yang aneh-aneh, begitu lahir jadilah kita rakyat, tidak sulit. Saya percaya bahwa bangsa ini masih banyak orang yang saya sebutkan bastotan jismi wal 'ilmi tadi.

SOLUSI

Tanamkanlah kebanggaan menjadi bangsa Indonesia ini kepada anak keturunan kita mulai dari usia dini, berilah contoh yang baik kepada generasi kita, berilah bimbingan dengan contoh bukan dengan perintah-perintah yang tidak konsekuen. Bangga menjadi bangsa Indonesia adalah salah satu cara untuk memperbaiki keadaan bangsa ini, bangga bukan takabur dan sombong serta merendahkan bangsa lain, kita menyebutkan "bangga" karena rasa cinta kepada bangsa ini mulai memudar, rasa percaya diri semakin menipis, rasa bangga ini menjadikan kita mencintai bumi nusantara ini. Allah Swt mendengar doa-doa dari kita, meskipun orang meremehkan bangsa ini, yakinlah bila kita semua bertakwa kepada Nya, kita akan dinaikkan derajatnya, orang yang memandang rendah bangsa ini pastilah akan "malu" dan berubah "grogi" bila berhadapan dengan kita. Kapan masa itu akan datang ? Mari mulai dari sekarang, berdoa kepada Allah Swt itu pasti, belajar, bekerja giat, cinta bangsa dan produk sendiri, perkecil impor, dekati pasar tradisional, ke mall boleh tetapi hanya "nongkrong saja" kan ada AC nya, pedagang kaki lima segera membuat kenyamanan kepada pembeli secara sadar dan sebagai pemuda jangan suka tawuran, gunakan energi luar biasa kalian untuk hal-hal yang positif, pramuka, olah raga, kegiatan sosial remaja, dan lain sebagainya. Tidak ada cukupnya untuk menulis harapan yang saya (sebagai orang tua) harapkan dari para pemuda, yang jelas-jelas waktu, jalan dan kesempatannya masih sangat luas. Aku bangga menjadi bangsa Indonesia. Salam hangat...MERDEKA...!!!

Kamis, 24 November 2011

BANJIR BANGKOK SEBUAH PELUANG KITA ?

Banjir Di Bangkok Menjadi Peluang Kita ?
Ketika berbicara komputer tentu saja kita membicarakan hardware, dan salah satu hardware yang penting dalam komputer adalah HARDDISK. Lalu apa pula hubungannya antara banjir Bangkok dengan harddisk dan peluang buat bangsa Indonesia ini ?
Saya hanya bisa berandai-andai,.....jika saja, apabila bangsa ini adalah bangsa yang tidak terlalu banyak "pungli" yang mengatasnamakan :birokrasi: sudah dipastikan para investor dari harddisk yang sekarang sedang terkena banjir di Bangkok pastilah akan "lari" ke Indonesia. Sudah bukan rahasia lagi bahwa Indonesia adalah pasar terbesar di ASEAN dan semua investor juga tahu, akan tetapi ada yang membuat mereka tidak nyaman sama sekali di sini. Dan pejabat sudah barang tentu tahu apakah itu, yakni pungli birokrasi. Dan bila disentil demikian bisa-bisa kita dicap sebagai mencemarkan nama baik dan bisa ditangkap, padahal tidak ada maksud mencemarkan nama baik, yang menjadi maksud dari rakyat kecil seperti saya adalah bahwa STOP PUNGLI BIROKRASI.

Birokrasi untuk mempermudah bukan untuk mempersulit.
Karena pergeseran fungsi dari birokrasi itu sendirilah maka sesuatu yang tadinya diadakan untuk memperlancar dan membantu malah menjadi sesuatu yang memperlambat bahkan menjadi momok bagi para investor (asing terutama), kenapa ? Karena yang dipentingkan dari yang disebut birokrasi disini adalah Uang tempel, amplop mania, dan pelicin, semir dan lain sebagainya yang tidak ada dalam selebaran dan blangko yang diberikan kantor birokrasi untuk membantu para investor, muncul yang tidak ada di dalam blangko membuat orang lain untuk berpikir ulang berinvestasi di Indonesia ini, dan ini adalah rahasia umum. Kalau sudah demikian parahnya maka bisa dikatakan birokrasi bukannya memperlancar seperti tujuan dibentuknya, malah sangat fatal menjadikan birokrasi kita sebagai penghambat nomor satu bagi datangnya investor, terutama investor asing. Nah bagaimana mungkin investor harddisk akan datang ke Indonesia walapun mereka tahu tenaga kerja di sini banyak dan sangat murah, pasar sangat menjanjikan dan masyarakatnya termasuk konsumtif, karena yang menjadi batu sandungan mereka adalah birokrasi kita yang panjaaaaaaang. Untuk membuat satu stempel saja katanya harus melewati beberapa atau banyak kursi, enggak masalah bila hanya melewati, yang menjadi masalah adalah bahwa dalam lewat tersebut harus mengeluarkan pundi-pundi yang tidak tertera di dalam blangko yang diberikan para pejabat birokrat, nah lo....

Pemangkasan Birokrasi dan Birokrat Nakal

Tidak bisa saya mengatakan bahwa semua birokrat adalah seperti di atas, masih banyak yang sholeh dan sesuai dengan undang-undang, kode etik dan sangat mencintai Indonesia dan bertanggung jawab kepada jabatannya. Yang menjadikan birokrasi menjadi pendek dan memangkasnya menjadi ringkas dan mudah, serta keberanian membuang atau memutasi para birokrat bertempat "basah" yang nakal. Bila yang dominan terjadi adalah yang saya maksud - penyederhanaan birokrasi dan tidak ada birokrat nakal - sudah barang tentu Nike, Sony, Wesern Digital (yang sekarang ada di Thailand), Seagate (lagi-lagi yang ada di Thailand) dan beberapa assembling mobil/motor tentunya pada berdatangan ke Indonesia yang tercinta ini. Fair sajalah tidak usah menuduh orang lain lebih begini dan begitu, negeri lain lebih sederhana birokrasinya sekalipun pekerja disana lebih mahal. Daripada datang ke Indonesia, yang dari catatan kertas adalah sangat menguntungkan bila dilihat dari teori pasar, namun kenyataannya malah RUGI besar, karena banyak sekali rintangan dan halangan yang disebabkan oleh birokrasi yang tidak profesional dan memudahkan.
Jadi peluang yang ada di Bangkok hanyalah sebuah pengandaian saya pribadi saja. Bila ada pejabat yang tersinggung, saya tidak bermaksud mencemarkan nama baik anda yang terhormat, bagaimana ini mencemarkan nama anda ? Tidak ada, sebab ini hanya merupakan blog yang penulisnya sangat mencintai negeri ini, bukan ingin mengacaukannya, dan penulis sangat menaruh harapan pada para pejabat untuk bertindak dan berbuat sesuai dengan koridor dan etika yang berlaku, bila anda berbuat demikian kami tentu akan sangat hormat dan menyayangi anda semua, dan saya jamin masalah keuangan anda tidak akan menjadi masalah, logikanya begini, negara menjadi teratur dan maju, bagaimana mungkin kesejahteraan anda tidak akan lebih baik, mobil, motor produksi dalam negeri bagaimana tidak murah, harddisk produksi dalam negeri bagaimana tidak menguntungkan, tekstil produksi dalam negeri bagaimana tidak menguntungkan ? Harapanku tidak pernah saya lepas, sebab nurani birokrat sholeh pastilah akan diwujudkan dalam kesehariannya dan Allah Swt Maha Mendengar doa-doa bagi keberhasilan anda yang kami sampaikan ini. Semoga membuka pintu hati anda semua, terima kasih.

Sabtu, 31 Juli 2010

NEGERI IMPIAN

HANYA KELUHANKU SAJA
Apakah yang akan menjadi pertanyaan anda dan saya akan sama ? Karena posisi dan makom yang berbeda ? Gaji saya tidak naik-naik sedangkan kebutuhan :baca: harga-harga tidak bisa menahan diri untuk melambung. Menjerit dan meronta batin ini menghadapi kenyataan pahit ini tetapi sekali lagi saya tidak berdaya sama sekali. Mungkin berbeda dengan kalian yang makmur dan sejahtera, tidak memikirkan apa yang akan anda makan hari esok. Kebutuhan memang kadang dibawah keinginan atau syahwat kita, tetapi perlu anda ketahui keinginan anda yang makmur dan sejahtera adalah sama dengan kami yang berada dibayang-bayang kemiskinan, tidak ada bedanya, yang membedakan adalah kalian bisa mewujudkan keinginan yang diinginkan sedangkan kami menggantungnya diangan kami dan entah sampai kapan akan kami raih. Lihat kami, yang setiap tahun, bulan, hari bahkan detik selalu was-was kontrak kerja kami habis, dan entah disengaja atau tidak habisnya kok ya sebelum Idul Fitri itu artinya TIDAK ADA THR BUAT KAMI, dan memang demikian adanya kami yang sudah kembang kempis mempertahankan kehidupan yang "sulit" ini ditindih dengan beban-beban keinginan yang sama dengan kalian sementara itu perlakuan yang diberikan kepada kami berbeda antara langit dan bumi dengan kalian. Gaji kalian naik terus, tunjangan, bahkan ada gaji ke 13, apakah anda pikir ini tidak akan membuat kami iri ? Berbesar hati memang selalu menjadi makanan kami sehari-hari, merasa tidak mampu untuk bicara ya kami diam, merasa tidak bisa berontak ya kami menurut,....ini tuntutan hidup bung, yang membuat kami tidak berdaya, anak-anak kami yang kurang gizi (susu tak terbeli orang pintar tarik subsidi, hasilnya kata musikus iwan fals bayi kami kurang gizi), nah ini terjadi dan selalu terjadi, dan memang ini tidak adil. Terjadi disemua negeri dan terjadi di Indonesia, tetapi yang membedakan barangkali, terjadi pada diriku sendiri.
yang menjadikan saya menjadi tambah sesak dada adalah ditengah kesulitan kami ada orang kaya (yang jelas tidak pernah peduli dengan kemiskinan saudaranya) berpesta pora membuang-buang makanan, menghambur-hamburkan uang untuk syahwatnya sendiri,...jangan saya dikatakan suka ikut campur urusan orang lain. Yang menjadi masalah adalah orang itu kita bayar rame-rame lewat pajak yang kami bayar, dan kami tahu kami kelaparan sementara dengan entengnya mereka membuang makanan (yang pantas makan) didepan kami tanpa permisi dan tanpa hati, yang kami tahu mereka bukanlah orang pilihan yang kami kenal, mereka adalah orang yang tidak amanah dan kelak akan kami mintai pertanggungjawabannya diakhirat, dan saya yakin mereka orang yang bisa merugi bila kebiasaan buruk mereka dibawa sampai mati dan belum sempat bertobat. Mereka tidak punya hati, sementara kami sangat lapar, sangat membutuhkan pekerjaan sangat membutuhkan susu untuk balita kami sangat membutuhkan rumah buat kami,....kebisaan mereka hanya menyengsarakan rakyat, menambah beban hidup kami orang-orang kecil, dan tidak sedikitpun mereka berusaha dengan ikhlas sekali lagi dengan ikhlas mau membantu meringankan beban kami, mau memberi setetes embun kelegaan bagi kami, ketenteraman yang secuil pun tidak pernah terpikirkan oleh mereka, apakah mereka bahagia ? Saya tidak tahu, tetapi mereka jelas tidak akan mendapat kebahagiaan yang diperoleh dari penderitaan rakyat,....bukan sebuah kutukan dari kami tetapi sebuah balasan dari Allah Swt.
Saya pribadi tidak menganggur saudara, tetapi tetap saja saya bisa merasakan bagaimana kesulitan yang akan saya peroleh bila keadaan terus-menerus begini, saya seolah tinggal dinegeri angkara murka yang berkuasa, negeri durjana meraja lela tanpa ada yang mampu menolaknya. Negeri bersimbah dosa, negeri impian para syetan, dan daarul bawar, yang ada.....masyaallah, astaghfirullah....
Bagaimana dengan saudaraku yang tidak beruntung tidak mempunyai pekerjaan ? Apakah ada yang perhatian kepada mereka-mereka itu ? Hati-hati kita sudah pada mati, hati-hati kita sudah tidak peduli, tidak mau berkorban untuk saudara yang kekurangan an sangat membutuhkan bantuan,....baru membantu bila menguntungkan partai dan golongan mereka, itupun dikorupsi,....sungguh kejam.

MELIHAT NEGERI IMPIAN YANG AKAN SELALU JADI MIMPI YANG TAK KUNJUNG TERWUJUD
Negeri impian adalah dimana para penguasa dan para alim ulama akan berjalan seiring dengan memberi nasihat yang baik dan para penguasa begitu amanah mengemban tampuk yang dipercayakan rakyat kepadanya, begitu dekat dengan Allah Swt, begitu ikhsan merasakan bahwa tanggung jawab ini tidak semata-mata kepada wakil-wakil rakyat, kepada rakyat tetapi tanggungjawab pribadi kepada Allah Swt. Sehingga tidak ada kezaliman yang diberikan kepada rakyat dan dirinya, dan hukum akan begitu luhur dijunjung tidak tebang pilih dan menjadi sesuatu yang disegani, bukan ditakuti, apalagi sesuatu yang bisa direkayasa. Jalan-jalan tertib, kendaraan lirih suaranya dan tertib jalannya, terlihat ada yang kebut-kebutan ternyata itu hanya ada di arena balapan Formula Satu yang diadakan di sirkuit Sentul saja, bukan dijalan-jalan umum, pejalan kaki nyaman, menyeberang tidak dengan was-was dan buru-buru, semua orang yang melanggar tertangkan kamera CCTV dan ditilang (tidak ada negosiasi yang seperti dinegeri tetangga kita, bukakah damai itu indah, tetapi damai dari tilang akan menimbulkan fitnah). Bagi kami, bila para wakil bekerja dengan berhasilguna dan amanah, tidak ada alasan untuk memberi mereka jatah lebih, kami mengusulkan agar kesejahteraan mereka ditambah, karena kami pun sudah sejahtera. Bukan mereka yang meminta naik gaji, tambah tunjangan sementara mereka "belum kerja sama sekali", atau hasil kerja mereka tidak ada manfaatnya, kecuali membuang-buang waktu dan uang rakyat. Dan ini menjadi sebuah kebiasaan yang akan diwariskan kepada generasi selanjutnya. Maaf bila itu terjadi, kiamat lah itu namanya.
Negeri impian diawali oleh sebuah idealisme yang benar, bukan syahwat dan oportunitas yang bias dan penuh tendensius, orang kita bila nafsu membuat udang dibalikbatu, tidak progresif dan visioner, hanya sebatas nafsunya saja. Idealisme muncul biasanya bila menjadi pejabat dengan bersih, sebagus apapun sistem bila terkena {virus} pastilah akan tidak berjalan dengan baik, bahkan macet atau malah menyimpang dengan sangat jauh. Dan ini terjadi, kesalahan awal dari paradigma kita (bukan saya saja tetapi sebagian besar kita) bahwa untuk menjabat sesuatu "pasti menyuap" bukan dengan jalan yang berkah, tetapi jalan belakang yang didorong syetan. Dan untuk menghentikan ini perlu adanya revolusi, bukan sekedar reformasi, karena form yang terbentuk terdahulu rupanya format yang salah, sehingga direformasi malah tambah amburadul dan kebablasan. Atau ini mencerminkan sempit dan piciknya kita, atau kekalahan kita dari hawa nafsu yang merupakan kendaraan syetan ? Jawaban yang pasti tidak saya temukan, walapun ditemukan entah dimana tempatnya, Ebit bilang tanyakan saja pada rumput yang bergoyang. Jangan menyalahkan orang lain, pejabat atau yang paling penting adalah lihatlah kepada diri sendiri, bahwa melihat kesalahan sudah seyogyanya memberi peringatan, kalau tidak ingat juga beri tindakan tegas, dan itu yang bisa melakukan hanya pemerintahan yang bersih. Kalau pemerintahan yang "terkena virus" tidak akan bisa, malah bisa-bisa ketularan virusnya.
Negeri impian akan terwujud bila jiwa-jiwa didalamnya (terutama pemimpinnya) menyadari bahwa semua tingkah lakunya akan dipertanggung jawabkan diakhirat. Dan bagi para pemimpin bukan saja diakhirat tetapi dihadapan rakyat.Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafuur.
Itu impian kita semua (kecuali yang tidak berani bermimpi), dan kami hanya rakyat kecil yang bisanya hanya bermimpi, tidak lebih.
Terima kasih. Tidak ada intimidasi, tidak ada provokasi tidak ada maksud buruk dalam hati, memberi cerita adalah sebuah usaha melapangakan dada agar menjadi lega, dan berpendapat adalah hak bagi warga negara, tidak lebih dari itu, menyebut nama lalu mendiskreditkan/menghina adalah melanggar hukum, dan sepantasnya sebagai warga negara yang baik mengingatkan pada para pemimpinnya agar berntindah yang amanah, tanpa anarki dan dilakukan dengan elegan.

Rabu, 12 Mei 2010

MENEBAR ANGIN MENUAI BADAI

Peribahasa ini akan selalu berlaku, dan semakin jelas akhir-akhir ini, jaman dahulu bila kita menebar angin belum tentu langsung menuai badai, bisa kena anak atau cucu kita, tetapi sekarang adalah "instant cash",...
Bila pemerintahan menuai badai - tidak amanah kepada rakyat yang dipimpinnya - maka jelas dalam "melepas jabatan" langsung disiapkan tempat khusus "panen badai tadi", bisa berupa penjara, atau sakit yang parah dan dikucilkan dari masyarakat.
Jangan menjadi pejabat yang tidak amanah, sebanyak apapun uang anda, tidak berguna, sekuat apapun anda saat ini, tidak berguna dihari nanti, dan sewibawa dan menakutkan apapun anda saat ini, akan menjadi bukan apa-apa dikala anda lengser.
Beda pemimpin yang amanah dan tidak adalah pada masa POST POWER, setelah tidak lagi menjabat, bila pejabat yang amanah dan bersih pasti rakyat akan sangat bangga dan sangat menghargai jasa-jasa dari masa kepemimpinannya, jelas tidak terserang penyakit dan demo yang akut.
Tulisan kecil ini hanya menyampaikan gambaran yang sering penulis lihat, prihatin dengan peristiwa yang menimpa para pejabat yang telah kehilangan kekuasaannya. Sudah jatuh tertimpa tangga, ataukah tangga yang sudah dipersiapkan sendiri sebelumnya ? Atau menyiapkan lubang jebakan sendiri ? Tidak ada yang tahu, tetapi pejabat yang amanah disayang Allah SWT dan tentu rakyat akan mendukungnya dan menyayangi dengan sepenuh hati. Yang menjadi pertanyaan apakah ada pejabat yang semacam itu dibumi pertiwi ? Hanya anda yang tahu,....
Semoga bermanfaat.

BONUS DOWNLOAD
1. Flash Player 10. Klik saja.
2. WInRar 3.93, Klik Sini.
3. Google Chrome. Unduh sini.
4. XP jadi ORIGINAL. Unduh Sini.

Kamis, 25 Februari 2010

Beban Berat Rakyat Kecil

Hari-hari yang penuh keprihatinan telah menghiasi langit bangsa ini. Ditambah dengan ketidakpedulian para pemegang kekuasaan kepada situasi ini, saya tidak mengatakan ini sebuah ketidakpedulian, lebih tepatnya ketidakmampuan mereka mengelola negara ini. Bila masih terlalu "keras" pendapat saya ini saya akan mengatakan bahwa bukan sebuah ketidakmampuan melainkan "kelambatan" dari pemegang kekuasaan untuk menjadikan bangsa ini lebih baik. Mendung yang menggelayuti kehidupan rakyat kecil selalu saja dibiarkan tidak ada kata dan tindak tanduk yang bisa melegakan dan memberi kelapangan dada-dada yang telah lama terhimpit. Sesak dengan persoalan hidup dan dibebani dengan persoalan ketidakkompakkan para pemimpinnya di dalam menyelesaikan masalah. Bahkan masalah itu dijadikan sebuah "komoditi" untuk menarik hati masyarakat. Iklan yang salah tempat dan membuang uang rakyat, tetapi dengan hasil yang sekaligus menyakiti hati rakyat. Jadi tidak akan pernah berhasil guna, bila dalam kenyataanya harga beras masih mahal dan si jahat tetapi melenggang dengan tenang, dan tidak tahu malu, bebas dari hukuman dan seolah dia bersih dari dosa, sekali lagi, dengan tidak tahu malu.

ERA KELABU KAPAN BERAKHIR
Saya dan para blogger sangat khawatir dengan adanya undang-undang IT, yang mana akan mengekang kebebasan kita dalam menulis dan berpendapat. Bila salah-salah ketik kita bisa menjadi penghuni HOTEL PRODEO, dengan tulisan yang barangkali memang benar dan menyuarakan kebenaran. Hal yang paling mengerikan adalah seperti yang terjadi pada Bu Prita Mulyasari,...dan itu bisa terjadi pada siapa saja, hanya dalam kasus Bu Prita, animo masyarakat begitu besar untuk membelanya, di facebook, pool-pool online,..yang menjadi pertanyaan jika sudah banyak sekali bu prita-bu prita yang lain apakah animo masyarakat akan "semeriah waktu membela bu prita"?, Tentu tidak karena rakyat sudah bosan. Nah bila hal yang paling "menyenangkan" yaitu posting saja dilarang - padahal ini merupakan bentuk rekreasi untuk melupakan sejenak beban hidup - bagaimana kelak rakyat bisa berekspresi ? Sedangkan kita tahu setiap yang dituliskan adalah dengan berdasarkan alasan yang jelas. Tidak menuduh dan tidak merugikan pihak lain, tidak menyebut nama. Seandainyapun demikian saya rasa itu sebuah kenyataan yang baik bagi negeri yang mengaku sebagai negara demokrasi. Tetapi ini hanya sebuah kekawatiran saya saja,...semoga.
Kembali ke pertanyaan saya, kapan awan kelabu akan tersapu angin kegemilangan yang menentramkan ? Jawaban ada dibenak-benak pemimpin, didasar nurani mereka yang mendambakan kehidupan yang layak, kehidupan yang damai sejahtera. Singkat atau lambatnya bisa diprediksi, atau karena masih ingin mencari nama maka dibiarkan kabut derita ini tetapi menyelimuti persada ini, singkat tidak menguntungkan akankah dibuat menjadi lama dan menguntungkan segelintir dari orang di indonesia ini?
Bila itu terjadi, ini kiamat berkepanjangan dan kita sebagai bangsa bisa runtuh karenanya, perlu diingat itu. Ada catatan bahwa para pemimpin - baca :pejabat - tidak selamanya akan menjadi pejabat, ingat mereka akan menjadi rakyat kembali, bila dalam memimpin sewenang-wenang pastilah ketika menjadi "rakyat kembali" mereka "akan dikucilkan, dikutuk dan bahkan diacuhkan".

SOLUSI
Tidak ada solusi yang sim sala bim, semua butuh proses, dan proses memang "membosankan atau bahkan bisa menyakitkan",...berawal dari diri sendiri, kemudian anak dan istri, kemudian keluarga secara keseluruhan, lingkungan terkecil dan akhirnya kita menjadi bangkit kembali. Ada semacam kebiasaan yang terjadi tanpa adanya peraturan yang jelas bahwa sesuatu perubahan biasanya akan lebih signifikan bila diawali oleh pemimpinnya. Ini terjadi di indonesia dari jaman ke jaman. Pemimpin yang adil akan dicintai rakyatnya, dan dia menjadi pionir bagi perubah yang baik tadi. Yang menjadi pertanyaan adakah pemimpin yang demikian ?
Untuk rakyat hanya menunggu jawaban. Untuk para pemimpin hendaknya menjadi sebuah perenungan. Mari bangkit bersama.

Bonus DOWNLOAD (Ebook Dewasa)
KAMA SUTRA
KAMASUTRA INDONESIA
MULTI OS
EBOOK DEWASA

Kamis, 31 Desember 2009

Dana Kembang Api Untuk Fakir Miskin

Yang bertahun masehi adalah bukan orang islam, tetapi yang sangat antusias "merayakan" adalah orang islam, itu bukan persoalan sesungguhnya menurut saya.

Bayangkan saja, satu stik kembang api sekitar 20-25 ribu rupiah,.... berapa banyak orang yang membakar uang itu ? Jawabnya tidak terhitung, dan berapa banyak fakir miskin yang masih kurang kenyang pada malam "pembakaran dana" yang seharusnya jadi hak mereka itu ? Jawabnya masih sangat banyak, saya tidak pernah mempersoalkan anda membakar kembang api tentu saja itu uang anda sendiri, dan uang anda tentu saja anda berhak apa saja untuk menggunakannya - saya hanya memberi gambaran bukan melarang anda - dan yang menjadi kenyataanya adalah bahwa orang kaya tidak terasa uang yang dibakar-bakar pada tanggal 1 januari (malam-malam pula, tidak istirahat dengan baik dan besoknya lupa sholat shubuh, dan lain sebagainya,....) adalah uang yang seharusnya anda (orang muslim) sedekahkan kepada kaum dhuafa yang berada disekitar anda, semeriah apapun kembang api anda tidak akan berpengaruh banyak pada mereka yang dengan perut lapar menyaksikan kehingar-bingaran kembang api yang anda bakar. Cam kan apakah saya ini menyinggung anda ?

Saya bayangkan betapa banyak uang yang terkumpul dengan efektif (berhasil guna), bila pada pagi hari tanggalnya (contoh saja 1 januari), bagi-bagi rizki kepada kaum miskin yang jumlahnya kian hari kian bertambah dan mereka saudara kita, karena tidak jadi pesta kembang api maka uang itu jauh lebih indah daripada cahaya dan letupan kembang api,....bukankah senyuman dari orang yang berterima kasih akan membuat anda lebih berarti, dan lebih jauh dari itu keikhlasan kita tidak akan sia-sia (dunia dan akhirat - didunia banyak orang yang cinta dan sayang kepada kita di akhirat pahala sedekah yang tidak ada bandingnya,....)

Ucapan kosong ini mengakhiri tahun "lama" masehi dan mengawali tahun "baru" masehi yang menjadi "titik tolak" pembakaran uang sedekah kaum miskin.

Anda membaca, saya memberi gambaran, pilihan ada pada diri anda

terima kasih, selamat tahun baru hijriyah 1431, semoga kita sudah hijrah dari kegelapan menjadi cahaya, dari buruk menjadi baik dan non-muslim menjadi islam, dari yang tidak sadar menjadi sadar, dari pelit menjadi pemurah.

Kalau tidak keberatan silahkan kasih komentar ,...saya tunggu

Senin, 23 November 2009

Nasionalisasi Mungkinkah

Dalam sejarah terusan Zues pernah dikuasai bangsa lain, dan presiden Mesir kalau tidak salah Gamal Abdul Nasser, tahun 1956, biarpun ditentang oleh Prancis, Inggris dan tentu Israel,...tetap tidak bergeming agar tetap dinasionalisasi dikuasai oleh Yang Punya Tanah yakni Mesir, dan jadilah terusan yang sangat ramai = dan memang berada didaerah kekuasaan mesir= ini menjadi milik Mesir seutuhnya, bukan "disewa" pihak asing seperti Prancis, apalagi dikuasai,...sungguh contoh heroik yang nyata di jaman sekarang, dan kita rasanya (baca :pejabat kita) lebih senang = memprivatisasi = asset negara yang mengandung dan diperuntukkan bagi rakyat banyak,....contohnya satu saja, Indosat, jaman presiden Megawati Soekarno Putri, diprivatisasi atau malah di"lego" keluar negeri (pembelinya adalah Perusahaan Telekomunikasi Singapura), ibarat punya CCTV remotnya dau diberikan kepada Singapura, segala kegiatan kita bisa dipantau seenak perut mereka sendiri,.....dan anehnya ini tidak pernah "terpikirkan" oleh pejabat yang berkuasa,....Indosat adalah salah satu contoh kecil, bagaimana dengan pulau yang dicaplok Malaysia? Sipadan dan Ligitan ? Jawabnya pun sama, karena kita lebih senang "memprivatisasi atau bahkan menjual aset bangsa ini dengan "blunder" yang sangat tidak masuk akal, sudah rugi membahayakan pula. Bagaimana mungkin kita bisa menasionalisasi berbagai perusahaan asing yang sangat merugikan bangsa ini, bila dalam benak pejabat hanya ingin "menjual, menjual, dan menjual" dengan harapan, adanya komisi, komisi dan komisi, tidak peduli bangsanya akan hancur, tidak peduli rakyatnya menjadi korban, yang penting dapat "jatah" dari aksi "obral tanpa dosa" ini.
Bisa mencontoh presiden Gamal Abdul Nasser adalah isapan jempol belaka, atau khayalan tingkat tinggi setara mimpi disiang bolong. Cam kan dengan baik, yang akan saya sebutkan berikut ini :Freeport, Exxon Mobile, Blok Natuna, Blok Ambalat, Timor Timur, Indosat, ...... apakah TIDAK MUNGKIN dinasionalisasi, adakah yang berani seperti presiden Hugo Chavez (venezuela) yang mengusir pemilik modal asing yang "merugikan bangsanya", sekali lagi yang merugikan bangsanya (venezuela) lalu dinasionalisasi, kalau yang mau kompromi dengan Pak Hugo - yang jelas menguntungkan rakyatnya - boleh bercokol disana tetapi dengan pengendalian pemerintah Pak Hugo Chavez, ini luar biasa, tidak seperti Indonesia, negeri yang sangat BANCI dan MALU-MALUIN dalam membela rakyatnya,.....biarlah pembagian hasil yang sangat tidak adil, demi pembangunan - pertanyaanya adakah Insinyur yang berasal dari Indonesia, yang bisa menggantikan tenaga asing yang dibayar mahal itu ?, atau berpuluh-puluh tahun hanya ada orang dungu yang menyandang gelar Sarjana Teknik (Perminyakan, Metalurgi, Pertambangan dll) ?? Adalah hal ini mustahil, banyak jenius produk dalam negeri dari Indonesia asli - bukan orang indo melainkan orang Indonesia - pembagian yang adil adalah 55 pemerintah dan 45 si penyewa/pengelola karena kita yang punya, bukan bagi hasil antara monyet dan manusia, 15 untuk yang punya dan 85 untuk yang menyewa,....bahlul.
Cukup geram kalau saya tuliskan hal ini, tetapi adakah yang ingin menyadarkan diri kalian, menyadari bangsa ini JANGANLAH DIGADAIKAN, janganlah tangan asing yang KOTOR dan KEJAM membasuh-basuh bumi muslim ini dengan perusakan dengan IMBALAN Yang AMAT BESAR (85%),....ayolah realistis, barangkali jaman tahun 1965 mereka masih dibutuhkan dengan sangat karena LULUSAN yang JADI INSINYUR belum banyak, yang expert belum banyak yang mumpuni masih sedikit, tapi sekarang yang jenius sudah berjibun, yang akhli tak terhitung mengapa kita masih saja memakai "mereka", kata yang pas untuk negara yang cerdas adalah PULANGKAN SAJA mereka yang telah sekianlama menjadi benalu di atas bumi nusantara ini, dengan baik-baik ataupun dengan "terpaksa", ini layak bagi sebuah negeri yang sudah merdeka dan mempunyai kemampuan. Mereka ibarat RODA CADANGAN pada sepeda mini - khusus untuk balita - bila sudah bisa mengendarai dengan RODA DUA mengapa RODA CADANGAN masih TETAP DIPASANG ? Sangat menganggu pemandangan dan dipertanyakan fungsinya, atau pantasnya dijadikan barang antik saja, anak lima tahun juga tahu, dikemanakan BARANG YANG SUDAH KADALUWARSA FUNGSINYA,....B-U-A-N-G.
Saya sebutkan apakah ini daftar privatisasi atau malah yang akan dilego ke orang asing. Pertamina, PLN, Industri PUPUK. Kalau semua mau diprivatisasi mengapa kita tidak "menyewa saja orang swasta" untuk menjalankan negeri ini, atau impor orang asing sekalian untuk menjalankan pemerintahan. Berpikir dengan jernih, bukan dengan emosi. Yang terakhir JANGAN PERNAH ADANYA REFERANDUM lagi dengan pilihan Merdeka atau Gabung NKRI. Karena sudah jelas mereka akan memilih MERDEKA. Karena mereka PINTAR, merdeka berarti lepas dari orang-orang yang JUMUD dan NON-Kreatif.
Coba direnungkan dengan masak-masak, terima kasih.

KRITIK BUKAN BERARTI BENCI

SUDAH DARI DULU SAYA KRITISI Bagi yang pernah membaca tulisan-tulisan saya dari mulai saya menulis di blog ini, pasti tahu dengan pasti saya...