Kamis, 23 Oktober 2014

REALITAS PENDAPATAN KELUARGA DAN KEBIJAKAN PEMERINTAH

BBM HARUS NAIK
Sering saya sebagai rakyat kecil sulit untuk mengartikan bahasa "politik" tersebut, BBM HARUS NAIK, dan katanya bila tidak naik - ada yang bilang tadinya BBM disubsidi pemerintah - akan membahyakan kelangsungan negara ini. Tertangkap oleh saya bahwa "hanya punya satu jurus" untuk mengakali "bahaya" yang mungkin timbul dari "beban" subsidi kepada rakyatnya sendiri, yaitu menaikkan BBM. Bahasa politik memang susah dimengerti akan tetapi akibat dari bahasa yang saya sulit mengerti inilah semua kebutuhan yang ada menjadi mahal.  Belum naik BBM saja saya sudah mengencangkan ikat pinggang, kalau anda lihat saya sudah mentok tuh sabuknya - sampai bolongan sabuk terkecil hingga pinggang saya "nawon kemit", karena saking mengencangkan ikat pinggangnya. Yang saya pertanyakan apakah di sana (pemerintah pejabat wakil rakyat dan pegawai negeri lainnya) juga ada upaya untuk mengencangkan ikat pinggang seperti saya. Kalau jurus yang dipakai hanya satu, apakah saya tidak boleh mempertanyakan "kredibilitas" dari pemerintahan yang ada ? Dari dulu BBM menjadi senjata ampuh untuk pencitraan kaum elit politik yang bekerja dengan tidak ikhlas. Sudah selayaknya rakyat mendapatkan subsidi - kalau anda browsing di google apakah ada negara yang tidak memberikan subsidi kepada rakyatnya ? - dan sudah menjadi hak dari rakyat yang selalu membayar pajak (ppn, penghasilan, pembelian produk, Pbb, dll), akan subsidi yang memang seharusnya diberikan kepada kami dari pemerintah. BBM harus naik ? Itu momok bagi kami rakyat kecil dengan penghasilan yang pas-pasan kalau tidak mau dibilang kurang. Karena BBM adalah akar dari semuanya, transportasi, listrik, pabrik, mesin-mesin pertanian, kapal  nelayan, yang semuanya memakai BBM dan semuanya itu juga merupakan penopang berjalannya sembako, paling terasa adalah kebutuhan pokok semakin mahal dan tak terbeli (yang berkualitas layak), kalau kemampuan ekonomi kami memang sudah mapan, subsidi dicabutpun tidak menjadikan masalah, kalau ekonomi kami sudah mapan BBM naik pun bukan merupakan kendala. Akan tetapi kami saja yang bekerja tetap begitu merasakan dampak dari kenaikan BBM ini, apalagi saudara kita yang kebetulan belum punya pekerjaan tetap, kerja serabutan dan bahkan yang masih tunakarya. Keluhan yang tidak berguna ini memang hanya sekedar masukan kepada pemerintah yang berwenang dan seharusnya berempati kepada rakyat. Kalau sekedar BLT menurut saya itu tidak membantu secara permanen, hanya instan dan dampaknya sangat tidak baik. Berikan pancing dan kolam yang ada ikannya, bukan berikan ikannya saja. Itu istilah kami tentang BLT, diberi ikan saja tanpa tahu bagaimana cara menangkapnya, dimana menangkapnya dan bagaimana menjadikannya lebih langgeng, bukan sementara seperti BLT. Adakah ada jurus lain selain menaikkan harga BBM ini ? Perlu ditunggu keputusan pemerintah kita yang baru ini, bila hanya mempunyai jurus yang itu-itu saja, berarti tidak ada perubahan dari dulu hingga kini.

KELUHAN YANG TIDAK ADA MANFAATNYA
Ada yang mengadakan demo tentang kenaikan BBM ini, tetapi apa manfaatnya, karena di demo berapa kalipun tetap BBM ujung-ujungnya naik. Mengeluhpun tidak ada manfaatnya karena subsidi tetap akan dicabut. Terasa bagi kami pukulan-pukulan telak kepada kantong dan dapur kami, belum lagi TDL listrik naik, belum lagi anak-anak sekolah dengan berbagai iuran yang sangat membebani, tapi semua itu hanya saya tuliskan tanpa meminta anda atau pemerintah untuk empati kepada kami. Kami sudah terbiasa dengan hal ini, dengan penderitaan yang tidak semestinya terjadi bila para pemimpin kami adalah orang-orang yang terpilih, cakap, bermoral, dan mau menunaikan amanah yang dibebankan kepada mereka. Tapi ini sepertinya hanya keluhan yang hilang ditelan dunia maya. Mengeluh tidak ada gunanya tidak merubah keadaan, apalagi merubah kebijakan pemerintah yang sudah diputuskan.

REALITAS PENDAPATAN KELUARGA DAN KENAIKAN BBM
Ini menjadikan sebuah ironi bagi saya pribadi, perusahaan tempat saya bekerja dengan adanya kenaikan BBM ini maka ongkos operasional perusahaan menjadi membengkak, secara logika mereka tidak mungkin menaikkan gaji saya dalam waktu dekat-dekat ini, BBM naik gaji tetap, apakah saya boleh mengartikan bahwa gaji saya turun, atau minus? Inilah kenyataan yang sebenarnya dari orang-orang seperti saya tentang kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM, dan kami tidak bisa menolak, hanya menyampaikan informasi dan aspirasi, inilah dampak yang terjadi dengan pendapatan saya sehubungan dengan pengurangan atau pencabutan subsidi BBM (yang mengaikbatkan kenaikan harga BBM), dan kami sudah mengikat ikat pinggang lebih kencang lagi, semoga tidak terjadi pada anak cucu saya kelak, cukup orang  tua seperti saya saja yang mengalami ini. Pemerintah seharusnya memberi subsidi kepada masyarakat - sudah menjadi kewajiban pemerintah dan menjadi hak rakyat - bukan malah memutar-mutar subsidi untuk kepentingan yang kami sendiri tidak paham apa akibatnya kalau tidak menaikkan BBM (subsidi tetap diberikan kepada rakyat). Tidak ada solusi dari rakyat kecil, solusi datangnya dari pemerintah dengan kebijaksanaan yang menimbang-nimbang hati nurani dan perasaan rakyat kecil (amanah penderitaan rakyat). Apakah ini akan terjadi dengan baik, atau tetap dalam koridor seperti biasanya, tetap saja kami sebagai rakyat kecil dalam posisi yang tidak pernah menguntungkan. Sudah obyek, ditambahi lagi dengan obyek penderita.Saya lupa bahwa saya masih warga negara republik Indonesia yang hak-haknya tidak bisa terambil karena keterbatasan saya sendiri, dan perlu anda tahu saya tidak akan komplain kepada siapapun, akan taat hukum, dan tidak berbuat yang aneh-aneh, saya manut saja dengan pemerintah apapun kebijakan yang dilakukan oleh mereka. Semoga menjadikan bangsa Indonesia tambah makmur merata dan sejahtera lahir batin. Harapan selalu ada.

Selasa, 23 September 2014

HARAPAN AKAN SEGERA JAYA NEGERI INI

MERDEKA SUDAH LAMA TAPI APAKAH KITA MEMANG SUDAH MERDEKA
Saya - bukan kita - memang merasakan bahwa negeri ini merdeka sudah lama, hampir satu abad, (lebih tua dari umur saya sekarang) , kalau dibuat sebuah generasi barangkali sudah dua atau tiga generasi berlalu, Tetapi buah dari kemerdekaan ini yang Presiden Soekarno sebutkan merupakan "jembatan emas" menuju cita-cita bangsa (adil makmur dan sejahtera yang merata). Namun memang dalam perjalanan negeri ini banyak sekali rintangan dan hambatan yang disebabkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab terhadap negeri ini, hanya memikirkan diri sendiri dan golongan (dalam hal ini barangkali partai), dengan tindakan yang kurang terpuji - korupsi dan kolusi - dan yang sangat membuat saya khawatir adalah menjadi "pelayan bangsa asing" yang membuat mereka seperti "benalu", yang tidak mungkin menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang maju. Mana ada tumbuhan yang terkena benalu akan tumbuh subur ?, dan benalu memang sangat mirip dengan pohon inang. Berbeda dengan benalu yang sesungguhnya bahwa benalu yang dilakukan oleh "pelayan asing" adalah bukan untuk tumbuh dirinya sendiri melainkan untuk melanggengkan jalan dari "tuannya". Ini sudah lama terjadi, yang lagi-lagi Bapak Proklamator merasa khawatir akan terjadinya neo kolonialisme dan neo liberalisme. Sayang, kekhawatiran beliau sudah terjadi, dan apa yang dilakukan pemerintah memang sampai saat ini belum memuaskan, dan kita tahu mereka kerja, dan berusaha membuang benalu-benalu ini, koruptor (dengan KPK nya), tetapi memang lagi-lagi belum memuaskan hasil kerja mereka. Ini menjadikan kita memang setiap tanggal 17 agustus memperingati kemerdekaan negeri ini, sejatinya memang hanya sekedar seremonial saja - lha kenyataannya yang merdeka belum banyak kok - dan yang merasakan kesejahteraan di negeri ini hanya sedikit orang. Jauh dari kata merata. Padahal bangsa ini begitu besar sumber daya alamnya, yang jelas-jelas akan mampu membiayai semua orang Indonesia bila diatur dan dikelola dengan baik. Jembatan emas, itu apakah memang sudah dilupakan ataukah memang hanya berpindah dari kolonialis yang satu ke kolonialis yang lain. Apakah anda merasa sudah merdeka ? Apakah itu hanya perasaan anda saja ? 

KORUPTOR MEMANG MUSUH UTAMA, DAN BENALU ADALAH MUSUH DALAM SELIMUT
Kalau menangkap koruptor memang sudah ada lembaganya KPK, bagaimana dengan menangkap para "pelayan asing" yang ingin menjadikan bangsa ini menjadi miskin...? Ini yang menjadi PR buat pemerintahan mendatang. Musuh utama memang koruptor dan kita sudah tahu cara memeranginya, bagaimana dengan musuh dalam selimut ini, yang bahaya dan "sepak terjanganya" tidak lebih kecil dari para koruptor. Sayang mereka adalah sangat licin dan halus dalam "berfusi" dengan pemerintah, jabatan yang sering diberikan kepada mereka kok yang biasanya yang strategis - sekitar ekonomi dan keuangan -  yang membuat kebijakan sering tidak memihak rakyat, tapi malah memberikan jalan yang lebar dan mulus bagi tuan-tuan mereka. Membuat bangsa ini menjadi dari bangsa ketimuran, menjadi  bangsa yang liberal. Dan tambah jauh untuk merasakan kemerdekaan yang hakiki. Jembatan emas yang tidak dimanfaatkan dengan baik, malah ditelikung oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan menjadi "kolonialis" bagi bangsa sendiri, dengan mengkhianati bangsa sendiri demi ego dan tuan-tuan yang mereka layani.

SOLUSI
Rakyat kecil seperti saya memberikan solusi hanya berdoa dan menggukan hak pilih yang baik dalam pemilu, agar bisa menjadikan pemimpin yang amanah dan bisa membuang duri-duri dalam daging negara ini. Harapan ini memang tulus, bukan memvonis, bukan menghujat. Adalah PR dari pemerintah mendatang yang bisa menjadikan bangsa Indonesia "BENAR-BENAR MERDEKA" bukan seperti yang terjadi seperti saat ini. Semoga menjadi pemikiran bersama. 

NB:
Boleh anda lihat di wikipedia link ini. Tentang Mafia barkeley dan oknum-oknum yang serupa.

Selasa, 09 September 2014

UNDANG-UNDANG ITE, UNTUK MEMBUAT BLOGGER LEBIH BAIK

MENURUT SAYA INI MENAKUTKAN
Kalau ngomong harus hati-hati, kalau posting harus hati-hati, salah-salah bisa dilaporkan polisi, saya tidak paham akan UUD ITE yang telah lama di undangkan - kalau enggak salah tahun 2009 yang lalu - tapi yang jelas dengan kejadian yang lalu di yogyakarta (FS ) dan di bandung (KS) dan bila saya terawang jauh lebih lama lagi ada satu nama (P), itu semua yang telah terkena akibat dari "kurang lebih" kurang hati-hatinya mereka dalam dunia maya yang katanya luas dan tanpa batas ini. "Tanpa batas ?" Sekarang tidak lagi, kita harus "extra waspada" dengan adanya UUD ITE ini. Kalau saya sebagai seorang blogger tentu saja menjadi takut, kikuk menjurus was-was, bagaimana tidak was-was beropini bisa dilaporkan ke polisi. Ranah maya menjadi ranah nyata bahkan di ranah hukum. Dan ketika dunia maya bisa diarahkan ke ranah hukum, ini bagi saya menjadi sangat menakutkan.

SASARANNYA SEHARUSNYA PARA KRIMINAL BUKAN ORANG YANG SEDANG GALAU
Hukum adalah buta (lihat lambangnya adalah timbangan dengan seorang wanita yang ditutup kedua matanya, artinya tidak memandang bulu, siapapun sama dimuka hukum), dan demikian pula dengan undang-undang. Kita sebenarnya mengetahui  kategori yang "kriminal murni" di dunia maya dengan orang yang "sementara" galau - bisa marah geram (seperti kasus FS di yogya) atau iseng , sengaja memancing untuk ditangkap (seperti kasus KS di bandung), di dunia maya,......tapi kejadianya memang sudah berlalu, ya sudahlah. Semua produk harus kita hormati, undang-undang dibuat tentu saja untuk menertibkan. Akan lain jadinya kalau tidak ada undang-undang, semua semrawut dan semuanya kacau. 
Tapi dalam hati kecil saya masih saja bertanya-tanya bagaimana nasib kita para blogger kalau tidak sengaja "menyinggung" orang lain dengan opini dari posting-posting yang kita buat - misalnya postingan tentang suatu daerah, instansi atau pribadi - kemudian ada pihak yang salah paham dan kemudian tersinggung, dan melaporkan ranah hukum, bagaiman nasib kami ? Apakah nasib kami akan sama dengan para kriminal ? padahal kami para blogger sama sekali jauh dari pikiran yang demikian, apakah UU ITE ini bisa disandingkan dengan Kode Etik Jurnalistik ? Para blogger layaknya wartawan (jurnalis) yang kadang membuat posting bukan hanya berdasarkan opini, tetapi berdasarkan laporan/survey seperti yang dilakukan para wartawan untuk membuat blognya ramai dikunjungi. Sayangnya blogger tidak sama dengan wartawan, dan inilah salah satu ketakutan para blogger. Saya tidak tahu dinegara lain apakah "seketat" di negeri ini. Orang memaki-maki di dunia maya kemudian yang dimaki merasa tersinggung (mengambil istilah hukum "pencemaran nama baik"), dan yang terjadi anda semua telah mengetahuinya. Si pemaki bisa dimejahijaukan. Tapi tetap saja saya merasa aneh, orang yang suka beropini semacam saya - mungkin semua blogger - yang jelas jauh dari perbuatan kriminal kok ya bisa diperkarakan yang menjurus kepada ranah hukum. Sekali lagi ini sangat menakutkan bagi saya.
Kalau sudah berbuat kriminal murni - membobol akun online, meretas dan mencuri via akun kartu kredit, mata-mata, mencuri ATM, menipu belanja online dan lain sebagainya - barulah mereka yang "layak" ditangkap  karena ada hubungannya dengan cyber crime. Kalau mencemarkan nama baik itu bukankah ada di KUHP ? jadi UU ITE apakah sama dengan KUHP ?, dari kejadian yang lalu  mungkin saja menjadikan "demokrasi online" menjadi sedikit terganjal, apa mungkin nasib para blogger akan sama dengan wartawan surat kabar di jaman orde baru ? Semoga saja tidak terjadi demikian. 

SOLUSI
Solusi saya hanya usul, apakah UU ITE ini memang sudah tidak bisa direvisi lagi ? Dari semua yang terjadi (kasus yang tereskspos) ternyata yang tertangkap adalah mereka yang "marah, komplain dan galau" kemudian menyampaikan unek-uneknya kepada teman-temannya di dunia maya - bikin status, kicauan atau posting, bahkan sending email - dan itu sudah terjadi. Solusi lain adalah kepada kita sendiri para blogger untuk lebih santun, waspada dan jangan menyebut nama ( " anonim" ) saja ketika memposting sesuatu, kecuali itu sudah menjadi rahasia umum (terpublikasi). Terakhir semoga hak para blogger bisa lebih kokoh dilindungi oleh UU ITE ini. Meskipun demikian saya masih tetap merasa was-was.
Terima kasih



Jumat, 15 Agustus 2014

MERDEKA DIRGAHAYU INDONESIA KE 69

KEMERDEKAAN
Arti kata merdeka memang sangat mudah diucapkan, dan bila anda berada di negara yang terjajah barulah akan merasa bagaiamana kata "merdeka" dan "kemerdekaan" menjadi kata yang sangat berharga bahkan sakral. Kemerdekaan adalah jembatan emas menuju cita-cita sebuah bangsa, bagaimana mungkin akan terwujud cita-cita sebuah bangsa bila dalam keadaan terjajah. Dan abad ke 21 ini  masih saja ada negara yang terjajah secara fisik. Anda bisa mengeceknya di internet apakah memang benar-benar masih ada bangsa yang terjajah dan belum merdeka hingga saat ini ? Palestina, Afganistan, Chechnya, Xinjiang, Kashmir, Moro, Pattani dan banyak negara di Afrika yang jelas-jelas belum merdeka secara utuh. Minoritas yang disebut oleh induk negaranya sebagai "separatis" karena sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan induk negaranya, yang mayoritas dan represif. Jadi mereka memang belum benar-benar merdeka.

PENJAJAHAN
Imperialisme adalah paham yang jelas-jelas sangat merugikan manusia - khususnya yang terjajah - dan merugikan kebudayaan manusia pada umumnya, karena terjadi hukum rimba dalam dunia dalam fase imperialisme ini. Dan Indonesia sudah sangat merasakan akibat dan sepak terjang kata-kata itu. Dan mengapa tidak ada momen yang sangat spesial untuk bangsa ini menyadari bahwa kata itu ternyata masih ada, masih lekat dan masih terus menjadi laten yang memaksa berdiri dan jadi benalu bagi bangsa ini. Meskipun demikian dalam bentuk yang tidak sama dengan era yang telah lampau.  Saya menyebutnya sebagai penjajahan fisik, dan sekarang bukan dalam penjajahan tersebut, akan tetapi penjajahan secara non fisik. Psikis, Mental, Moral, Spiritual, dan perang urat syaraf. Banyak dari kita yang tidak menyadari akan hal tersebut. Karena perang ini terlalu halus untuk dirasakan oleh kita semuanya. Dan yang "merasakan" kehadirannya pun tampaknya tidak bisa berbuat banyak. Yang mempunyai kekuasaan pun tidak mampu berbuat banyak, apalagi orang awam yang semacam saya tentu lebih-lebih tidak mempunyai daya untuk "membangunkan orang lain" dari penjajahan yang sangat halus ini. Maka yang terjadi adalah bahwa orang yang menyadari akan adanya penjajahan halus ini akan disebut sebagai orang yang aneh, tidak modis, puritan, extrimis, bahkan teroris. Bukan rahasia lagi bahwa bangsa ini adalah sudah dalam keadaan terjajah dari dulu hingga kini. Orang yang menyadari keadaan ini salah satunya adalah Ir. Sukarno dengan lebih dan kurangnya sebagai bagian dari bangsa ini dan bersamaan dengan itu dia adalah tokoh besar bangsa dan
dunia, apa yang "penjajah" lakukan terhadap beliau ? Masih sama "devide et impera", pecah belah dan kuasailah. Jaman dulu, yang dikuasai adalah fisiknya dan jaman sekarang bukan hanya secara fisik tetapi secara halus dan tidak kasat mata Sejarah sebenarnya menunjukkan kepada kita bahwa  Ir Sukarno "disingkirkan" tahun 65-66 oleh tangan-tangan imperialis atau yang saya sebut sebagai boneka "imperialis halus", yaitu  Suharto,dia naik menjadi presiden ke 2 dengan berbagai  persetujuan dengan pihak asing ("imperialis laten") dan hingga hari ini peninggalan imperialis ini masih saja terbawa-bawa,  bahkan sudah mendarah daging dan semakin kian parah saja. Ini persoalan yang tidak mudah, menjadikan bangsa yang lama sekali terjajah untuk mengartikan kata "merdeka" dengan segala  konsekuensinya.Kita semua mengetahui ini bukan perkara mudah. Sudah 69 tahun kita merdeka, tetapi "merdeka" yang seperti apa yang selama ini kita artikan, yang kita rasakan dan yang kita "kira" sebagai merdeka? Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan dengan segala bentuk (manifestasinya) karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan (Pembukaan UUD 194), ini nyata barangkali kita merdeka hanya sebentar sekitar 7 atau  hanya 10 tahun saja. Penjajahan ditentang oleh semua orang,  terlebih kaum muslimin yang merupakan mayoritas di bangsa ini.

CIRI-CIRI ORANG MERDEKA
Merdeka bukanlah budak. Merdeka adalah kebebasan (freedom), dan mereka yang merdeka tentu memiliki berbagai macam ciri dan  perbedaan dari orang yang masih "terjajah". Sebenarnya saya bisa berpendapat bahwa merdeka adalah secara rohani dan jasmani. Bangsa ini hanya merdeka secara jasmani, belum secara rohani, belum secara mental. Bahkan kita sudah menghasilkan generasi pasca krisis moneter, ini bukan generasi emas, tetapi generasi transisi, sampai dengan sekarang. Generasi transisi inilah yang memenuhi 20-40 tahun bangsa ini, saya tidak yakin dengan stamina mereka menghadapi "imperialis halus" ini. Karena ciri dari orang merdeka adalah jauh sekali dari mereka. Lihat saja, tawuran yang terjadi, lihat saja upload video tak senonoh yang terjadi, lihatlah betapa keuletan mereka adalah sangat lemah. Saya mengatakan ini adalah karena bukan salah mereka, tetapi salah dari pemegang pemerintahan yang membiarkan bangsa ini terjerembab ke dalam jurang krisis yang menganga dalam, bahkan sangat dalam. Ciri orang yang merdeka lahir dan batin adalah berani, bangga dengan bangsanya, dan  nasionalisme bahkan patriotismenya begitu tinggi. Menjadi pribadi bangsa Indonesia yang murni. Bukan bangsa jadi-jadian semacam  sekarang ini. Ciri orang merdeka salah satunya adalah berdikari - berdiri di atas kekuatan kaki sendiri - bukan ditopang dengan berbagai macam kekuatan semu yang penuh pamrih (tendesius). Dan pamrihnya itu kita semua sudah paham. Kalau kita berkaca kepada diri sendiri, apakah kita sudah termasuk manusia yang merdeka ? Pertanyaan yang hanya anda sendiri yang bisa menjawabnya. Masalah anda berdaya atau tidak berdaya bukanlah menjadi soal. Karena bidang yang anda pegang dan geluti ternyata berbeda-beda. Tapi dalam berbangsa ini sudahkah anda menjadikan diri sendiri sebagai pribadi yang merdeka ? Yang bisa menular kepada seluruh penduduk Indonesia ini ? Sehingga secara menyeluruh bangsa ini akan menjadi bangsa yang
"betul-betul merdeka". 

.......DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA.....
17 Agustus 2014....

Kamis, 21 November 2013

BANGGA MENJADI BANGSA INDONESIA

BANGGA MENJADI BANGSA INDONESIA
Bagaimana tidak kita sebagai bangsa adalah salah satu dari bangsa yang gagah berani menentang penjajahan, bahkan sejarah membuktikan seperti sebuah mitos, peristiwa-persitiwa yang terjadi demikian "menggetarkan" dan membuat nyali penjajah menciut, dan dengan pertolongan Allah Swt bangsa ini merdeka, dengan menggunakan "kekuatannya" sendiri. Perlu diingat tidak ada bangsa di asia tenggara ini yang merdeka dengan unik seperti bangsa ini, bangsa yang gagah, bangsa yang penuh patriotisme, bangsa yang menyebah Allah Swt Rabb Al Alaamiin, bangsa yang secara trah adalah bangsa yang mulia, tidak sudi diberi kemerdekaan, tetapi dengan "merebut" dan "memperjuangkan" kemerdekaannya. Bangga menjadi bangsa ini tidaklah sesuatu yang "populer" belakangan ini, apa gerangan yang menjadi penyebabnya ? Telah jelas saya mendengar bahwa "pecinta" bangsa ini yang disebut patriot, nasionalis, negarawan, pemuda harapan bangsa, pemuda indonesia,.....mereka telah "malu untuk mengakui bahwa saya orang Indonesia".

Katakan kepada diri sendiri, apa salahnya menjadi bangsa Indonesia ? Jangan ragu, percaya diri saja, tunjukkan pada dunia bahwa kita bisa seperti mereka, bahkan sumber daya alam kita, iklim kita, semua yang ada di bumi nusantara ini adalah seperti sebuah jannah (surga), jadi apa yang dirisaukan sehingga daya pikir kita, sudut pandang pikir kita menjadi minder (inferior), tiada yang salah menjadi bangsa ini, tidak ada yang pernah merendahkan bangsa ini kecuali jiwa-jiwa dari bangsa ini yang menyurut harga dirinya, kepercayaan dirinya, jiwa patriotismenya, jiwa jihad fiisabilillah nya, dan yang terpenting saat ini kita masih hidup dan masih diberi kesempatan untuk berubah, jangan menunggu orang lain yang berubah, mulailah dari diri sendiri, terus keluarga kita, terus teman kita, terus sampai terjadi konsesus besar bahwa bangsa ini mau berubah menjadi bangsa yang seharusnya, bukan menjadi bangsa yang "tidak selayaknya" semacam sekarang.

CARI PEMIMPIN YANG TUNDUK PADA ILLAHI, BERHATI, BERNYALI, BERBUDI DAN BERINTELEKTUAL TINGGI
Kita terperanjat ketika phonecell pemimpin bangsa kita disadap oleh tetangga jahil bangsa kita, tidak perlu menyebutnya karena berita telah menyebar dan bahkan menimbulkan "gosip" baru untuk melupakan sejenak kasus-kasus yang lebih runyam sebenarnya di dalam negeri sendiri. Baiklah, kita tidak bisa menganggap remeh kejadian "memalukan" ini, kalau bisa dibilang kita sudah "dikacangin" oleh bangsa lain, kalau hanya sekali barangkali tidak menjadi apa, tetapi ini berkali-kali, lalu harus disebut apa ? Kelalaian hanya sekali, iseng-iseng menyadap hanya sekali, kebobolan hanya sekali, tetapi kalau berkali-kali ini menjadi sebuah "bahan" yang sangat serius. Perbuatan "melanggar" norma dengan dilakukan berkali-kali dan tidak pernah "menyesalinya" ini bukan tindakan iseng (prank) lagi, ini jelas-jelas SERIUS. Jangan menyalahkan pihak lain, artinya PELINDUNG DUNIA MAYA bangsa ini haruslah lapang dada dan mengakui "kelemahan" mereka, mengakui "kejadulan" software, hardware bahkan brainware nya, jangan sungkan untuk mundur bila memang tidak bisa bekerja dengan baik, atau dengan kata lain anda layak untuk mundur dari jabatan pelindung dunia maya bangsa ini, kalau tidak mundur pelu bukti apa lagi agar anda tidak dicap gagal ? Tidak ada kesempatan kedua untuk urusan keamanan negara bukan ? Atau pertanyaan saya yang paling sering menggelitik adalah apakah phoncell beliau-beliau tidak diberi semacam "security"? Ini baru menyangkut dunia maya, tetapi karena yang disusupi/diretas/diinfiltrasi/disadap adalah RI 1 (presiden) baik secara pribadi  maupun sebagai pejabat negara, RI 2 apakah kita memang "lahir di jaman jepang" ? sehingga mereka bisa "mengobrak-abrik" "security" dari orang-orang terpenting di negeri ini ?

Memang kalau mau mencari pemimpin itu sulit. Syarat menjadi pemimpin pun ketat, jumlah orang yang bisa dengan baik memimpin jelas sangat sedikit. Kriteria yang paling enak adalah bastotan jismi wal 'ilmi, kuat jasad (tampilan/fisik) dan ilmu. Kekuatan fisik bisa dijelaskan sebagai cerdas, punya nyali, takwa, wibawa, gagah, kharismatik, simpatik, stamina yang sangat prima, kaya, keturunan orang baik-baik, berhati mulia, berbudi pekerti luhur, dan sederet persyaratan fisik lainnya, bisa dilihat. Sedangkan kuat secara ilmu yakni ilmu memimpin, ilmu tata negara, bahasa, diplomasi, visi yang brilian, ilmu politik yang mumpuni, dan masih banyak lagi. Mengapa menjadi pemimpin memerlukan begitu banyak persyaratan ? wajar karena menjadi pemimpin akan mau tidak mau dijadikan teladan oleh orang yang dipimpinnya. Lain halnya menjadi rakyat, tidak perlu syarat yang aneh-aneh, begitu lahir jadilah kita rakyat, tidak sulit. Saya percaya bahwa bangsa ini masih banyak orang yang saya sebutkan bastotan jismi wal 'ilmi tadi.

SOLUSI

Tanamkanlah kebanggaan menjadi bangsa Indonesia ini kepada anak keturunan kita mulai dari usia dini, berilah contoh yang baik kepada generasi kita, berilah bimbingan dengan contoh bukan dengan perintah-perintah yang tidak konsekuen. Bangga menjadi bangsa Indonesia adalah salah satu cara untuk memperbaiki keadaan bangsa ini, bangga bukan takabur dan sombong serta merendahkan bangsa lain, kita menyebutkan "bangga" karena rasa cinta kepada bangsa ini mulai memudar, rasa percaya diri semakin menipis, rasa bangga ini menjadikan kita mencintai bumi nusantara ini. Allah Swt mendengar doa-doa dari kita, meskipun orang meremehkan bangsa ini, yakinlah bila kita semua bertakwa kepada Nya, kita akan dinaikkan derajatnya, orang yang memandang rendah bangsa ini pastilah akan "malu" dan berubah "grogi" bila berhadapan dengan kita. Kapan masa itu akan datang ? Mari mulai dari sekarang, berdoa kepada Allah Swt itu pasti, belajar, bekerja giat, cinta bangsa dan produk sendiri, perkecil impor, dekati pasar tradisional, ke mall boleh tetapi hanya "nongkrong saja" kan ada AC nya, pedagang kaki lima segera membuat kenyamanan kepada pembeli secara sadar dan sebagai pemuda jangan suka tawuran, gunakan energi luar biasa kalian untuk hal-hal yang positif, pramuka, olah raga, kegiatan sosial remaja, dan lain sebagainya. Tidak ada cukupnya untuk menulis harapan yang saya (sebagai orang tua) harapkan dari para pemuda, yang jelas-jelas waktu, jalan dan kesempatannya masih sangat luas. Aku bangga menjadi bangsa Indonesia. Salam hangat...MERDEKA...!!!

Kamis, 24 November 2011

BANJIR BANGKOK SEBUAH PELUANG KITA ?

Banjir Di Bangkok Menjadi Peluang Kita ?
Ketika berbicara komputer tentu saja kita membicarakan hardware, dan salah satu hardware yang penting dalam komputer adalah HARDDISK. Lalu apa pula hubungannya antara banjir Bangkok dengan harddisk dan peluang buat bangsa Indonesia ini ?
Saya hanya bisa berandai-andai,.....jika saja, apabila bangsa ini adalah bangsa yang tidak terlalu banyak "pungli" yang mengatasnamakan :birokrasi: sudah dipastikan para investor dari harddisk yang sekarang sedang terkena banjir di Bangkok pastilah akan "lari" ke Indonesia. Sudah bukan rahasia lagi bahwa Indonesia adalah pasar terbesar di ASEAN dan semua investor juga tahu, akan tetapi ada yang membuat mereka tidak nyaman sama sekali di sini. Dan pejabat sudah barang tentu tahu apakah itu, yakni pungli birokrasi. Dan bila disentil demikian bisa-bisa kita dicap sebagai mencemarkan nama baik dan bisa ditangkap, padahal tidak ada maksud mencemarkan nama baik, yang menjadi maksud dari rakyat kecil seperti saya adalah bahwa STOP PUNGLI BIROKRASI.

Birokrasi untuk mempermudah bukan untuk mempersulit.
Karena pergeseran fungsi dari birokrasi itu sendirilah maka sesuatu yang tadinya diadakan untuk memperlancar dan membantu malah menjadi sesuatu yang memperlambat bahkan menjadi momok bagi para investor (asing terutama), kenapa ? Karena yang dipentingkan dari yang disebut birokrasi disini adalah Uang tempel, amplop mania, dan pelicin, semir dan lain sebagainya yang tidak ada dalam selebaran dan blangko yang diberikan kantor birokrasi untuk membantu para investor, muncul yang tidak ada di dalam blangko membuat orang lain untuk berpikir ulang berinvestasi di Indonesia ini, dan ini adalah rahasia umum. Kalau sudah demikian parahnya maka bisa dikatakan birokrasi bukannya memperlancar seperti tujuan dibentuknya, malah sangat fatal menjadikan birokrasi kita sebagai penghambat nomor satu bagi datangnya investor, terutama investor asing. Nah bagaimana mungkin investor harddisk akan datang ke Indonesia walapun mereka tahu tenaga kerja di sini banyak dan sangat murah, pasar sangat menjanjikan dan masyarakatnya termasuk konsumtif, karena yang menjadi batu sandungan mereka adalah birokrasi kita yang panjaaaaaaang. Untuk membuat satu stempel saja katanya harus melewati beberapa atau banyak kursi, enggak masalah bila hanya melewati, yang menjadi masalah adalah bahwa dalam lewat tersebut harus mengeluarkan pundi-pundi yang tidak tertera di dalam blangko yang diberikan para pejabat birokrat, nah lo....

Pemangkasan Birokrasi dan Birokrat Nakal

Tidak bisa saya mengatakan bahwa semua birokrat adalah seperti di atas, masih banyak yang sholeh dan sesuai dengan undang-undang, kode etik dan sangat mencintai Indonesia dan bertanggung jawab kepada jabatannya. Yang menjadikan birokrasi menjadi pendek dan memangkasnya menjadi ringkas dan mudah, serta keberanian membuang atau memutasi para birokrat bertempat "basah" yang nakal. Bila yang dominan terjadi adalah yang saya maksud - penyederhanaan birokrasi dan tidak ada birokrat nakal - sudah barang tentu Nike, Sony, Wesern Digital (yang sekarang ada di Thailand), Seagate (lagi-lagi yang ada di Thailand) dan beberapa assembling mobil/motor tentunya pada berdatangan ke Indonesia yang tercinta ini. Fair sajalah tidak usah menuduh orang lain lebih begini dan begitu, negeri lain lebih sederhana birokrasinya sekalipun pekerja disana lebih mahal. Daripada datang ke Indonesia, yang dari catatan kertas adalah sangat menguntungkan bila dilihat dari teori pasar, namun kenyataannya malah RUGI besar, karena banyak sekali rintangan dan halangan yang disebabkan oleh birokrasi yang tidak profesional dan memudahkan.
Jadi peluang yang ada di Bangkok hanyalah sebuah pengandaian saya pribadi saja. Bila ada pejabat yang tersinggung, saya tidak bermaksud mencemarkan nama baik anda yang terhormat, bagaimana ini mencemarkan nama anda ? Tidak ada, sebab ini hanya merupakan blog yang penulisnya sangat mencintai negeri ini, bukan ingin mengacaukannya, dan penulis sangat menaruh harapan pada para pejabat untuk bertindak dan berbuat sesuai dengan koridor dan etika yang berlaku, bila anda berbuat demikian kami tentu akan sangat hormat dan menyayangi anda semua, dan saya jamin masalah keuangan anda tidak akan menjadi masalah, logikanya begini, negara menjadi teratur dan maju, bagaimana mungkin kesejahteraan anda tidak akan lebih baik, mobil, motor produksi dalam negeri bagaimana tidak murah, harddisk produksi dalam negeri bagaimana tidak menguntungkan, tekstil produksi dalam negeri bagaimana tidak menguntungkan ? Harapanku tidak pernah saya lepas, sebab nurani birokrat sholeh pastilah akan diwujudkan dalam kesehariannya dan Allah Swt Maha Mendengar doa-doa bagi keberhasilan anda yang kami sampaikan ini. Semoga membuka pintu hati anda semua, terima kasih.

Sabtu, 31 Juli 2010

NEGERI IMPIAN

HANYA KELUHANKU SAJA
Apakah yang akan menjadi pertanyaan anda dan saya akan sama ? Karena posisi dan makom yang berbeda ? Gaji saya tidak naik-naik sedangkan kebutuhan :baca: harga-harga tidak bisa menahan diri untuk melambung. Menjerit dan meronta batin ini menghadapi kenyataan pahit ini tetapi sekali lagi saya tidak berdaya sama sekali. Mungkin berbeda dengan kalian yang makmur dan sejahtera, tidak memikirkan apa yang akan anda makan hari esok. Kebutuhan memang kadang dibawah keinginan atau syahwat kita, tetapi perlu anda ketahui keinginan anda yang makmur dan sejahtera adalah sama dengan kami yang berada dibayang-bayang kemiskinan, tidak ada bedanya, yang membedakan adalah kalian bisa mewujudkan keinginan yang diinginkan sedangkan kami menggantungnya diangan kami dan entah sampai kapan akan kami raih. Lihat kami, yang setiap tahun, bulan, hari bahkan detik selalu was-was kontrak kerja kami habis, dan entah disengaja atau tidak habisnya kok ya sebelum Idul Fitri itu artinya TIDAK ADA THR BUAT KAMI, dan memang demikian adanya kami yang sudah kembang kempis mempertahankan kehidupan yang "sulit" ini ditindih dengan beban-beban keinginan yang sama dengan kalian sementara itu perlakuan yang diberikan kepada kami berbeda antara langit dan bumi dengan kalian. Gaji kalian naik terus, tunjangan, bahkan ada gaji ke 13, apakah anda pikir ini tidak akan membuat kami iri ? Berbesar hati memang selalu menjadi makanan kami sehari-hari, merasa tidak mampu untuk bicara ya kami diam, merasa tidak bisa berontak ya kami menurut,....ini tuntutan hidup bung, yang membuat kami tidak berdaya, anak-anak kami yang kurang gizi (susu tak terbeli orang pintar tarik subsidi, hasilnya kata musikus iwan fals bayi kami kurang gizi), nah ini terjadi dan selalu terjadi, dan memang ini tidak adil. Terjadi disemua negeri dan terjadi di Indonesia, tetapi yang membedakan barangkali, terjadi pada diriku sendiri.
yang menjadikan saya menjadi tambah sesak dada adalah ditengah kesulitan kami ada orang kaya (yang jelas tidak pernah peduli dengan kemiskinan saudaranya) berpesta pora membuang-buang makanan, menghambur-hamburkan uang untuk syahwatnya sendiri,...jangan saya dikatakan suka ikut campur urusan orang lain. Yang menjadi masalah adalah orang itu kita bayar rame-rame lewat pajak yang kami bayar, dan kami tahu kami kelaparan sementara dengan entengnya mereka membuang makanan (yang pantas makan) didepan kami tanpa permisi dan tanpa hati, yang kami tahu mereka bukanlah orang pilihan yang kami kenal, mereka adalah orang yang tidak amanah dan kelak akan kami mintai pertanggungjawabannya diakhirat, dan saya yakin mereka orang yang bisa merugi bila kebiasaan buruk mereka dibawa sampai mati dan belum sempat bertobat. Mereka tidak punya hati, sementara kami sangat lapar, sangat membutuhkan pekerjaan sangat membutuhkan susu untuk balita kami sangat membutuhkan rumah buat kami,....kebisaan mereka hanya menyengsarakan rakyat, menambah beban hidup kami orang-orang kecil, dan tidak sedikitpun mereka berusaha dengan ikhlas sekali lagi dengan ikhlas mau membantu meringankan beban kami, mau memberi setetes embun kelegaan bagi kami, ketenteraman yang secuil pun tidak pernah terpikirkan oleh mereka, apakah mereka bahagia ? Saya tidak tahu, tetapi mereka jelas tidak akan mendapat kebahagiaan yang diperoleh dari penderitaan rakyat,....bukan sebuah kutukan dari kami tetapi sebuah balasan dari Allah Swt.
Saya pribadi tidak menganggur saudara, tetapi tetap saja saya bisa merasakan bagaimana kesulitan yang akan saya peroleh bila keadaan terus-menerus begini, saya seolah tinggal dinegeri angkara murka yang berkuasa, negeri durjana meraja lela tanpa ada yang mampu menolaknya. Negeri bersimbah dosa, negeri impian para syetan, dan daarul bawar, yang ada.....masyaallah, astaghfirullah....
Bagaimana dengan saudaraku yang tidak beruntung tidak mempunyai pekerjaan ? Apakah ada yang perhatian kepada mereka-mereka itu ? Hati-hati kita sudah pada mati, hati-hati kita sudah tidak peduli, tidak mau berkorban untuk saudara yang kekurangan an sangat membutuhkan bantuan,....baru membantu bila menguntungkan partai dan golongan mereka, itupun dikorupsi,....sungguh kejam.

MELIHAT NEGERI IMPIAN YANG AKAN SELALU JADI MIMPI YANG TAK KUNJUNG TERWUJUD
Negeri impian adalah dimana para penguasa dan para alim ulama akan berjalan seiring dengan memberi nasihat yang baik dan para penguasa begitu amanah mengemban tampuk yang dipercayakan rakyat kepadanya, begitu dekat dengan Allah Swt, begitu ikhsan merasakan bahwa tanggung jawab ini tidak semata-mata kepada wakil-wakil rakyat, kepada rakyat tetapi tanggungjawab pribadi kepada Allah Swt. Sehingga tidak ada kezaliman yang diberikan kepada rakyat dan dirinya, dan hukum akan begitu luhur dijunjung tidak tebang pilih dan menjadi sesuatu yang disegani, bukan ditakuti, apalagi sesuatu yang bisa direkayasa. Jalan-jalan tertib, kendaraan lirih suaranya dan tertib jalannya, terlihat ada yang kebut-kebutan ternyata itu hanya ada di arena balapan Formula Satu yang diadakan di sirkuit Sentul saja, bukan dijalan-jalan umum, pejalan kaki nyaman, menyeberang tidak dengan was-was dan buru-buru, semua orang yang melanggar tertangkan kamera CCTV dan ditilang (tidak ada negosiasi yang seperti dinegeri tetangga kita, bukakah damai itu indah, tetapi damai dari tilang akan menimbulkan fitnah). Bagi kami, bila para wakil bekerja dengan berhasilguna dan amanah, tidak ada alasan untuk memberi mereka jatah lebih, kami mengusulkan agar kesejahteraan mereka ditambah, karena kami pun sudah sejahtera. Bukan mereka yang meminta naik gaji, tambah tunjangan sementara mereka "belum kerja sama sekali", atau hasil kerja mereka tidak ada manfaatnya, kecuali membuang-buang waktu dan uang rakyat. Dan ini menjadi sebuah kebiasaan yang akan diwariskan kepada generasi selanjutnya. Maaf bila itu terjadi, kiamat lah itu namanya.
Negeri impian diawali oleh sebuah idealisme yang benar, bukan syahwat dan oportunitas yang bias dan penuh tendensius, orang kita bila nafsu membuat udang dibalikbatu, tidak progresif dan visioner, hanya sebatas nafsunya saja. Idealisme muncul biasanya bila menjadi pejabat dengan bersih, sebagus apapun sistem bila terkena {virus} pastilah akan tidak berjalan dengan baik, bahkan macet atau malah menyimpang dengan sangat jauh. Dan ini terjadi, kesalahan awal dari paradigma kita (bukan saya saja tetapi sebagian besar kita) bahwa untuk menjabat sesuatu "pasti menyuap" bukan dengan jalan yang berkah, tetapi jalan belakang yang didorong syetan. Dan untuk menghentikan ini perlu adanya revolusi, bukan sekedar reformasi, karena form yang terbentuk terdahulu rupanya format yang salah, sehingga direformasi malah tambah amburadul dan kebablasan. Atau ini mencerminkan sempit dan piciknya kita, atau kekalahan kita dari hawa nafsu yang merupakan kendaraan syetan ? Jawaban yang pasti tidak saya temukan, walapun ditemukan entah dimana tempatnya, Ebit bilang tanyakan saja pada rumput yang bergoyang. Jangan menyalahkan orang lain, pejabat atau yang paling penting adalah lihatlah kepada diri sendiri, bahwa melihat kesalahan sudah seyogyanya memberi peringatan, kalau tidak ingat juga beri tindakan tegas, dan itu yang bisa melakukan hanya pemerintahan yang bersih. Kalau pemerintahan yang "terkena virus" tidak akan bisa, malah bisa-bisa ketularan virusnya.
Negeri impian akan terwujud bila jiwa-jiwa didalamnya (terutama pemimpinnya) menyadari bahwa semua tingkah lakunya akan dipertanggung jawabkan diakhirat. Dan bagi para pemimpin bukan saja diakhirat tetapi dihadapan rakyat.Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafuur.
Itu impian kita semua (kecuali yang tidak berani bermimpi), dan kami hanya rakyat kecil yang bisanya hanya bermimpi, tidak lebih.
Terima kasih. Tidak ada intimidasi, tidak ada provokasi tidak ada maksud buruk dalam hati, memberi cerita adalah sebuah usaha melapangakan dada agar menjadi lega, dan berpendapat adalah hak bagi warga negara, tidak lebih dari itu, menyebut nama lalu mendiskreditkan/menghina adalah melanggar hukum, dan sepantasnya sebagai warga negara yang baik mengingatkan pada para pemimpinnya agar berntindah yang amanah, tanpa anarki dan dilakukan dengan elegan.

KRITIK BUKAN BERARTI BENCI

SUDAH DARI DULU SAYA KRITISI Bagi yang pernah membaca tulisan-tulisan saya dari mulai saya menulis di blog ini, pasti tahu dengan pasti saya...