HANYA KELUHANKU SAJA
Apakah yang akan menjadi pertanyaan anda dan saya akan sama ? Karena posisi dan makom yang berbeda ? Gaji saya tidak naik-naik sedangkan kebutuhan :baca: harga-harga tidak bisa menahan diri untuk melambung. Menjerit dan meronta batin ini menghadapi kenyataan pahit ini tetapi sekali lagi saya tidak berdaya sama sekali. Mungkin berbeda dengan kalian yang makmur dan sejahtera, tidak memikirkan apa yang akan anda makan hari esok. Kebutuhan memang kadang dibawah keinginan atau syahwat kita, tetapi perlu anda ketahui keinginan anda yang makmur dan sejahtera adalah sama dengan kami yang berada dibayang-bayang kemiskinan, tidak ada bedanya, yang membedakan adalah kalian bisa mewujudkan keinginan yang diinginkan sedangkan kami menggantungnya diangan kami dan entah sampai kapan akan kami raih. Lihat kami, yang setiap tahun, bulan, hari bahkan detik selalu was-was kontrak kerja kami habis, dan entah disengaja atau tidak habisnya kok ya sebelum Idul Fitri itu artinya TIDAK ADA THR BUAT KAMI, dan memang demikian adanya kami yang sudah kembang kempis mempertahankan kehidupan yang "sulit" ini ditindih dengan beban-beban keinginan yang sama dengan kalian sementara itu perlakuan yang diberikan kepada kami berbeda antara langit dan bumi dengan kalian. Gaji kalian naik terus, tunjangan, bahkan ada gaji ke 13, apakah anda pikir ini tidak akan membuat kami iri ? Berbesar hati memang selalu menjadi makanan kami sehari-hari, merasa tidak mampu untuk bicara ya kami diam, merasa tidak bisa berontak ya kami menurut,....ini tuntutan hidup bung, yang membuat kami tidak berdaya, anak-anak kami yang kurang gizi (susu tak terbeli orang pintar tarik subsidi, hasilnya kata musikus iwan fals bayi kami kurang gizi), nah ini terjadi dan selalu terjadi, dan memang ini tidak adil. Terjadi disemua negeri dan terjadi di Indonesia, tetapi yang membedakan barangkali, terjadi pada diriku sendiri.
yang menjadikan saya menjadi tambah sesak dada adalah ditengah kesulitan kami ada orang kaya (yang jelas tidak pernah peduli dengan kemiskinan saudaranya) berpesta pora membuang-buang makanan, menghambur-hamburkan uang untuk syahwatnya sendiri,...jangan saya dikatakan suka ikut campur urusan orang lain. Yang menjadi masalah adalah orang itu kita bayar rame-rame lewat pajak yang kami bayar, dan kami tahu kami kelaparan sementara dengan entengnya mereka membuang makanan (yang pantas makan) didepan kami tanpa permisi dan tanpa hati, yang kami tahu mereka bukanlah orang pilihan yang kami kenal, mereka adalah orang yang tidak amanah dan kelak akan kami mintai pertanggungjawabannya diakhirat, dan saya yakin mereka orang yang bisa merugi bila kebiasaan buruk mereka dibawa sampai mati dan belum sempat bertobat. Mereka tidak punya hati, sementara kami sangat lapar, sangat membutuhkan pekerjaan sangat membutuhkan susu untuk balita kami sangat membutuhkan rumah buat kami,....kebisaan mereka hanya menyengsarakan rakyat, menambah beban hidup kami orang-orang kecil, dan tidak sedikitpun mereka berusaha dengan ikhlas sekali lagi dengan ikhlas mau membantu meringankan beban kami, mau memberi setetes embun kelegaan bagi kami, ketenteraman yang secuil pun tidak pernah terpikirkan oleh mereka, apakah mereka bahagia ? Saya tidak tahu, tetapi mereka jelas tidak akan mendapat kebahagiaan yang diperoleh dari penderitaan rakyat,....bukan sebuah kutukan dari kami tetapi sebuah balasan dari Allah Swt.
Saya pribadi tidak menganggur saudara, tetapi tetap saja saya bisa merasakan bagaimana kesulitan yang akan saya peroleh bila keadaan terus-menerus begini, saya seolah tinggal dinegeri angkara murka yang berkuasa, negeri durjana meraja lela tanpa ada yang mampu menolaknya. Negeri bersimbah dosa, negeri impian para syetan, dan daarul bawar, yang ada.....masyaallah, astaghfirullah....
Bagaimana dengan saudaraku yang tidak beruntung tidak mempunyai pekerjaan ? Apakah ada yang perhatian kepada mereka-mereka itu ? Hati-hati kita sudah pada mati, hati-hati kita sudah tidak peduli, tidak mau berkorban untuk saudara yang kekurangan an sangat membutuhkan bantuan,....baru membantu bila menguntungkan partai dan golongan mereka, itupun dikorupsi,....sungguh kejam.
MELIHAT NEGERI IMPIAN YANG AKAN SELALU JADI MIMPI YANG TAK KUNJUNG TERWUJUD
Negeri impian adalah dimana para penguasa dan para alim ulama akan berjalan seiring dengan memberi nasihat yang baik dan para penguasa begitu amanah mengemban tampuk yang dipercayakan rakyat kepadanya, begitu dekat dengan Allah Swt, begitu ikhsan merasakan bahwa tanggung jawab ini tidak semata-mata kepada wakil-wakil rakyat, kepada rakyat tetapi tanggungjawab pribadi kepada Allah Swt. Sehingga tidak ada kezaliman yang diberikan kepada rakyat dan dirinya, dan hukum akan begitu luhur dijunjung tidak tebang pilih dan menjadi sesuatu yang disegani, bukan ditakuti, apalagi sesuatu yang bisa direkayasa. Jalan-jalan tertib, kendaraan lirih suaranya dan tertib jalannya, terlihat ada yang kebut-kebutan ternyata itu hanya ada di arena balapan Formula Satu yang diadakan di sirkuit Sentul saja, bukan dijalan-jalan umum, pejalan kaki nyaman, menyeberang tidak dengan was-was dan buru-buru, semua orang yang melanggar tertangkan kamera CCTV dan ditilang (tidak ada negosiasi yang seperti dinegeri tetangga kita, bukakah damai itu indah, tetapi damai dari tilang akan menimbulkan fitnah). Bagi kami, bila para wakil bekerja dengan berhasilguna dan amanah, tidak ada alasan untuk memberi mereka jatah lebih, kami mengusulkan agar kesejahteraan mereka ditambah, karena kami pun sudah sejahtera. Bukan mereka yang meminta naik gaji, tambah tunjangan sementara mereka "belum kerja sama sekali", atau hasil kerja mereka tidak ada manfaatnya, kecuali membuang-buang waktu dan uang rakyat. Dan ini menjadi sebuah kebiasaan yang akan diwariskan kepada generasi selanjutnya. Maaf bila itu terjadi, kiamat lah itu namanya.
Negeri impian diawali oleh sebuah idealisme yang benar, bukan syahwat dan oportunitas yang bias dan penuh tendensius, orang kita bila nafsu membuat udang dibalikbatu, tidak progresif dan visioner, hanya sebatas nafsunya saja. Idealisme muncul biasanya bila menjadi pejabat dengan bersih, sebagus apapun sistem bila terkena {virus} pastilah akan tidak berjalan dengan baik, bahkan macet atau malah menyimpang dengan sangat jauh. Dan ini terjadi, kesalahan awal dari paradigma kita (bukan saya saja tetapi sebagian besar kita) bahwa untuk menjabat sesuatu "pasti menyuap" bukan dengan jalan yang berkah, tetapi jalan belakang yang didorong syetan. Dan untuk menghentikan ini perlu adanya revolusi, bukan sekedar reformasi, karena form yang terbentuk terdahulu rupanya format yang salah, sehingga direformasi malah tambah amburadul dan kebablasan. Atau ini mencerminkan sempit dan piciknya kita, atau kekalahan kita dari hawa nafsu yang merupakan kendaraan syetan ? Jawaban yang pasti tidak saya temukan, walapun ditemukan entah dimana tempatnya, Ebit bilang tanyakan saja pada rumput yang bergoyang. Jangan menyalahkan orang lain, pejabat atau yang paling penting adalah lihatlah kepada diri sendiri, bahwa melihat kesalahan sudah seyogyanya memberi peringatan, kalau tidak ingat juga beri tindakan tegas, dan itu yang bisa melakukan hanya pemerintahan yang bersih. Kalau pemerintahan yang "terkena virus" tidak akan bisa, malah bisa-bisa ketularan virusnya.
Negeri impian akan terwujud bila jiwa-jiwa didalamnya (terutama pemimpinnya) menyadari bahwa semua tingkah lakunya akan dipertanggung jawabkan diakhirat. Dan bagi para pemimpin bukan saja diakhirat tetapi dihadapan rakyat.Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafuur.
Itu impian kita semua (kecuali yang tidak berani bermimpi), dan kami hanya rakyat kecil yang bisanya hanya bermimpi, tidak lebih.
Terima kasih. Tidak ada intimidasi, tidak ada provokasi tidak ada maksud buruk dalam hati, memberi cerita adalah sebuah usaha melapangakan dada agar menjadi lega, dan berpendapat adalah hak bagi warga negara, tidak lebih dari itu, menyebut nama lalu mendiskreditkan/menghina adalah melanggar hukum, dan sepantasnya sebagai warga negara yang baik mengingatkan pada para pemimpinnya agar berntindah yang amanah, tanpa anarki dan dilakukan dengan elegan.
Sabtu, 31 Juli 2010
Rabu, 12 Mei 2010
MENEBAR ANGIN MENUAI BADAI
Peribahasa ini akan selalu berlaku, dan semakin jelas akhir-akhir ini, jaman dahulu bila kita menebar angin belum tentu langsung menuai badai, bisa kena anak atau cucu kita, tetapi sekarang adalah "instant cash",...
Bila pemerintahan menuai badai - tidak amanah kepada rakyat yang dipimpinnya - maka jelas dalam "melepas jabatan" langsung disiapkan tempat khusus "panen badai tadi", bisa berupa penjara, atau sakit yang parah dan dikucilkan dari masyarakat.
Jangan menjadi pejabat yang tidak amanah, sebanyak apapun uang anda, tidak berguna, sekuat apapun anda saat ini, tidak berguna dihari nanti, dan sewibawa dan menakutkan apapun anda saat ini, akan menjadi bukan apa-apa dikala anda lengser.
Beda pemimpin yang amanah dan tidak adalah pada masa POST POWER, setelah tidak lagi menjabat, bila pejabat yang amanah dan bersih pasti rakyat akan sangat bangga dan sangat menghargai jasa-jasa dari masa kepemimpinannya, jelas tidak terserang penyakit dan demo yang akut.
Tulisan kecil ini hanya menyampaikan gambaran yang sering penulis lihat, prihatin dengan peristiwa yang menimpa para pejabat yang telah kehilangan kekuasaannya. Sudah jatuh tertimpa tangga, ataukah tangga yang sudah dipersiapkan sendiri sebelumnya ? Atau menyiapkan lubang jebakan sendiri ? Tidak ada yang tahu, tetapi pejabat yang amanah disayang Allah SWT dan tentu rakyat akan mendukungnya dan menyayangi dengan sepenuh hati. Yang menjadi pertanyaan apakah ada pejabat yang semacam itu dibumi pertiwi ? Hanya anda yang tahu,....
Semoga bermanfaat.
BONUS DOWNLOAD
1. Flash Player 10. Klik saja.
2. WInRar 3.93, Klik Sini.
3. Google Chrome. Unduh sini.
4. XP jadi ORIGINAL. Unduh Sini.
Bila pemerintahan menuai badai - tidak amanah kepada rakyat yang dipimpinnya - maka jelas dalam "melepas jabatan" langsung disiapkan tempat khusus "panen badai tadi", bisa berupa penjara, atau sakit yang parah dan dikucilkan dari masyarakat.
Jangan menjadi pejabat yang tidak amanah, sebanyak apapun uang anda, tidak berguna, sekuat apapun anda saat ini, tidak berguna dihari nanti, dan sewibawa dan menakutkan apapun anda saat ini, akan menjadi bukan apa-apa dikala anda lengser.
Beda pemimpin yang amanah dan tidak adalah pada masa POST POWER, setelah tidak lagi menjabat, bila pejabat yang amanah dan bersih pasti rakyat akan sangat bangga dan sangat menghargai jasa-jasa dari masa kepemimpinannya, jelas tidak terserang penyakit dan demo yang akut.
Tulisan kecil ini hanya menyampaikan gambaran yang sering penulis lihat, prihatin dengan peristiwa yang menimpa para pejabat yang telah kehilangan kekuasaannya. Sudah jatuh tertimpa tangga, ataukah tangga yang sudah dipersiapkan sendiri sebelumnya ? Atau menyiapkan lubang jebakan sendiri ? Tidak ada yang tahu, tetapi pejabat yang amanah disayang Allah SWT dan tentu rakyat akan mendukungnya dan menyayangi dengan sepenuh hati. Yang menjadi pertanyaan apakah ada pejabat yang semacam itu dibumi pertiwi ? Hanya anda yang tahu,....
Semoga bermanfaat.
BONUS DOWNLOAD
1. Flash Player 10. Klik saja.
2. WInRar 3.93, Klik Sini.
3. Google Chrome. Unduh sini.
4. XP jadi ORIGINAL. Unduh Sini.
Kamis, 25 Februari 2010
Beban Berat Rakyat Kecil
Hari-hari yang penuh keprihatinan telah menghiasi langit bangsa ini. Ditambah dengan ketidakpedulian para pemegang kekuasaan kepada situasi ini, saya tidak mengatakan ini sebuah ketidakpedulian, lebih tepatnya ketidakmampuan mereka mengelola negara ini. Bila masih terlalu "keras" pendapat saya ini saya akan mengatakan bahwa bukan sebuah ketidakmampuan melainkan "kelambatan" dari pemegang kekuasaan untuk menjadikan bangsa ini lebih baik. Mendung yang menggelayuti kehidupan rakyat kecil selalu saja dibiarkan tidak ada kata dan tindak tanduk yang bisa melegakan dan memberi kelapangan dada-dada yang telah lama terhimpit. Sesak dengan persoalan hidup dan dibebani dengan persoalan ketidakkompakkan para pemimpinnya di dalam menyelesaikan masalah. Bahkan masalah itu dijadikan sebuah "komoditi" untuk menarik hati masyarakat. Iklan yang salah tempat dan membuang uang rakyat, tetapi dengan hasil yang sekaligus menyakiti hati rakyat. Jadi tidak akan pernah berhasil guna, bila dalam kenyataanya harga beras masih mahal dan si jahat tetapi melenggang dengan tenang, dan tidak tahu malu, bebas dari hukuman dan seolah dia bersih dari dosa, sekali lagi, dengan tidak tahu malu.
ERA KELABU KAPAN BERAKHIR
Saya dan para blogger sangat khawatir dengan adanya undang-undang IT, yang mana akan mengekang kebebasan kita dalam menulis dan berpendapat. Bila salah-salah ketik kita bisa menjadi penghuni HOTEL PRODEO, dengan tulisan yang barangkali memang benar dan menyuarakan kebenaran. Hal yang paling mengerikan adalah seperti yang terjadi pada Bu Prita Mulyasari,...dan itu bisa terjadi pada siapa saja, hanya dalam kasus Bu Prita, animo masyarakat begitu besar untuk membelanya, di facebook, pool-pool online,..yang menjadi pertanyaan jika sudah banyak sekali bu prita-bu prita yang lain apakah animo masyarakat akan "semeriah waktu membela bu prita"?, Tentu tidak karena rakyat sudah bosan. Nah bila hal yang paling "menyenangkan" yaitu posting saja dilarang - padahal ini merupakan bentuk rekreasi untuk melupakan sejenak beban hidup - bagaimana kelak rakyat bisa berekspresi ? Sedangkan kita tahu setiap yang dituliskan adalah dengan berdasarkan alasan yang jelas. Tidak menuduh dan tidak merugikan pihak lain, tidak menyebut nama. Seandainyapun demikian saya rasa itu sebuah kenyataan yang baik bagi negeri yang mengaku sebagai negara demokrasi. Tetapi ini hanya sebuah kekawatiran saya saja,...semoga.
Kembali ke pertanyaan saya, kapan awan kelabu akan tersapu angin kegemilangan yang menentramkan ? Jawaban ada dibenak-benak pemimpin, didasar nurani mereka yang mendambakan kehidupan yang layak, kehidupan yang damai sejahtera. Singkat atau lambatnya bisa diprediksi, atau karena masih ingin mencari nama maka dibiarkan kabut derita ini tetapi menyelimuti persada ini, singkat tidak menguntungkan akankah dibuat menjadi lama dan menguntungkan segelintir dari orang di indonesia ini?
Bila itu terjadi, ini kiamat berkepanjangan dan kita sebagai bangsa bisa runtuh karenanya, perlu diingat itu. Ada catatan bahwa para pemimpin - baca :pejabat - tidak selamanya akan menjadi pejabat, ingat mereka akan menjadi rakyat kembali, bila dalam memimpin sewenang-wenang pastilah ketika menjadi "rakyat kembali" mereka "akan dikucilkan, dikutuk dan bahkan diacuhkan".
SOLUSI
Tidak ada solusi yang sim sala bim, semua butuh proses, dan proses memang "membosankan atau bahkan bisa menyakitkan",...berawal dari diri sendiri, kemudian anak dan istri, kemudian keluarga secara keseluruhan, lingkungan terkecil dan akhirnya kita menjadi bangkit kembali. Ada semacam kebiasaan yang terjadi tanpa adanya peraturan yang jelas bahwa sesuatu perubahan biasanya akan lebih signifikan bila diawali oleh pemimpinnya. Ini terjadi di indonesia dari jaman ke jaman. Pemimpin yang adil akan dicintai rakyatnya, dan dia menjadi pionir bagi perubah yang baik tadi. Yang menjadi pertanyaan adakah pemimpin yang demikian ?
Untuk rakyat hanya menunggu jawaban. Untuk para pemimpin hendaknya menjadi sebuah perenungan. Mari bangkit bersama.
Bonus DOWNLOAD (Ebook Dewasa)
KAMA SUTRA
KAMASUTRA INDONESIA
MULTI OS
EBOOK DEWASA
ERA KELABU KAPAN BERAKHIR
Saya dan para blogger sangat khawatir dengan adanya undang-undang IT, yang mana akan mengekang kebebasan kita dalam menulis dan berpendapat. Bila salah-salah ketik kita bisa menjadi penghuni HOTEL PRODEO, dengan tulisan yang barangkali memang benar dan menyuarakan kebenaran. Hal yang paling mengerikan adalah seperti yang terjadi pada Bu Prita Mulyasari,...dan itu bisa terjadi pada siapa saja, hanya dalam kasus Bu Prita, animo masyarakat begitu besar untuk membelanya, di facebook, pool-pool online,..yang menjadi pertanyaan jika sudah banyak sekali bu prita-bu prita yang lain apakah animo masyarakat akan "semeriah waktu membela bu prita"?, Tentu tidak karena rakyat sudah bosan. Nah bila hal yang paling "menyenangkan" yaitu posting saja dilarang - padahal ini merupakan bentuk rekreasi untuk melupakan sejenak beban hidup - bagaimana kelak rakyat bisa berekspresi ? Sedangkan kita tahu setiap yang dituliskan adalah dengan berdasarkan alasan yang jelas. Tidak menuduh dan tidak merugikan pihak lain, tidak menyebut nama. Seandainyapun demikian saya rasa itu sebuah kenyataan yang baik bagi negeri yang mengaku sebagai negara demokrasi. Tetapi ini hanya sebuah kekawatiran saya saja,...semoga.
Kembali ke pertanyaan saya, kapan awan kelabu akan tersapu angin kegemilangan yang menentramkan ? Jawaban ada dibenak-benak pemimpin, didasar nurani mereka yang mendambakan kehidupan yang layak, kehidupan yang damai sejahtera. Singkat atau lambatnya bisa diprediksi, atau karena masih ingin mencari nama maka dibiarkan kabut derita ini tetapi menyelimuti persada ini, singkat tidak menguntungkan akankah dibuat menjadi lama dan menguntungkan segelintir dari orang di indonesia ini?
Bila itu terjadi, ini kiamat berkepanjangan dan kita sebagai bangsa bisa runtuh karenanya, perlu diingat itu. Ada catatan bahwa para pemimpin - baca :pejabat - tidak selamanya akan menjadi pejabat, ingat mereka akan menjadi rakyat kembali, bila dalam memimpin sewenang-wenang pastilah ketika menjadi "rakyat kembali" mereka "akan dikucilkan, dikutuk dan bahkan diacuhkan".
SOLUSI
Tidak ada solusi yang sim sala bim, semua butuh proses, dan proses memang "membosankan atau bahkan bisa menyakitkan",...berawal dari diri sendiri, kemudian anak dan istri, kemudian keluarga secara keseluruhan, lingkungan terkecil dan akhirnya kita menjadi bangkit kembali. Ada semacam kebiasaan yang terjadi tanpa adanya peraturan yang jelas bahwa sesuatu perubahan biasanya akan lebih signifikan bila diawali oleh pemimpinnya. Ini terjadi di indonesia dari jaman ke jaman. Pemimpin yang adil akan dicintai rakyatnya, dan dia menjadi pionir bagi perubah yang baik tadi. Yang menjadi pertanyaan adakah pemimpin yang demikian ?
Untuk rakyat hanya menunggu jawaban. Untuk para pemimpin hendaknya menjadi sebuah perenungan. Mari bangkit bersama.
Bonus DOWNLOAD (Ebook Dewasa)
KAMA SUTRA
KAMASUTRA INDONESIA
MULTI OS
EBOOK DEWASA
Kamis, 31 Desember 2009
Dana Kembang Api Untuk Fakir Miskin
Yang bertahun masehi adalah bukan orang islam, tetapi yang sangat antusias "merayakan" adalah orang islam, itu bukan persoalan sesungguhnya menurut saya.
Bayangkan saja, satu stik kembang api sekitar 20-25 ribu rupiah,.... berapa banyak orang yang membakar uang itu ? Jawabnya tidak terhitung, dan berapa banyak fakir miskin yang masih kurang kenyang pada malam "pembakaran dana" yang seharusnya jadi hak mereka itu ? Jawabnya masih sangat banyak, saya tidak pernah mempersoalkan anda membakar kembang api tentu saja itu uang anda sendiri, dan uang anda tentu saja anda berhak apa saja untuk menggunakannya - saya hanya memberi gambaran bukan melarang anda - dan yang menjadi kenyataanya adalah bahwa orang kaya tidak terasa uang yang dibakar-bakar pada tanggal 1 januari (malam-malam pula, tidak istirahat dengan baik dan besoknya lupa sholat shubuh, dan lain sebagainya,....) adalah uang yang seharusnya anda (orang muslim) sedekahkan kepada kaum dhuafa yang berada disekitar anda, semeriah apapun kembang api anda tidak akan berpengaruh banyak pada mereka yang dengan perut lapar menyaksikan kehingar-bingaran kembang api yang anda bakar. Cam kan apakah saya ini menyinggung anda ?
Saya bayangkan betapa banyak uang yang terkumpul dengan efektif (berhasil guna), bila pada pagi hari tanggalnya (contoh saja 1 januari), bagi-bagi rizki kepada kaum miskin yang jumlahnya kian hari kian bertambah dan mereka saudara kita, karena tidak jadi pesta kembang api maka uang itu jauh lebih indah daripada cahaya dan letupan kembang api,....bukankah senyuman dari orang yang berterima kasih akan membuat anda lebih berarti, dan lebih jauh dari itu keikhlasan kita tidak akan sia-sia (dunia dan akhirat - didunia banyak orang yang cinta dan sayang kepada kita di akhirat pahala sedekah yang tidak ada bandingnya,....)
Ucapan kosong ini mengakhiri tahun "lama" masehi dan mengawali tahun "baru" masehi yang menjadi "titik tolak" pembakaran uang sedekah kaum miskin.
Anda membaca, saya memberi gambaran, pilihan ada pada diri anda
terima kasih, selamat tahun baru hijriyah 1431, semoga kita sudah hijrah dari kegelapan menjadi cahaya, dari buruk menjadi baik dan non-muslim menjadi islam, dari yang tidak sadar menjadi sadar, dari pelit menjadi pemurah.
Kalau tidak keberatan silahkan kasih komentar ,...saya tunggu
Bayangkan saja, satu stik kembang api sekitar 20-25 ribu rupiah,.... berapa banyak orang yang membakar uang itu ? Jawabnya tidak terhitung, dan berapa banyak fakir miskin yang masih kurang kenyang pada malam "pembakaran dana" yang seharusnya jadi hak mereka itu ? Jawabnya masih sangat banyak, saya tidak pernah mempersoalkan anda membakar kembang api tentu saja itu uang anda sendiri, dan uang anda tentu saja anda berhak apa saja untuk menggunakannya - saya hanya memberi gambaran bukan melarang anda - dan yang menjadi kenyataanya adalah bahwa orang kaya tidak terasa uang yang dibakar-bakar pada tanggal 1 januari (malam-malam pula, tidak istirahat dengan baik dan besoknya lupa sholat shubuh, dan lain sebagainya,....) adalah uang yang seharusnya anda (orang muslim) sedekahkan kepada kaum dhuafa yang berada disekitar anda, semeriah apapun kembang api anda tidak akan berpengaruh banyak pada mereka yang dengan perut lapar menyaksikan kehingar-bingaran kembang api yang anda bakar. Cam kan apakah saya ini menyinggung anda ?
Saya bayangkan betapa banyak uang yang terkumpul dengan efektif (berhasil guna), bila pada pagi hari tanggalnya (contoh saja 1 januari), bagi-bagi rizki kepada kaum miskin yang jumlahnya kian hari kian bertambah dan mereka saudara kita, karena tidak jadi pesta kembang api maka uang itu jauh lebih indah daripada cahaya dan letupan kembang api,....bukankah senyuman dari orang yang berterima kasih akan membuat anda lebih berarti, dan lebih jauh dari itu keikhlasan kita tidak akan sia-sia (dunia dan akhirat - didunia banyak orang yang cinta dan sayang kepada kita di akhirat pahala sedekah yang tidak ada bandingnya,....)
Ucapan kosong ini mengakhiri tahun "lama" masehi dan mengawali tahun "baru" masehi yang menjadi "titik tolak" pembakaran uang sedekah kaum miskin.
Anda membaca, saya memberi gambaran, pilihan ada pada diri anda
terima kasih, selamat tahun baru hijriyah 1431, semoga kita sudah hijrah dari kegelapan menjadi cahaya, dari buruk menjadi baik dan non-muslim menjadi islam, dari yang tidak sadar menjadi sadar, dari pelit menjadi pemurah.
Kalau tidak keberatan silahkan kasih komentar ,...saya tunggu
Senin, 23 November 2009
Nasionalisasi Mungkinkah
Dalam sejarah terusan Zues pernah dikuasai bangsa lain, dan presiden Mesir kalau tidak salah Gamal Abdul Nasser, tahun 1956, biarpun ditentang oleh Prancis, Inggris dan tentu Israel,...tetap tidak bergeming agar tetap dinasionalisasi dikuasai oleh Yang Punya Tanah yakni Mesir, dan jadilah terusan yang sangat ramai = dan memang berada didaerah kekuasaan mesir= ini menjadi milik Mesir seutuhnya, bukan "disewa" pihak asing seperti Prancis, apalagi dikuasai,...sungguh contoh heroik yang nyata di jaman sekarang, dan kita rasanya (baca :pejabat kita) lebih senang = memprivatisasi = asset negara yang mengandung dan diperuntukkan bagi rakyat banyak,....contohnya satu saja, Indosat, jaman presiden Megawati Soekarno Putri, diprivatisasi atau malah di"lego" keluar negeri (pembelinya adalah Perusahaan Telekomunikasi Singapura), ibarat punya CCTV remotnya dau diberikan kepada Singapura, segala kegiatan kita bisa dipantau seenak perut mereka sendiri,.....dan anehnya ini tidak pernah "terpikirkan" oleh pejabat yang berkuasa,....Indosat adalah salah satu contoh kecil, bagaimana dengan pulau yang dicaplok Malaysia? Sipadan dan Ligitan ? Jawabnya pun sama, karena kita lebih senang "memprivatisasi atau bahkan menjual aset bangsa ini dengan "blunder" yang sangat tidak masuk akal, sudah rugi membahayakan pula. Bagaimana mungkin kita bisa menasionalisasi berbagai perusahaan asing yang sangat merugikan bangsa ini, bila dalam benak pejabat hanya ingin "menjual, menjual, dan menjual" dengan harapan, adanya komisi, komisi dan komisi, tidak peduli bangsanya akan hancur, tidak peduli rakyatnya menjadi korban, yang penting dapat "jatah" dari aksi "obral tanpa dosa" ini.
Bisa mencontoh presiden Gamal Abdul Nasser adalah isapan jempol belaka, atau khayalan tingkat tinggi setara mimpi disiang bolong. Cam kan dengan baik, yang akan saya sebutkan berikut ini :Freeport, Exxon Mobile, Blok Natuna, Blok Ambalat, Timor Timur, Indosat, ...... apakah TIDAK MUNGKIN dinasionalisasi, adakah yang berani seperti presiden Hugo Chavez (venezuela) yang mengusir pemilik modal asing yang "merugikan bangsanya", sekali lagi yang merugikan bangsanya (venezuela) lalu dinasionalisasi, kalau yang mau kompromi dengan Pak Hugo - yang jelas menguntungkan rakyatnya - boleh bercokol disana tetapi dengan pengendalian pemerintah Pak Hugo Chavez, ini luar biasa, tidak seperti Indonesia, negeri yang sangat BANCI dan MALU-MALUIN dalam membela rakyatnya,.....biarlah pembagian hasil yang sangat tidak adil, demi pembangunan - pertanyaanya adakah Insinyur yang berasal dari Indonesia, yang bisa menggantikan tenaga asing yang dibayar mahal itu ?, atau berpuluh-puluh tahun hanya ada orang dungu yang menyandang gelar Sarjana Teknik (Perminyakan, Metalurgi, Pertambangan dll) ?? Adalah hal ini mustahil, banyak jenius produk dalam negeri dari Indonesia asli - bukan orang indo melainkan orang Indonesia - pembagian yang adil adalah 55 pemerintah dan 45 si penyewa/pengelola karena kita yang punya, bukan bagi hasil antara monyet dan manusia, 15 untuk yang punya dan 85 untuk yang menyewa,....bahlul.
Cukup geram kalau saya tuliskan hal ini, tetapi adakah yang ingin menyadarkan diri kalian, menyadari bangsa ini JANGANLAH DIGADAIKAN, janganlah tangan asing yang KOTOR dan KEJAM membasuh-basuh bumi muslim ini dengan perusakan dengan IMBALAN Yang AMAT BESAR (85%),....ayolah realistis, barangkali jaman tahun 1965 mereka masih dibutuhkan dengan sangat karena LULUSAN yang JADI INSINYUR belum banyak, yang expert belum banyak yang mumpuni masih sedikit, tapi sekarang yang jenius sudah berjibun, yang akhli tak terhitung mengapa kita masih saja memakai "mereka", kata yang pas untuk negara yang cerdas adalah PULANGKAN SAJA mereka yang telah sekianlama menjadi benalu di atas bumi nusantara ini, dengan baik-baik ataupun dengan "terpaksa", ini layak bagi sebuah negeri yang sudah merdeka dan mempunyai kemampuan. Mereka ibarat RODA CADANGAN pada sepeda mini - khusus untuk balita - bila sudah bisa mengendarai dengan RODA DUA mengapa RODA CADANGAN masih TETAP DIPASANG ? Sangat menganggu pemandangan dan dipertanyakan fungsinya, atau pantasnya dijadikan barang antik saja, anak lima tahun juga tahu, dikemanakan BARANG YANG SUDAH KADALUWARSA FUNGSINYA,....B-U-A-N-G.
Saya sebutkan apakah ini daftar privatisasi atau malah yang akan dilego ke orang asing. Pertamina, PLN, Industri PUPUK. Kalau semua mau diprivatisasi mengapa kita tidak "menyewa saja orang swasta" untuk menjalankan negeri ini, atau impor orang asing sekalian untuk menjalankan pemerintahan. Berpikir dengan jernih, bukan dengan emosi. Yang terakhir JANGAN PERNAH ADANYA REFERANDUM lagi dengan pilihan Merdeka atau Gabung NKRI. Karena sudah jelas mereka akan memilih MERDEKA. Karena mereka PINTAR, merdeka berarti lepas dari orang-orang yang JUMUD dan NON-Kreatif.
Coba direnungkan dengan masak-masak, terima kasih.
Bisa mencontoh presiden Gamal Abdul Nasser adalah isapan jempol belaka, atau khayalan tingkat tinggi setara mimpi disiang bolong. Cam kan dengan baik, yang akan saya sebutkan berikut ini :Freeport, Exxon Mobile, Blok Natuna, Blok Ambalat, Timor Timur, Indosat, ...... apakah TIDAK MUNGKIN dinasionalisasi, adakah yang berani seperti presiden Hugo Chavez (venezuela) yang mengusir pemilik modal asing yang "merugikan bangsanya", sekali lagi yang merugikan bangsanya (venezuela) lalu dinasionalisasi, kalau yang mau kompromi dengan Pak Hugo - yang jelas menguntungkan rakyatnya - boleh bercokol disana tetapi dengan pengendalian pemerintah Pak Hugo Chavez, ini luar biasa, tidak seperti Indonesia, negeri yang sangat BANCI dan MALU-MALUIN dalam membela rakyatnya,.....biarlah pembagian hasil yang sangat tidak adil, demi pembangunan - pertanyaanya adakah Insinyur yang berasal dari Indonesia, yang bisa menggantikan tenaga asing yang dibayar mahal itu ?, atau berpuluh-puluh tahun hanya ada orang dungu yang menyandang gelar Sarjana Teknik (Perminyakan, Metalurgi, Pertambangan dll) ?? Adalah hal ini mustahil, banyak jenius produk dalam negeri dari Indonesia asli - bukan orang indo melainkan orang Indonesia - pembagian yang adil adalah 55 pemerintah dan 45 si penyewa/pengelola karena kita yang punya, bukan bagi hasil antara monyet dan manusia, 15 untuk yang punya dan 85 untuk yang menyewa,....bahlul.
Cukup geram kalau saya tuliskan hal ini, tetapi adakah yang ingin menyadarkan diri kalian, menyadari bangsa ini JANGANLAH DIGADAIKAN, janganlah tangan asing yang KOTOR dan KEJAM membasuh-basuh bumi muslim ini dengan perusakan dengan IMBALAN Yang AMAT BESAR (85%),....ayolah realistis, barangkali jaman tahun 1965 mereka masih dibutuhkan dengan sangat karena LULUSAN yang JADI INSINYUR belum banyak, yang expert belum banyak yang mumpuni masih sedikit, tapi sekarang yang jenius sudah berjibun, yang akhli tak terhitung mengapa kita masih saja memakai "mereka", kata yang pas untuk negara yang cerdas adalah PULANGKAN SAJA mereka yang telah sekianlama menjadi benalu di atas bumi nusantara ini, dengan baik-baik ataupun dengan "terpaksa", ini layak bagi sebuah negeri yang sudah merdeka dan mempunyai kemampuan. Mereka ibarat RODA CADANGAN pada sepeda mini - khusus untuk balita - bila sudah bisa mengendarai dengan RODA DUA mengapa RODA CADANGAN masih TETAP DIPASANG ? Sangat menganggu pemandangan dan dipertanyakan fungsinya, atau pantasnya dijadikan barang antik saja, anak lima tahun juga tahu, dikemanakan BARANG YANG SUDAH KADALUWARSA FUNGSINYA,....B-U-A-N-G.
Saya sebutkan apakah ini daftar privatisasi atau malah yang akan dilego ke orang asing. Pertamina, PLN, Industri PUPUK. Kalau semua mau diprivatisasi mengapa kita tidak "menyewa saja orang swasta" untuk menjalankan negeri ini, atau impor orang asing sekalian untuk menjalankan pemerintahan. Berpikir dengan jernih, bukan dengan emosi. Yang terakhir JANGAN PERNAH ADANYA REFERANDUM lagi dengan pilihan Merdeka atau Gabung NKRI. Karena sudah jelas mereka akan memilih MERDEKA. Karena mereka PINTAR, merdeka berarti lepas dari orang-orang yang JUMUD dan NON-Kreatif.
Coba direnungkan dengan masak-masak, terima kasih.
Sabtu, 14 November 2009
Negeriku Kapan Kamu Terjaga
Ingat akan Referandum Timor-Timur yang menjadikan kita "kehilangan" propinsi yang ke 27 yang kita cintai, banyak saudara kita yang disana dari berbagai suku yang ada di Indonesia? Jangan ada referandum lagi - kalau dilakukan secara fair dan jujur pasti deh sebagian besar rakyat Timor Timur memilih menjadi Indonesia, karena fraksi Fretilin sudah lama menjadi "momok" bagi bangsa mereka sendiri - tapi anehnya kenapa mereka menang ???? Ini yang harus diwaspadai bila ada gejala referandum di negeri ini - khusus didaerah konflik, apalagi daerah konflik itu mempunyai Sumber Daya Alam yang melimpah (PAPUA, ACEH, MALUKU, SULAWESI - saya tidak sebutkan konflik apa), tetapi seolah-olah ada skenario yang mendalanginya.......
DAERAH KAYA SUMBERDAYA ALAMNYA HARUS DIBIKIN KONFLIK, DAN USAHAKAN UNTUK REFERANDUM, LALU KITA CURANGI AGAR LEPAS DARI INDONESIA,...TENTU SAJA KEKAYAAN ALAM YANG MELIMPAH ITU AKAN KITA SIKAT HABIS, KITA BUNGKUS, DAN KITA JADIKAN NEGERI PERAHAN KITA.
Apakah yang saya tuliskan ini masuk akal ? Tidak perlu anda berpikir yang "terlalu polos" untuk menghadapi politikus yang kotor - neolib, nekolim (istilah Bung Karno) - yang dengan licik dan licin menggedor setiap celah kelemahan yang ada lalu mereka kuasai setelah "lepas" dari NKRI ini, sekarang apakah kehidupan rakyat Timor Timur lebih baik ??? Saya tidak tahu, tanyakan kepada rakyat kecil mereka, apakah mereka memilih sebagai WNI yang merdeka atau menjadi warga Timor Leste yang "merdeka",...itu bukan hak saya untuk menjustifikasi dan memvonis, biarlah mereka yang menjawabnya, tetapi pada garis besarnya, ada tangan-tangan asing yang kuat yang melanggengkan keberhasilan -faksi fretilin - untuk menguasai negeri Timor Timur itu, dan yang ditinggalkan kepada Para Jenderal Kita adalah DOSA HAM,.... apakah masuk akal kita membela negeri sendiri dari SEPARATIS lalu melanggar HAM ??? Apakah ada bedanya antara membunuh orang tidak berdosa dengan mempertahankan kedaulatan negara ? Atau hanya akal-akalan mereka saja yang berkepentingan menguasai Timor Timur ?? Saya masih menganggap mereka adalah saudara kita, berpuluh tahun mereka bersama kita mebangun bangsa Indonesia,.....kasihan Indonesia.
Saya tidak ingin adanya Timor Leste kedua,... daerah yang kaya sumberdaya alamnya setidaknya harus dikelola oleh pribuminya sendiri, bukan pihak asing yang membiayai "kerusuhan" lalu mengusulkan "referandum" setelah itu dia menguasai daerah itu. Sebenarnya para pemimpin negeri ini telah membaca "gelagat" tersebut sayang tidak ada tindakan yang nyata dari mereka, lebih enak memang mendapat komisi (kecil saja) daripada repot-repot mengeksplorasi dan mengeskploitasi kekayaan alam ini (tiap bulan terima "uang buta"/upeti), padahal anda tahu prosentase dari pembagian itu bukan ?? Saya sebutkan sebagai SATU contoh sangat kecil saja : perusahaan minyak Exxon Mobile berbagi dengan Indonesia (ini ada MOU - perjanjiannya yang sangat jelas jelas merugikan, tapi faktanya tetapi dengan senang hati diparaf, mantap lagi membuat parafnya,...nau'dzubillah min dzalika)....berapa anda menyangka keuntungan bagi hasilnya ? 50:50 ? 60:40 ??? 55:45 ??? tidak, sama sekali tidak mereka yang BODOH mau memaraf (katanya atas nama bangsa indonesia) hanya 85:15, GILA, Gila, gila.......alias keblinger dan menggadaikan bangsa ini, ......tetapi 15% tadi apakah masuk kas negara atau tidak? Tidak ada yang tahu yang jelas ini SANGAT MERUGIKAN, bertentangan dengan pasal 33 UUD 1945, dan yang jelas HAK bangsa ini dijual habis. Saudaraku ini baru satu contoh dan ini valid (browsing saja di Google, tentang Freeport, Blok Natuna dll), saya tidak "menentang pemerintah", saya tidak meremehkan semua pihak, tetapi sangat menyesalkan hal yang seperti itu. APAKAH TIDAK ADA ORANG INDONESIA YANG BERTITEL INSINYUR YANG PAKAR DIBIDANG PERMINYAKAN ?? Sehingga "menjual negeri" ini hanya karena ingin KOMISI busuk, kecil mungil itu ????
Kegeramnanku jangan anda anggap sebagai benci pemerintah, saya sangat taat kepada pemerintah, pajak saya bayar, SIM, KTP saya punya dan tidak menyimpan UANG DOLLAR karena saya cinta rupiah ?? Saya kira sudah cukup keterangan saya mengenai BETAPA SAYA CINTA NEGERI INI, biar dikatain negeri korup, negeri bedebah, negeri pendusta, dan sebagainya tetap SAYA LAHIR DISINI, dan jelas kelahiran saya disini tidak dengan CUMA-CUMA mesti ada MISI yang saya emban, dan semoga itu misi yang besar,....ataupun misi yang sangat kecil, tetapi pasti ada rencana Allah Swt, mengapa saya dilahirkan di Indonesia ini ? Bukan di negeri yang lain,....dan mengapa saya menyadari tentang kejanggalan yang terjadi ?? Dan saya bisa berbagi dengan anda yang kebetulan membaca posting ini,...
Untuk pemerintah secepatnya para pemimpin mawas diri dan istghfar (bagi yang muslim), dan bagi yang non-muslim ada cara tersendiri,...jadikan negeri ini "merdeka kembali" bukan negeri terjajah secara terselubung dan selubungnya sangat halus,....
Pak Pemimpin dan Tuan Anggota Dewan,....apakah saya termasuk orang yang naif ?? Atau orang yang progresif - visioner yang sependapat dengan Anda-Anda "yang terhormat",....jadikan diri anda bisa berdikari - lagi-lagi ini istilah Bung Karno, beliau visioner dan pemberani, dan cinta banget Indonesia, dalam beberapa hal saya sependapat dengan beliau, dan beberapa hal saya tidak sependapat, dalam kapasitas belum ada yang seperti beliau di negeri ini tentang keberanian yang beliau tularkan kepada generasi penerusnya. Lantang berbicara tentang ketidak sukaan adanya NEKOLIM - terjadi saat ini - berdiri di kaki sendiri, menjadi orang Indonesia ASLI bukan BONEKA dari bangsa lain yang jelas-jelas mempunyai nafsu menjajah - imperialis - saya tidak akan menyebutkan bangsa mana tetapi sudah kasat mata kita semua tahu akan hal ini,....saya tidak membenci bangsa nya tetapi membenci perilakunya yang menganggap bangsa lain sebagai bangsa perahan, bangsa koloni, bangsa jajahan,....
Solusi : PERTANYAAN APAKAH KITA SUDAH MERDEKA BETULAN ?
JAGA NEGERI INI DARI PERPECAHAN ATAU PECAH SEKALIAN, pilihan ini sangat berat dan jangan sampai terjadi,....
Terima kasih, berbeda pendapat adalah rahmat, dinamika dan lambang kedewasaan, lambang kemerdekaan berpikir yang logis.
DAERAH KAYA SUMBERDAYA ALAMNYA HARUS DIBIKIN KONFLIK, DAN USAHAKAN UNTUK REFERANDUM, LALU KITA CURANGI AGAR LEPAS DARI INDONESIA,...TENTU SAJA KEKAYAAN ALAM YANG MELIMPAH ITU AKAN KITA SIKAT HABIS, KITA BUNGKUS, DAN KITA JADIKAN NEGERI PERAHAN KITA.
Apakah yang saya tuliskan ini masuk akal ? Tidak perlu anda berpikir yang "terlalu polos" untuk menghadapi politikus yang kotor - neolib, nekolim (istilah Bung Karno) - yang dengan licik dan licin menggedor setiap celah kelemahan yang ada lalu mereka kuasai setelah "lepas" dari NKRI ini, sekarang apakah kehidupan rakyat Timor Timur lebih baik ??? Saya tidak tahu, tanyakan kepada rakyat kecil mereka, apakah mereka memilih sebagai WNI yang merdeka atau menjadi warga Timor Leste yang "merdeka",...itu bukan hak saya untuk menjustifikasi dan memvonis, biarlah mereka yang menjawabnya, tetapi pada garis besarnya, ada tangan-tangan asing yang kuat yang melanggengkan keberhasilan -faksi fretilin - untuk menguasai negeri Timor Timur itu, dan yang ditinggalkan kepada Para Jenderal Kita adalah DOSA HAM,.... apakah masuk akal kita membela negeri sendiri dari SEPARATIS lalu melanggar HAM ??? Apakah ada bedanya antara membunuh orang tidak berdosa dengan mempertahankan kedaulatan negara ? Atau hanya akal-akalan mereka saja yang berkepentingan menguasai Timor Timur ?? Saya masih menganggap mereka adalah saudara kita, berpuluh tahun mereka bersama kita mebangun bangsa Indonesia,.....kasihan Indonesia.
Saya tidak ingin adanya Timor Leste kedua,... daerah yang kaya sumberdaya alamnya setidaknya harus dikelola oleh pribuminya sendiri, bukan pihak asing yang membiayai "kerusuhan" lalu mengusulkan "referandum" setelah itu dia menguasai daerah itu. Sebenarnya para pemimpin negeri ini telah membaca "gelagat" tersebut sayang tidak ada tindakan yang nyata dari mereka, lebih enak memang mendapat komisi (kecil saja) daripada repot-repot mengeksplorasi dan mengeskploitasi kekayaan alam ini (tiap bulan terima "uang buta"/upeti), padahal anda tahu prosentase dari pembagian itu bukan ?? Saya sebutkan sebagai SATU contoh sangat kecil saja : perusahaan minyak Exxon Mobile berbagi dengan Indonesia (ini ada MOU - perjanjiannya yang sangat jelas jelas merugikan, tapi faktanya tetapi dengan senang hati diparaf, mantap lagi membuat parafnya,...nau'dzubillah min dzalika)....berapa anda menyangka keuntungan bagi hasilnya ? 50:50 ? 60:40 ??? 55:45 ??? tidak, sama sekali tidak mereka yang BODOH mau memaraf (katanya atas nama bangsa indonesia) hanya 85:15, GILA, Gila, gila.......alias keblinger dan menggadaikan bangsa ini, ......tetapi 15% tadi apakah masuk kas negara atau tidak? Tidak ada yang tahu yang jelas ini SANGAT MERUGIKAN, bertentangan dengan pasal 33 UUD 1945, dan yang jelas HAK bangsa ini dijual habis. Saudaraku ini baru satu contoh dan ini valid (browsing saja di Google, tentang Freeport, Blok Natuna dll), saya tidak "menentang pemerintah", saya tidak meremehkan semua pihak, tetapi sangat menyesalkan hal yang seperti itu. APAKAH TIDAK ADA ORANG INDONESIA YANG BERTITEL INSINYUR YANG PAKAR DIBIDANG PERMINYAKAN ?? Sehingga "menjual negeri" ini hanya karena ingin KOMISI busuk, kecil mungil itu ????
Kegeramnanku jangan anda anggap sebagai benci pemerintah, saya sangat taat kepada pemerintah, pajak saya bayar, SIM, KTP saya punya dan tidak menyimpan UANG DOLLAR karena saya cinta rupiah ?? Saya kira sudah cukup keterangan saya mengenai BETAPA SAYA CINTA NEGERI INI, biar dikatain negeri korup, negeri bedebah, negeri pendusta, dan sebagainya tetap SAYA LAHIR DISINI, dan jelas kelahiran saya disini tidak dengan CUMA-CUMA mesti ada MISI yang saya emban, dan semoga itu misi yang besar,....ataupun misi yang sangat kecil, tetapi pasti ada rencana Allah Swt, mengapa saya dilahirkan di Indonesia ini ? Bukan di negeri yang lain,....dan mengapa saya menyadari tentang kejanggalan yang terjadi ?? Dan saya bisa berbagi dengan anda yang kebetulan membaca posting ini,...
Untuk pemerintah secepatnya para pemimpin mawas diri dan istghfar (bagi yang muslim), dan bagi yang non-muslim ada cara tersendiri,...jadikan negeri ini "merdeka kembali" bukan negeri terjajah secara terselubung dan selubungnya sangat halus,....
Pak Pemimpin dan Tuan Anggota Dewan,....apakah saya termasuk orang yang naif ?? Atau orang yang progresif - visioner yang sependapat dengan Anda-Anda "yang terhormat",....jadikan diri anda bisa berdikari - lagi-lagi ini istilah Bung Karno, beliau visioner dan pemberani, dan cinta banget Indonesia, dalam beberapa hal saya sependapat dengan beliau, dan beberapa hal saya tidak sependapat, dalam kapasitas belum ada yang seperti beliau di negeri ini tentang keberanian yang beliau tularkan kepada generasi penerusnya. Lantang berbicara tentang ketidak sukaan adanya NEKOLIM - terjadi saat ini - berdiri di kaki sendiri, menjadi orang Indonesia ASLI bukan BONEKA dari bangsa lain yang jelas-jelas mempunyai nafsu menjajah - imperialis - saya tidak akan menyebutkan bangsa mana tetapi sudah kasat mata kita semua tahu akan hal ini,....saya tidak membenci bangsa nya tetapi membenci perilakunya yang menganggap bangsa lain sebagai bangsa perahan, bangsa koloni, bangsa jajahan,....
Solusi : PERTANYAAN APAKAH KITA SUDAH MERDEKA BETULAN ?
JAGA NEGERI INI DARI PERPECAHAN ATAU PECAH SEKALIAN, pilihan ini sangat berat dan jangan sampai terjadi,....
Terima kasih, berbeda pendapat adalah rahmat, dinamika dan lambang kedewasaan, lambang kemerdekaan berpikir yang logis.
Senin, 02 November 2009
Jaga Anak Istrimu dan Bahaya Televisi
Televisi adalah Dewa,....
Televisi adalah Master Hypnotis
Televisi adalah Tong Sampah
Televisi adalah Biang Gosip
Televisi adalah Tabung Terkutuk
Televisi adalah Pembuat Keblinger
Televisi adalah Brain Washer
Televisi jauhilah dia, sebelum anda KECANDUAN dengan nya,....
Televisi adalah Teladan Berbuat Kriminal
Televisi bisa mendidik, tapi kebanyakan memberikan didikan jahat
Televisi adalah Banyak Tayangan Amoral
Televisi adalah Cermin Retak, dan AmbiguitasKompleks
Televisi adalah Corong Setan, bagi yang terlena
Televisi adalah Tabung Pembuat Malas, termasuk malas membaca
Televisi adalah Pembodohan
Televisi adalah Gambar Penggoda (balita kita)
Televisi adalah Inang Pengasuh Yang Jahat
Televisi adalah Pendidik Sesat Yang Ulung
Televisi adalah Pendoktrin Opini Kita
Televisi adalah Pemerkosa Kemerdekaan Berpikir Kita
<<<<<>>>>>
Mengapa barang BEGINI BERBAHAYA di SAJIKAN untuk anak-anak kita ??
Bila belum bisa tidak menontonnya, kurangilah menontonnya, banyak hal yang lain yang lebih penting dalam hidup ini daripada NONTON TV,....buang-buang waktu dan anda menjadi terbelenggu dengannya, bukan saya anti televisi, bukan saya mengharamkan televisi, tapi saya menawarkan sedikit gambaran BAHAYA nya televisi. Tidak ada provokasi, tidak ada hasutan dan tidak ada maksud buruk saya,....memperingatkan orang lain bukanlah sebuah kejahatan bukan ?
Dan tidak terbantahkan bahwa saya juga merasa menjadi korbannya. Berhenti kecanduan televisi dan mulailah dengan kehidupan nyata yang memang sulit tetapi lebih nyata dan kita bisa mengubahnya menjadi lebih baik.
Mengapa anda membenci seorang artis misalnya hanya gara-gara dia bergonta-ganti pasangan dan sombong, padahal KENYATAANNYA artis tersebut TIDAK KENAL ANDA, dan ANDA PUN TIDAK KENAL MEREKA LANGSUNG, ketemu pun belum....jadi apakah ini sebuah KEBAIKAN menurut anda, apakah akal jernih anda telah dipelintir ????
Saya memberi gambaran dan anda bisa memilah dan memilihnya.
Bukan provokasi, sebuah kesadaran akan timbul dari perbedaan yang anda lihat, dengan pikiran yang sehat, sekali lagi pikiran yang sehat. Bukan dari luar kesadaran anda.
Terima Kasih
Televisi adalah Master Hypnotis
Televisi adalah Tong Sampah
Televisi adalah Biang Gosip
Televisi adalah Tabung Terkutuk
Televisi adalah Pembuat Keblinger
Televisi adalah Brain Washer
Televisi jauhilah dia, sebelum anda KECANDUAN dengan nya,....
Televisi adalah Teladan Berbuat Kriminal
Televisi bisa mendidik, tapi kebanyakan memberikan didikan jahat
Televisi adalah Banyak Tayangan Amoral
Televisi adalah Cermin Retak, dan AmbiguitasKompleks
Televisi adalah Corong Setan, bagi yang terlena
Televisi adalah Tabung Pembuat Malas, termasuk malas membaca
Televisi adalah Pembodohan
Televisi adalah Gambar Penggoda (balita kita)
Televisi adalah Inang Pengasuh Yang Jahat
Televisi adalah Pendidik Sesat Yang Ulung
Televisi adalah Pendoktrin Opini Kita
Televisi adalah Pemerkosa Kemerdekaan Berpikir Kita
<<<<<
Mengapa barang BEGINI BERBAHAYA di SAJIKAN untuk anak-anak kita ??
Bila belum bisa tidak menontonnya, kurangilah menontonnya, banyak hal yang lain yang lebih penting dalam hidup ini daripada NONTON TV,....buang-buang waktu dan anda menjadi terbelenggu dengannya, bukan saya anti televisi, bukan saya mengharamkan televisi, tapi saya menawarkan sedikit gambaran BAHAYA nya televisi. Tidak ada provokasi, tidak ada hasutan dan tidak ada maksud buruk saya,....memperingatkan orang lain bukanlah sebuah kejahatan bukan ?
Dan tidak terbantahkan bahwa saya juga merasa menjadi korbannya. Berhenti kecanduan televisi dan mulailah dengan kehidupan nyata yang memang sulit tetapi lebih nyata dan kita bisa mengubahnya menjadi lebih baik.
Mengapa anda membenci seorang artis misalnya hanya gara-gara dia bergonta-ganti pasangan dan sombong, padahal KENYATAANNYA artis tersebut TIDAK KENAL ANDA, dan ANDA PUN TIDAK KENAL MEREKA LANGSUNG, ketemu pun belum....jadi apakah ini sebuah KEBAIKAN menurut anda, apakah akal jernih anda telah dipelintir ????
Saya memberi gambaran dan anda bisa memilah dan memilihnya.
Bukan provokasi, sebuah kesadaran akan timbul dari perbedaan yang anda lihat, dengan pikiran yang sehat, sekali lagi pikiran yang sehat. Bukan dari luar kesadaran anda.
Terima Kasih
Langganan:
Postingan (Atom)
KRITIK BUKAN BERARTI BENCI
SUDAH DARI DULU SAYA KRITISI Bagi yang pernah membaca tulisan-tulisan saya dari mulai saya menulis di blog ini, pasti tahu dengan pasti saya...
-
MENJADI ORANG INDONESIA Saat ini menjadi orang Indonesia adalah sangat tidak menyenangkan bagi rakyat Indonesia sendiri. Terpinggir
-
SUDAH DARI DULU SAYA KRITISI Bagi yang pernah membaca tulisan-tulisan saya dari mulai saya menulis di blog ini, pasti tahu dengan pasti saya...
-
MENURUT SAYA INI MENAKUTKAN Kalau ngomong harus hati-hati, kalau posting harus hati-hati, salah-salah bisa dilaporkan polisi, saya tidak p...